| Renungan hari ini dari bacaan 1Yohanes 2:3-11; Lukas 2:22-35.“Siapa yang berkata bahwa ia ada di dalam terang, tetapi ia membenci saudaranya, ia sudah ada di dalam kegelapan sampai sekarang”(1Yoh. 2:9). |
Bacaan 1 Yohanes 2:3–11 dan Lukas 2:22–35 mengajak kita merenungkan bagaimana kasih sejati diwujudkan pertama-tama dalam ketaatan dan kerendahan hati, terutama di dalam keluarga. Santo Yohanes dengan tegas mengatakan bahwa mengenal Allah tidak cukup hanya dengan kata-kata, tetapi harus dibuktikan dengan menuruti perintah-Nya. Perintah itu jelas: hidup dalam kasih. Barangsiapa mengaku berada dalam terang tetapi membenci saudaranya, ia sesungguhnya masih hidup dalam kegelapan. Sabda ini menantang kita untuk melihat kembali relasi-relasi terdekat dalam hidup kita, khususnya di dalam keluarga.
Keluarga adalah tempat pertama di mana kasih Allah seharusnya tampak nyata. Keluarga kita dipanggil menjadi cermin kasih Tuhan melalui sikap saling mengerti, mendampingi satu sama lain, serta menggunakan kata-kata yang ramah dan membangun. Sering kali kita lebih mudah bersikap baik kepada orang luar, tetapi justru kurang sabar kepada anggota keluarga sendiri. Padahal, terang kasih Kristus pertama-tama harus bersinar di rumah: melalui kesediaan mendengarkan, menahan emosi, mengampuni, dan menguatkan dengan kata-kata positif. Kasih yang hidup dalam keluarga, menjadikan kita untuk sungguh menjadi terang bagi sesama.
Injil Lukas menampilkan teladan Keluarga Kudus: Maria dan Yusuf yang dengan rendah hati dan setia menaati hukum Tuhan dengan mempersembahkan Yesus di Bait Allah. Ketaatan mereka tidak didorong oleh kewajiban kosong, melainkan oleh kasih kepada Allah. Mereka tidak menuntut perlakuan khusus, meskipun Anak yang mereka bawa adalah Putra Allah. Dalam kesederhanaan dan ketaatan itulah, Allah menyatakan terang keselamatan melalui Simeon. Teladan Keluarga Kudus mengajak kita untuk meneladani ketaatan pada perintah kasih dalam kehidupan pribadi dan keluarga kita sehari-hari.
Kerendahan hati menjadi kunci utama untuk mampu taat pada perintah kasih Yesus. Tanpa kerendahan hati, kita mudah merasa benar sendiri, sulit mengalah, dan enggan meminta maaf. Namun, dengan hati yang rendah, kita belajar menerima kelemahan diri dan orang lain. Dari situlah kasih dapat tumbuh. Kasih yang sejati menuntut pengorbanan, kesabaran, dan kesiapan untuk terluka, seperti yang dinubuatkan Simeon kepada Maria.
Melalui renungan ini, kita disadarkan bahwa terang Kristus tidak bersinar melalui hal-hal besar, tetapi melalui kesetiaan kecil setiap hari: mengasihi keluarga dengan tulus, menaati perintah Tuhan dengan rendah hati, dan membiarkan kasih-Nya mengalir dari rumah kepada sesama. Dengan demikian, hidup kita pun dapat menjadi cermin terang kasih Allah bagi dunia.
