Kembali kepada Allah dengan Hati yang Rendah ( 13 Maret 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Hosea 14:2–10; Lukas 18:9–14
 
Kebalilah, hai Israel, kepada Tuhan Allahmu, sebab engkau telah tersandung karena kesalahanmu (Hos. 14:2).

Salah satu hukum alamiah yang diketahui oleh semua orang, apa pun suku, agama, dan kepercayaannya, adalah bahwa hidup selalu mengalami perubahan. Tidak ada sesuatu pun yang tetap sama. Waktu berjalan, situasi berubah, dan manusia pun dipanggil untuk terus memperbarui dirinya.

Kedua bacaan Kitab Suci hari ini (Hos 14:2–10; Luk 18:9–14) mengajak kita untuk mengalami perubahan yang paling mendasar dalam hidup, yaitu pertobatan. Bukan suatu kebetulan bahwa bacaan ini kita dengarkan dalam masa Prapaskah, masa yang sering disebut sebagai retret agung bagi umat beriman. Dalam masa ini kita semua diajak untuk berhenti sejenak, melihat kembali hidup kita, dan berani berubah. Bahkan pada tahun ini, pengalaman rohani ini terasa semakin istimewa karena dalam waktu yang hampir bersamaan saudara-saudari kita yang beragama lain, Islam maupun Hindu, juga menjalani masa-masa disiplin rohani mereka. Ini mengingatkan kita bahwa pencarian akan hidup yang lebih baik adalah kerinduan yang dimiliki oleh banyak orang.

Dalam bacaan pertama, Nabi Hosea tampil sebagai nabi yang menyerukan pertobatan. Ia termasuk salah satu nabi kecil yang hidup sekitar tahun 750 SM di Kerajaan Utara Israel, sezaman dengan Nabi Amos. Hidupnya berlangsung pada masa yang sulit, menjelang kehancuran kerajaan itu. Pada waktu itu kehidupan umat Israel dipenuhi berbagai penyimpangan: ibadah yang hanya bersifat lahiriah, penyembahan berhala, ketidakpercayaan kepada Allah, bahkan kekerasan dan pembunuhan.

Pengalaman hidup Hosea sendiri sangat dramatis. Perkawinannya dengan Gomer, seorang perempuan yang tidak setia, menjadi gambaran simbolis hubungan antara Allah dan umat Israel. Seperti Gomer yang berulang kali tidak setia, demikian pula Israel sering meninggalkan Allah. Namun, melalui Hosea, Allah tetap memanggil umat-Nya untuk kembali.

Karena itu, Hosea menyerukan, Kebalilah, hai Israel, kepada Tuhan Allahmu, sebab engkau telah tersandung karena kesalahanmu (Hos. 14:2). Ia mengajak umat untuk datang kepada Allah dengan kata-kata penyesalan dan pertobatan (Hos. 14:3). Menariknya, Allah tidak digambarkan sebagai hakim yang menghukum tanpa belas kasihan. Sebaliknya, Allah digambarkan sebagai pemulih: Ia menyembuhkan penyelewengan umat-Nya, mengasihi mereka dengan sukarela. Bahkan Allah digambarkan seperti embun yang menyejukkan, seperti pohon yang menghijau dan memberi kehidupan. Gambaran-gambaran ini sangat dekat dengan pengalaman hidup masyarakat Israel pada masa itu, sebuah undangan yang menenangkan sekaligus menghidupkan harapan.

Pesan pertobatan ini sejalan dengan Injil hari ini. Dalam Injil Lukas (Luk 18:9–14), Yesus menyampaikan sebuah perumpamaan tentang dua orang yang datang ke Bait Allah untuk berdoa: seorang Farisi dan seorang pemungut cukai.

Orang Farisi datang dengan keyakinan bahwa dirinya benar. Ia memaparkan semua kebaikan yang telah dilakukannya dan secara tidak langsung merendahkan orang lain. Sebaliknya, pemungut cukai berdiri jauh-jauh, bahkan tidak berani menengadah ke langit. Dengan hati penuh penyesalan ia hanya berdoa singkat: “Ya Allah, kasihanilah aku orang berdosa ini.”

Yesus kemudian mengatakan bahwa justru orang yang kedua inilah yang pulang sebagai orang yang dibenarkan oleh Allah. Bukan karena ia lebih baik, melainkan karena ia jujur melihat dirinya sendiri dan datang kepada Allah dengan kerendahan hati.

Dengan demikian kedua bacaan hari ini menyampaikan pesan yang sangat selaras: Allah selalu membuka pintu bagi orang yang mau bertobat. Yang dibutuhkan bukanlah kesempurnaan, melainkan hati yang rendah dan bersedia berubah.

Ketika mendengarkan kedua bacaan ini dalam suasana masa Prapaskah, mungkin doa yang paling sederhana namun paling dalam adalah doa yang lahir dari perumpamaan tadi:

Tuhan Yesus Kristus, kasihanilah aku orang yang berdosa.

Doa yang sederhana ini mengingatkan kita bahwa pertobatan bukanlah peristiwa sekali jadi, melainkan jalan yang terus-menerus kita tempuh setiap hari.

Karena itu, marilah kita menapaki jalan penyesalan, pertobatan, dan permohonan belas kasih Tuhan. Kita dapat memulainya dengan langkah-langkah kecil yang konkret: berani mengakui kesalahan, memperbaiki relasi yang rusak, mengurangi sikap menghakimi orang lain, dan membuka hati untuk dibarui oleh rahmat Allah.

Dengan hati yang demikian, kita menyiapkan diri untuk merayakan Paskah, perayaan kemenangan kasih Allah yang selalu memberi kesempatan baru bagi setiap orang yang mau kembali kepada-Nya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *