| Renungan hari ini dari bacaan 1Raja-raja 11:4-13; Markus 7:24-30 “Pada waktu Salomo sudah tua, istri-istrinya itu mencondongkan hatinya kepada ilah-ilah lain, sehingga hatinya tidak sepenuhnya setia kepada TUHAN, Allahnya” (1Raj. 11:4). |
Bacaan hari ini memperlihatkan dua sikap hati yang kontras: Salomo yang jatuh karena kompromi, dan seorang ibu yang diselamatkan karena kerendahan hatinya.
Salomo tidak langsung meninggalkan Tuhan secara drastis. Kejatuhannya terjadi perlahan. Kitab Suci berkata bahwa ketika ia tua, hati Salomo tidak lagi sepenuhnya setia kepada Tuhan. Ia mulai memberi ruang bagi ilah-ilah lain. Inilah kenyataan rohani yang sering kita alami: dosa jarang terjadi karena perubahan besar yang tiba-tiba, tetapi karena kompromi-kompromi kecil. “White lies,” pembenaran diri, menunda doa, menomorduakan Tuhan demi kenyamanan; semua tampak kecil, tetapi perlahan membelokkan hati kita.
Kompromi kecil yang dibiarkan menjadi kebiasaan dapat menjauhkan kita dari Tuhan. Hati yang terbagi akhirnya kehilangan arah.
Namun Injil hari ini menunjukkan sisi lain dari kisah manusia: harapan. Seorang ibu dari Siro-Fenesia datang kepada Yesus memohon kesembuhan bagi anaknya. Ia bukan orang Israel. Secara sosial dan religius ia dianggap di luar. Bahkan ia mendapat jawaban yang tampaknya keras. Namun, ia tidak pergi. Ia tidak tersinggung. Ia tidak menuntut. Ia merendahkan diri dan berkata bahwa remah-remah pun cukup baginya.
Di sini kita belajar sesuatu yang penting: saat kita berdosa, kita sering lupa bahwa Tuhan tetap setia. Ia tidak berhenti menantikan pertobatan kita. Ia menunggu kerendahan hati kita untuk kembali kepada-Nya. Seperti sang ibu itu, kita dipanggil untuk datang apa adanya, membawa luka dan masalah kita, tanpa kesombongan, tanpa merasa berhak.
Kerendahan hati adalah kunci. Dengan rendah hati, kita berani membawa persoalan kita kepada Tuhan dan menantikan rahmat-Nya. Bukan dengan memaksakan kehendak, tetapi dengan percaya bahwa Tuhan tahu yang terbaik. Kadang jawaban Tuhan tidak langsung. Kadang tidak sesuai dengan yang kita minta. Namun, iman sejati berarti menerima jawaban Tuhan – apa pun bentuknya – karena kita percaya pada kasih dan kebijaksanaan-Nya.
Hari ini kita diajak untuk memeriksa hati: adakah kompromi kecil yang perlahan menjauhkan kita dari Tuhan? Jangan menunggu sampai hati menjadi keras. Datanglah dengan rendah hati. Tuhan yang setia selalu membuka pintu bagi mereka yang kembali. Dan dalam tangan-Nya, bahkan remah-remah rahmat cukup untuk memulihkan hidup kita.
