| Renungan hari ini dari bacaan Maleakhi 3 : 1 – 4 ; 4 : 5 – 6; Lukas 1 : 57 – 66. Menjadi apakah anak ini nanti?” Sebab, tangan Tuhan menyertai dia (Luk. 1:66). |
Akan tiba waktunya Tuhan datang untuk menghukum. Ia akan datang secara tiba-tiba dan mengutus utusan-Nya untuk menyiapkan jalan menuju Bait-Nya. Tida ada yang bisa menahan kedatangan-Nya, sebab Tuhan akan datang seperti api yang membakar dan seperti sabun yang membersihkan (Mal. 3:2). Ia akan memurnikan dan membersihkan umat-Nya, sehingga mereka dapat mempersembahkan korban yang benar dan menyenangkan Tuhan. Ia memurnikan kita dari dosa yang telah membelenggu kita. Namun, ketika waktu-Nya tiba, semua akan sia-sia sebab Dia akan datang dalam kuasa-Nya untuk memberikan penghukuman.
Dari sebab itu, selagi masih punya kesempatan kita perlu betul-betul mempersiapkan diri kita untuk menyambut kedatangan-Nya dengan hidup benar dihadapan-Nya dan tetap taat dan setia kepada-Nya. Dengan demikian, ketika waktunya tiba , kita didapati-Nya telah siap menyambut-Nya.
Jangan sampai kita terlena dan asyik dengan diri kita sendiri, menikmati kesenangan duniawi dengan mengejar harta sebanyak-banyaknya. Sebab, manakala waktunya tiba, semua yang kita peroleh akan menjadi sia-sia belaka. Jadi, kita telah membuang kesempatan yang sangat berharga. Kita mengobral waktu kita setiap hari untuk meraih sukses sebesar-besarnya, tetapi kita lupa bahwa ada kehidupan lain setelah kematian. Betapa pentingnya untuk selalu memikirkan dan mengusahakan bukan hanya keselamatan di dunia ini, melainkan, bahkan terutama keselamatan dalam kehidupan kekal. Ironisnya, kita menghabiskan banyak sekali waktu untuk memikirkan dan mengusahakan keselamatan di dunia yang sementara ini, sebaliknya sedikit sekali waktu dan usaha yang kita berikan untuk keselamatan yang abadi, padahal waktunya jauh lebih lama.
Mengingat pentingnya kedatangan-Nya, Tuhan telah menguruh utusan-Nya untuk mempersiapkan jalan di hadapan-Nya. Nabi Maleakhi menubuatkan kedatangan Nabi Elia yang diutus Tuhan menjelang datangnya hari TUHAN yang dahsyat (Mal. 4:5). Lukas menunjukkan Yohanes Pembaptislah Elia yang diutus Tuhan untuk mempersiapkan kedatangan Putra-Nya, Yesus Kristus. Kelahirannya benar-benar merupakan suatu mukjizat bagi orang tuanya, Elisabet dan Zakharia, yang sudah lanjut usia. Kelahirannya mendatangkan sukacita bukan saja bagi kedua orang tuanya, melainkan juga para tetangganya serta sanak saudaranya (Luk. 1:58). Sebab, dalam kelahirannya mereka melihat Tuhan telah menunjukkan rahmat-Nya yang besar kepada mereka. Namun, sukacita terbesar bagi orang-orang di zamannya, dan bagi kita dewasa ini ialah bahwa tugas yang akan diemban oleh Yohanes: “Menjadi apakah anak ini nanti?” Yohanes diutus untuk berjalan mendahului Tuhan, untuk mempersiapkan jalan-jalan Tuhan (Luk. 1:76). Ia memberikan kepada Umat-Nya pengertian keselamatan berupa pengampunan dosa (Luk. 1:77). Dari dialah kita tahu betapa pentingnya bertobat dan memohon pengampunan agar dosa-dosa kita diampuni. Dia menyinari mereka yang tinggal dalam kegelapan maut sehingga mereka menyadari salahnya dan mulai mengarahkan jalannya ke dalam terang, ke dalam damai sejahtera.
Kelahiran Yohanes yang mendahului kelahiran Tuhan menunjukkan betapa pentingnya mempersiapkan diri untuk menyambut kedatangan Tuhan. Sebab, Anak manusia akan datang untuk menghukum mereka yang terlena dan tidak siap menerima kedatangan-Nya. Sebelum semuanya terlambat kita perlu mengubah pola hidup kita agar kita selalu dekat dengan Tuhan dengan cara hidup seturut kehendak-Nya: berbelas kasih dan peduli kepada sesama. Terutama dalam minggu Adven keempat, masa persiapan terakhir ini, kita memiliki kesempatan yang indah untuk merenungkan rencana Allah untuk menyelamatkan manusia yang akan diawali dengan kelahiran Putra-Nya yang tidak lama lagi akan kita rayakan.
Allah tidak ingin kita tersesat dan menyia-nyiakan anugerah istimewa ini. Mari kita mempersiapkan diri baik-baik, melalui pertobatan, hidup berbela rasa, dan tindakan kasih untuk menyambut kedatangan Yesus Kristus.
