| Renungan hari Yesaya 41:13-20; Matius 11:11-15.“Di antara mereka yang dilahirkan oleh perempuan tidak pernah tampil seorang yang lebih besar daripada Yohanes Pembaptis, namun yang terkecil dalam Kerajaan Surga lebih besar daripada dia” (Mat. 11:11). |
Satu hal yang tak dapat disangkal ialah adanya kecenderungan orang zaman sekarang ingin menonjolkan diri. Ada banyak penyebabnya, antara lain: pengaruh media sosial untuk pamer kekayaan/prestasi/gaya hidup atau flexing, ambisi personal untuk sukses, kebutuhan validasi dari orang lain, hingga gejala psikologis seperti narsisme (butuh dikagumi) atau histrionik (selalu ingin jadi pusat perhatian). Selain itu, gaya hidup yang hedonis dapat mendorong seseorang untuk pamer kekayaan. Sebagian orang, karena merasa perlu diakui dan dikagumi, suka melebih-lebihkan kemampuan atau pencapaiannya.
Dalam Injil hari ini Yesus memuji Yohanes Pembaptis sebagai yang terbesar di antara manusia yang lahir di dunia ini, bukan karena ia hebat secara pribadi, tetapi karena ia menjadi “utusan” yang menyiapkan jalan bagi Tuhan. Hidupnya adalah teladan kesetiaan pada kebenaran Tuhan, bukan menonjolkan diri sendiri.
Mungkin timbul pertanyaan dalam hati kita mengapa Yohanes Pembaptis mampu bersikap rendah hati? Ia rendah hati karena menyadari perannya hanya mempersiapkan jalan bagi Yesus, bukan mencari kemuliaan diri sendiri. Bahkan saat orang mengira ia Mesias, ia mengatakan “Ia harus makin besar, tetapi aku harus makin kecil”. Kerendahan hatinya adalah kejujuran dan kesediaannya untuk mundur agar Yesus lebih dikenal. Ia menunjukkan kepatuhan pada panggilan ilahi untuk menjadi petunjuk jalan keselamatan, bukan pusat perhatian. Ia sadar panggilannya adalah sebagai utusan untuk membuka jalan bagi Mesias, bukan menjadi Mesias itu sendiri. Melayani bukan untuk kepentingan pribadi, melainkan untuk kemuliaan Allah yang lebih besar (Ad maiorem Dei gloriam).
Kerendahan hati adalah sikap mengakui ketergantungan pada Tuhan, mengutamakan orang lain daripada diri sendiri, meneladani Yesus yang menjadi hamba, dan takut akan Tuhan. Ini bukan merendahkan diri secara tidak berharga, melainkan mengesampingkan egoisme, menerima kelemahan, dan mencari kemuliaan Tuhan, yang akan mendatangkan kasih karunia dan peninggian dari Allah.
Dalam bacaan kedua, Nabi Yesaya menggambarkan bangsa Israel seperti makhluk kecil yang rapuh. Tetapi, justru dalam kelemahan itulah, Tuhan menunjukkan bahwa kekuatan sejati bukan berasal dari kemampuan manusia, melainkan dari tangan-Nya yang memegang dan menguatkan. Tuhan membuat yang lemah mampu melakukan hal-hal besar bukan karena mereka tiba-tiba menjadi kuat, tetapi karena Ia bekerja melalui mereka.
Begitu juga hidup kita dewasa ini. Ada saat ketika kita merasa seperti “benih kecil” yang tidak berarti, tetapi Tuhan mampu mengubah kita menjadi alat yang berguna bagi dunia.
Kedua bacaan hari ini mengajak kita untuk meninggalkan ego, tidak menonjolkan diri, yang merupakan ciri Kerajaan Dunia, melainkan menyambut Kerajaan Allahmelalui pertobatan, merendahkan diri seperti Yohanes Pembaptis.
Mari kita belajar dari Yohanes Pembaptis, sosok yang sungguh memiliki kebesaran dan kerendahan hati. Kehadiran Mesias disambutnya dengan sukacita, tanpa kecemasan bahwa dirinya akan kehilangan pamor, pengaruh, dan kedudukan. Apa pun karya, pewartaan, pelayanan, dan tindakan kita, mari kita lakukan dengan memegang teguh prinsip ad maiorem Dei gloriam: untuk kemuliaan Allah yang lebih besar. Amin.
Kerendahan hati, sejatinya, haruslah selalu disertai dengan cinta kasih; yakni mencintai, mencari dan menerima hinaan agar berkenan di hadapan Allah, dan menjadi lebih serupa dengan Yesus Kristus; melakukan yang sebaliknya, berarti mengamalkannya seturut perilaku orang-orang kafir. ~ St Fransiskus de Sales
