Renungan dari Bacaan : Kis. 5: 34 – 42 dan Yoh. 6: 1-15 “Lalu Yesus mengambil roti itu, mengucap syukur, dan membagi-bagikannya kepada mereka yang duduk di situ, demikian juga juga dilakukan-Nya dengan ikan-ikan itu, sebanyak yang mereka kehendaki.” (Yoh. 6:11) |
Mari kita sejenak merenungkan kisah yang mungkin sudah sering kita dengar, namun hari ini kita coba melihatnya dari sudut pandang yang sedikit berbeda, terutama mengingat tantangan ekonomi dan gelombang PHK yang sedang kita hadapi bersama. Kita kembali pada catatan Injil Yohanes 6:1-15, tentang bagaimana Tuhan Yesus memberi makan ribuan orang, hanya dengan lima roti jelai dan dua ikan kecil.
Bayangkan diri kita menjadi salah satu dari ribuan orang yang mengikuti Yesus hari itu. Mungkin kita datang dengan harapan mendengar pengajaran-Nya, mencari kesembuhan, atau sekadar ingin tahu lebih banyak tentang sosok yang begitu banyak dibicarakan. Hari mulai senja, perut mulai keroncongan, dan di tengah padang gurun yang luas, tidak ada warung atau supermarket terdekat. Kepanikan mungkin mulai menyebar di antara orang banyak. Bagaimana mungkin memberi makan begitu banyak orang di tempat yang terpencil ini?
Filipus, seorang yang pragmatis, mencoba menghitung-hitung. Dengan nada putus asa ia berkata, “Roti seharga dua ratus dinar tidak akan cukup untuk mereka, sekalipun masing-masing mendapat sepotong kecil saja.” (Yoh. 6:7). Andreas, yang matanya menangkap sosok seorang anak kecil di tengah kerumunan, menghampirinya. Di tangan bocah itu tergenggam bekal sederhana: lima roti jelai yang kasar dan dua ekor ikan kecil yang diasinkan. Dengan ragu, Andreas membawa bekal minim itu kepada Yesus, sambil bergumam, “Di sini ada seorang anak yang mempunyai lima roti jelai dan dua ikan. Tetapi, apa artinya itu untuk orang sebanyak ini?” (Yoh. 6:9).
Namun, di sinilah letak inti penguatan bagi kita hari ini. Yesus tidak melihat pada keterbatasan yang tampak. Ia tidak panik melihat sumber daya yang minim. Ia justru mengambil apa yang ada, lima roti dan dua ikan, dan mengucap syukur kepada Bapa, dan kemudian melakukan sesuatu yang melampaui akal sehat manusia: Ia melipatgandakannya hingga semua orang kenyang, bahkan masih ada sisa dua belas bakul penuh!
Dalam konteks kesulitan ekonomi dan PHK yang sedang kita alami, saat ini, kita mungkin merasa seperti orang banyak di padang gurun itu. Sumber daya kita terasa terbatas, masa depan tampak tidak pasti, dan kekhawatiran akan kebutuhan sehari-hari menghantui pikiran. Kita mungkin merasa apa yang kita miliki saat ini, serba terbatas dan kurang, tabungan yang menipis, pekerjaan yang terancam, atau keahlian yang terasa kurang relevan. Kehidupan kita, mirip seperti lima roti dan dua ikan, di tengah lautan kebutuhan hidup.
Namun, kisah ini mengingatkan kita pada beberapa hal penting. Pertama, Tuhan Melihat dan Peduli pada Kebutuhan Kita. Yesus melihat orang banyak yang lapar. Ia tidak mengabaikan kebutuhan jasmani mereka. Demikian juga, Tuhan melihat dan peduli pada kesulitan ekonomi yang sedang kita hadapi. Ia tidak pernah meninggalkan kita dalam kesusahan. Kedua, jangan Meremehkan apa yang kita miliki. Seperti anak kecil yang membawa bekalnya, kita mungkin merasa apa yang kita miliki saat ini sangat kecil dan tidak berarti. Namun, di tangan Tuhan, bahkan yang sedikit pun bisa menjadi berkat yang besar. Mungkin itu adalah keahlian sederhana, koneksi yang terbatas, atau semangat yang masih menyala. Jangan remehkan potensi yang ada di dalam diri kita. Ketiga, kuncinya adalah ccapan syukur dan penyerahan diri. Yesus mengucap syukur sebelum melakukan mukjizat. Ini mengajarkan kita pentingnya bersyukur atas apa pun yang masih kita miliki saat ini. Ketika kita menyerahkan keterbatasan kita dan apa yang kita punya kepada Tuhan dengan ucapan syukur, kita membuka diri bagi pekerjaan-Nya yang ajaib. Keempat, Tuhan mampu melakukan yang mustahil. Di mata manusia, memberi makan ribuan orang dengan lima roti dan dua ikan adalah hal yang mustahil. Namun, bagi Tuhan, tidak ada yang mustahil. Ia adalah sumber kelimpahan yang tidak terbatas. Dalam situasi ekonomi yang sulit, kita perlu terus percaya bahwa Tuhan memiliki cara-cara yang tidak terduga untuk menolong dan memberkati kita. Kelima, ada tanggung jawab untuk mengelola berkat. Setelah semua orang kenyang, Yesus menyuruh murid-murid-Nya mengumpulkan sisa-sisa makanan. Hal ini mengajarkan kita untuk tetap bertanggung jawab dan bijaksana dalam mengelola berkat yang Tuhan berikan, sekecil atau sebesar apa pun itu. Jangan ada pemborosan, dan belajarlah untuk berbagi dengan sesama yang membutuhkan.
Saudara, di tengah gelombang PHK dan kesulitan ekonomi yang melanda, jangan biarkan ketakutan dan keputusasaan menguasai kita. Ingatlah kisah tentang lima roti dan dua ikan. Ingatlah bahwa Tuhan kita adalah Tuhan yang sanggup melakukan mukjizat. Mari kita datang kepada-Nya dengan segala kekhawatiran dan keterbatasan kita. Mari kita serahkan apa yang kita miliki saat ini dengan ucapan syukur. Mari kita terus percaya bahwa Ia akan menyediakan dan memberkati kita, bahkan di tengah padang gurun kehidupan ini.
Kiranya Roh Kudus terus memberikan kita kekuatan, pengharapan, dan hikmat untuk menjalani masa-masa sulit ini dengan iman yang teguh. Amin.
Penulis

