Ketika Harapan Tidak Sesuai Dengan Kenyataan ( 14 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 35:1-6a.10; Matius 11:2-11. “Di dalam penjara Yohanes mendengar tentang pekerjaan Kristus, lalu menyuruh murid-muridnya bertanya kepada-Nya: “Engkaukah yang akan datang itu atau haruskah kami menantikan orang lain?” (Mat. 11:2-3)

Kita mengenal Yohanes Pembaptis sebagai nabi yang luar biasa berani, tegas, tajam, dan berapi-api. Ia menghardik para pemuka agama Yahudi yang munafik, tidak gentar terhadap para tentara Romawi, bahkan ia berani menegur Raja Herodes. Dialah yang membaptis Yesus dan dia juga orang pertama yang memperkenalkan Yesus kepada semua orang sebagai “Anak Domba Allah.”

Namun,  akhir kisah hidup Yohanes sangat memilukan. Ia masih muda, berusia sekitar 30-an, ketika tiba-tiba kebebasannya dirampas, pelayanannya harus terhenti, dan hidupnya terancam. Ia duduk sendirian di dalam penjara yang gelap, lembab, jorok dan kotor. Nasibnya seperti telur di ujung tanduk, tanpa kejelasan, apakah ia akan segera dieksekusi hukuman mati atau diampuni.

Di dalam penjara ia mendengar tentang Yesus. Kabar yang datang pun tidak sesuai dengan yang ia harapankan. Ia mendengar bahwa Yesus sedang menyembuhkan orang sakit, mengajar tentang kasih, makan bersama pelacur dan pemungut cukai, dan kelihatannya tidak melakukan tindakan radikal yang Yohanes serukan: tidak ada penghakiman bagi orang jahat, tidak ada kelepasan bagi orang tertindas, termasuk dirinya.

Dalam hati Yohanes terjadi pergumulan besar. Ia bertanya-tanya, “Jika Yesus Mesias, mengapa ia tidak melakukan seperti yang aku bayangkan? Mengapa tidak ada keadilan bagiku? Bukankah Mesias seharusnya mengalahkan musuh-musuh Allah dan membebaskan umat-Nya? Mengapa ia tidak datang dan membebaskan aku dari penjara?”

Pertanyaan ini muncul bukan karena Yohanes kehilangan iman, karena ia bukan orang yang mudah goyah. Namun, ia manusia yang sedang mengalami tekanan luar biasa, terkurung dalam gelap. Ia mendengar Yesus melakukan hal-hal yang baik, tetapi tidak satu pun berkaitan dengan nasibnya. Sang Mesias yang ia beritakan tidak membebaskannya, padahal Yesaya bernubuat bahwa Mesias akan membebaskan orang tawanan.

Pergumulan Yohanes mencapai puncaknya. Ia mengirim murid-muridnya kepada Yesus dan bertanya: “Engkaukah yang akan datang itu, atau haruskah kami menantikan yang lain?”

Ini adalah pergumulan iman yang jujur. Ia tulus melayani Tuhan, tetapi tidak melihat Tuhan bertindak sesuai dengan harapannya. Ia berharap dibebaskan, untuk dapat kembali melayani Allah, tetapi malah semakin terhimpit dalam kesesakan. Karena Yohanes, seperti banyak orang Yahudi pada zamannya, membayangkan Mesias sebagai raja dan hakim, sosok yang membawa keadilan, menghukum orang berdosa, menggulingkan penguasa jahat, dan membebaskan bangsa Israel. Yohanes menantikan Mesias yang berapi-api seperti yang ia ajarkan, “Kapak sudah tersedia pada akar pohon.” Namun Yesus tampil berbeda. Ia tidak menghancurkan musuh, tetapi menyentuh yang hancur. Ia tidak membebaskan orang Yahudi dari penjara politik, tetapi membebaskan umat manusia dari penjara dosa. Ia tidak datang dengan pedang, tetapi dengan belas kasihan.

Pergumulan iman Yohanes juga merupakan pergumulan banyak orang Kristen dewasa ini yang sering memiliki ekspektasi tertentu terhadap kedatanga Yesus. Yesus akan mempermudah hidup dan membebaskan dari segala masalah dn melancarkan usaha. Tanpa sadar, mereka menganggap bahwa tujuan Yesus datang adalah untuk “menyelamatkan kehidupan jasmani dan mendirikan Kerajaan-Nya di  dunia ini,” bukan menyelamatkan jiwa. Karena itu, ketika hidup tidak berubah menjadi lebih mudah, banyak orang Kristen mengalami kekecewaan yang sama seperti Yohanes. Mereka bertanya: “Kalau Yesus Tuhan, mengapa hidupku sulit? Mengapa doaku tidak dijawab?”

Masalahnya bukan pada Yesus, tetapi pada ekspektasi kita. Yesus tidak datang untuk menyelamatkan kita dari ketidaknyamanan hidup, tetapi dari kematian kekal. Masalah ekonomi, sakit-penyakit, dan masalah duniawi lainnya merupakan masalah sementara yang dapat diselesaikan oleh siapa pun, termasuk mereka yang di luar Kristus. Hanya Yesus Kristus Yesus yang dapat menyelesaikan masalah karakter dosa kita. Namun, hanya Yesus yang dapat menjamin keselamatan kekal.

Seperti Yohanes, kita harus belajar mengubah cara pandang kita. Kita harus memahami bahwa keselamatan yang Kristus kerjakan bukanlah tentang kenyamanan sementara di bumi ini, tetapi kemuliaan kekal di dunia yang akan datang. Jika harapan kita diselaraskan dengan rencana Allah, iman kita menjadi lebih teguh, dan kita disiapkan menjadi orang-orang yang layak dipercaya masuk dalam Kerajaan Allah. Ketika kita mengerti hal ini, kita dapat berkata dengan iman yang teguh: “Meski hidupku tidak seperti bayanganku, Yesus tetap Juruselamatku, dan itu lebih dari cukup.”

Jadi, ketika Allah tidak mengubah situasi kita, bukan berarti Ia tidak bekerja. Ketika doa kita belum dijawab, bukan berarti Ia tidak peduli. Ketika hidup tidak menjadi lebih mudah, Yesus tetaplah Juruselamat. Justru, dalam saat-saat seperti itu, Ia sedang mengoreksi pengharapan kita supaya kita tidak hanya fokus pada hal yang sementara tetapi dapat melihat bahwa karya keselamatan-Nya jauh lebih luas dari yang kita pikirkan.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

16 Responses

  1. Terimakasih Bu Anne Anggraeni dan Bapak Paskalis. Ini renungan yang luar biasa, ada banyak dari kita mencari Yesus hanya ingin penyakit yang kita derita segera pulih, kehidupan yang berat ingin segera berubah kearah yang lebih nyaman. Orang diluar Yesus bisa juga seperti itu bisa sembuh dari segala sakit penyakit, bisa pulih dari keadaan yang terpuruk. Kita mencari Yesus karena keselamatan kekal. Terimakasih

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *