Kasih yang Nyata (14 Mei 2025)

Renungan dari Bacaan: Kis 1 : 15 – 17.20 – 26; Yohanes 15 : 9 – 17
“Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12).

Ketika mendengar kata kasih, hal pertama yang membayang di kepala kita mungkin suasana romantis dan hati yang berdebar-debar. Perasaan yang sulit dilukiskan, campur aduk antara sukacita, rindu, sayang, dan entah apa lagi. Namun, gambaran itu lenyap seketika, ketika kita mendengar kata-kata Yesus: “Inilah perintah-Ku, yaitu supaya kamu saling mengasihi, seperti Aku telah mengasihi kamu” (Yoh. 15:12). Jika kasih itu soal perasaan seperti yang saya bayangkan, bagaimana mungkin saya bisa diperintahkan untuk mengasihi? Dapatkah seseorang, bahkan Allah sendiri memaksa saya untuk memiliki perasaan cinta terhadap seseorang? Bukankah perasaan itu suatu yang muncul secara spontan, dan bukan sesuatu yang dipaksakan dari luar. Bisakah saya memiliki rasa senang dengan seseorang karena disuruh memiliki rasa seperti itu, padahal saya tidak suka sama sekali dengan orang itu? Rasanya sulit.

Perintah Kristus ini menyadarkan saya bahwa kasih yang Ia maksudkan bukanlah pertama-tama tentang perasaan, melainkan tentang perbuatan, tindakan nyata. Untuk berada dalam kasih, saya harus menuruti perintah Kristus: “Jikalau kamu menuruti perintah-Ku, kamu akan tinggal di dalam kasih-Ku, seperti Aku menuruti perintah Bapa-Ku dan tinggal di dalam kasih-Nya” (Yoh. 15:10). Perbuatan kasih ini suatu yang diperintahkan, bukan suatu yang boleh saya pilih. Saya tidak bebas untuk memilih mengasihi atau tidak, siapa yang saya kasihi dan siapa yang tidak perlu saya kasihi. Ia memberi perintah kepada saya agar saya saling mengasihi seperti Ia telah mengasihi saya. Jika saya tidak mengalami kasih-Nya, bagaimana saya bisa mengasihi seperti Dia mengasihi saya.

Pengalaman dikasihi oleh Kristus merupakan dasar, penggerak, dan model saya mengasihi orang lain. Ternyata Ia telah mengasihi saya tanpa syarat. Ia mengasihi saya bukan karena saya pantas dikasihi, bahkan Ia mengasihi saya ketika saya sedang berdosa, artinya menyakiti Dia. Saatnya saya mulai mengasihi orang tanpa syarat: mengasihi orang lain bukan karena ia layak dikasihi. Jika dipikir-pikir, selalu ada saja alasan yang membuat seseorang tidak pantas saya kasihi. Mungkin kata-katanya kasar, sikapnya arogan, cuek, dan suka mengina. Namun, Yesus mengingatkan saya untuk mengasihi mereka semua, bukan karena mereka pantas saya kasihi, tetapi karena Yesus mengasihi mereka, dan saya harus mengasihi seperti Dia mengasihi.

Yesus, saat ini terdapat banyak orang yang saya rasa tidak pantas saya kasihi. Biarkan saya menyebut mereka satu persatu di hadapan-Mu dan berjanji bahwa saya akan mengasihi mereka karena Engkau telah mengasihi saya dan mereka.  Saya berdoa bagi semua yang membaca refleksi ini, agar segala kebencian, sakit hati, dan dendam mereka Kau-ubah menjadi kasih dan pengampun.  Dengan demikian mereka semua menghasilkan buah-buah sukacita.

Penulis

3 Responses

  1. Mengasihi dengan kasih Tuhan, kasih tanpa syarat, tanpa pamrih, tanpa tapi. Kasih yang rela berkorban buat orang lain, walaupun orang itu menyakiti kita. Terimakasih pak Paskalis sudah mengingatkan kembali hari ini tentang kasihnya Tuhan…. Sangat memberkati….

  2. Tks ,telah mengingatkan saya akan KasihNya yg tanpa batas, smg akan selalu menjadi pengingat untuk mengasihi sesama spt Tuhan telah mengasihi saya. 🙏

  3. Terima kasih pak Paskalis, Sungguh Kasih Tuhan luar biasa & tiada batasnya.. semoga kitapun dimampukan untuk mengasihi sesama di tengah2 keadaan dunia yg sedang tidak baik baik saja 🙏🙏

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *