Jangan Takut Memberi ( 24 November 2025 )

Renunga hari ini dari bacaan Lukas 21: 1-4; Daniel 1: 1-6, 8-20. “Yesus berkata, Aku berkata kepadamu, sesungguhnya janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberikan persembahannya dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberikan dari kekurangannya, bahkan ia memberikan seluruh nafkahnya” (Luk 21:3-4)

Di lingkungan G ada seorang ibu tua yang hampir setiap hari pergi mengikuti Misa di gereja, baik Misa harian maupun Misa Minggu. Sering sekali ia memberikan uang kepada saya. Kadang saya malu menerimanya karena saya tahu latar belakang kehidupannya. Ia sangat sederhana tetapi baik hatinya. Kalau saya menolaknya, ia tetap merayu saya untuk menerimanya. Saya bisa melihat luapan kebahagiaan di wajahnya segera setelah saya menerima pemberiannya. Menurut ukuran orang berada, pemberian ibu ini tidak seberapa, tetapi menurut saya pemberiannya ini amat berharga karena betul-betul keluar dari usaha kerasnya berjualan sirih, pinang dan kapur sirih di teras pasar RB selama sepuluh hari. Bukan soal banyak atau sedikitnya yang diberikan kepada saya, melainkan soal nilai (value). Saya tak jemu berdoa semoga Tuhan selalu menganugerahinya dengan kesehatan, kebahagiaan dan berkat melimpah.

Dari perikop kita kali ini (Luk 21:1-4) kita mengetahui bahwa Yesus memuji seorang janda miskin yang memasukkan dua uang tembaga ke dalam peti kolekte. “Lalu Ia berkata, ‘Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: janda miskin ini memberi lebih banyak daripada semua orang itu. Sebab mereka semua memberi dari kelimpahannya, tetapi janda ini memberi dari kekurangannya, bahkan seluruh nafkah yang dimilikinya.’” (ay. 3-4)

Janda ini sebenarnya ingin mengungkapkan rasa cinta dan terima kasihnya kepada Tuhan yang selalu memberkati dan melindunginya. Ia percaya bahwa Tuhan selalu menyediakan apa yang ia butuhkan. Tuhan menyiapkan apa yang dibutuhkannya; ia pun percaya Tuhan senantiasa mendengarkan permohonannya. Janda ini merasa bahwa tidak perlu cemas dan takut akan kebutuhan hari esok. Kebutuhan hari esok pasti tetap disiapkan oleh Tuhan, seperti burung di udara, binatang di darat dan ikan di laut; mereka tidak memiliki lumbung untuk menyimpan makanan, tetapi setiap hari mereka tetap mendapat makanan. Tuhan, Pencipta segala sesuatu, senantiasa menyiapkan apa yang selalu dibutuhkan oleh ciptaan-Nya, termasuk manusia.

Janda itu sudah mengajarkan kepada kita untuk selalu percaya kepada Tuhan dan mempersembahkan apa yang kita miliki kepada-Nya dengan tulus hati. Pemberian kita sebetulnya tidak seberapa besar dibandingkan dengan anugerah Tuhan kepada kita. Tuhan selalu menyiapkan apa saja untuk kita; Tuhan pun menyiapkan udara setiap saat untuk kita.

Ketulusan janda dalam memberi menunjukkan kepada kita bahwa makna sejati dari pemberian tidak terbatas pada besarnya jumlah tetapi pada keikhlasan hati dan pengorbanan yang dilakukan demi Tuhan. Ketika menghadapi kesulitan, kita sering merasa tidak mampu memberikan apa pun, baik waktu, tenaga, maupun cinta karena kekhawatiran dengan beban yang berat. Tuhan tidak menuntut kita memberikan sesuatu yang besar atau sempurna. Ia hanya meminta hati kita yang tulus dan percaya penuh kepada-Nya. Ketulusan seperti janda ini mengajarkan kepada kita bahwa di tengah kekurangan dan penderitaan, pemberian yang kecil tetapi penuh iman memiliki nilai yang besar di mata Tuhan.

Pengorbanan kita, segala yang kita berikan, sekalipun kecil, menjadi tanda pengharapan yang mendalam bahwa Tuhan akan mencukupi segala kebutuhan kita. Percayalah, Ia melihat setiap pengorbanan kecilmu dan dari sana Ia akan mencurahkan berkat-Nya.

Maka berikanlah kepada Tuhan dan sesama, meski dalam kekurangan, dengan hati yang tulus dan percaya; sebab Dia adalah sumber kekuatan dan penghiburan kita. Dalam memberi, kita pun menerima sukacita sejati dan berkat yang melimpah.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *