| Renungan hari ini dari bacaan 1 Raja-raja 10:1–10; Markus 7:14–23 “Semua hal jahat ini timbul dari dalam dan menajiskan orang” (Mrk. 7:23). |
Dalam tradisi Yahudi, pembedaan antara yang najis dan yang tidak najis sangat kuat, terutama di kalangan orang Farisi dan para ahli Taurat. Mereka berusaha melaksanakan hukum Taurat secara ketat dan setia pada adat istiadat nenek moyang. Karena itu, aturan mengenai makanan menjadi salah satu tanda kesalehan lahiriah yang penting.
Namun dalam Markus 7, Yesus menempatkan persoalan kenajisan pada tingkat yang lebih mendasar. Ia berkata, “Tidak ada sesuatu pun dari luar seseorang, yang masuk ke dalam dirinya, dapat menajiskannya, melainkan hal-hal yang keluar dari dalam diri seseorang, itulah yang menajiskannya” (Mrk. 7:15). Dengan pernyataan ini, Yesus tidak sekadar mengoreksi praktik keagamaan, tetapi menggeser fokus dari kesalehan lahiriah menuju pembaruan batin.
Kepada orang banyak dan para murid-Nya, Yesus menjelaskan bahwa yang menajiskan manusia bukanlah makanan, melainkan hati dan pikiran yang jahat. Ia memberi makna baru terhadap kata “najis”: kenajisan bukan terutama persoalan ritual, tetapi persoalan moral dan spiritual. Dari dalam hati manusia timbul berbagai niat jahat yang kemudian melahirkan tindakan dosa seperti: percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinaan, keserakahan, kelicikan, iri hati, hujat, kesombongan, dan kebebalan (Mrk. 7:21–23). Kenajisan yang sesungguhnya adalah kerusakan batin yang membuat manusia tidak selaras dengan kehendak Allah.
Dengan demikian, hal-hal lahiriah, termasuk aturan makanan, tidak lagi menjadi ukuran utama kesucian. Yesus menegaskan bahwa Allah melihat hati manusia. Seseorang dapat tampak saleh melalui sikap dan perkataan yang baik, tetapi belum tentu hatinya sungguh mengasihi Allah. Kritik Yesus bukan berarti tradisi itu salah seluruhnya, melainkan bahwa tradisi harus selalu ditundukkan pada kebenaran Firman Allah. Tradisi yang tidak lagi mengarahkan hati kepada Allah justru dapat menutupi inti iman.
Kehendak Allah sejak awal tetap sama: manusia dipanggil untuk mengasihi Tuhan dan sesama, berbuat baik, dan menghadirkan keselamatan bagi orang lain. Dalam hal ini, orang Farisi gagal menangkap pusat hukum Taurat karena terlalu menekankan aturan lahiriah dan mengabaikan pembaruan hati.
Pada zaman sekarang, ukuran kesalehan sering kali masih dilihat dari penampilan luar: aktivitas keagamaan, simbol religius, atau citra moral di ruang publik, termasuk di media sosial. Seseorang dapat terlihat religius, aktif dalam kegiatan rohani, bahkan fasih berbicara tentang iman, namun di dalam hati masih dipenuhi iri hati, ambisi, atau kepentingan diri.
Yesus mengingatkan bahwa akar masalah manusia bukan terutama pada sistem, budaya, atau pengaruh luar, tetapi pada hati yang belum diperbarui. Karena itu, pertobatan Kristen selalu dimulai dari pembaruan batin: memurnikan motivasi, menguji niat, dan membiarkan Firman Tuhan menilai kedalaman hati.
Secara praktis, menjaga hati pada zaman sekarang berarti berani jujur terhadap diri sendiri, memeriksa motivasi di balik tindakan, serta tidak menjadikan praktik keagamaan sebagai sekadar formalitas. Doa, sabda, dan pelayanan seharusnya membentuk hati yang rendah hati, penuh belas kasih, dan bebas dari kepura-puraan.
Tradisi dan kebiasaan religius tetap penting, tetapi nilainya terletak pada kemampuannya menuntun hati semakin dekat kepada Allah dan semakin mengasihi sesama. Tanpa pembaruan hati, tradisi dapat berubah menjadi rutinitas kosong.
Karena itu, sabda Yesus mengajak kita kembali ke pusat kehidupan rohani: menjaga hati. Hati yang dipenuhi oleh kasih kepada Allah akan menghasilkan pikiran yang jernih, perkataan yang membangun, dan tindakan yang membawa kebaikan. Dari hati yang diperbarui, lahir kehidupan yang berkenan di hadapan Tuhan.
Jagalah hati kita, jangan sampai jatuh dalam kenajisan batin.
Tuhan Yesus memberkati.
