Kuduslah Kamu, Sebab Aku Kudus ( 23 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Imamat 19:1-2, Matius 25:31-46
 “Kuduslah kamu, sebab Aku, TUHAN, Allahmu, kudus” (Im. 19:2b).

Allah itu kudus selamanya, dan Ia ingin semua umat-Nya menjadi kudus. Kekudusan manusia berakar pada kekudusan Allah. Kita tidak diminta menciptakan standar kekudusan sendiri melainkan menyelaraskan hidup dengan karakter Allah. Umat harus menjadi cermin Allahnya, karena Allah yang kita sembah adalah kudus, maka kita pun harus kudus seperti Allah.

Kekudusan ini tidak otomatis. Allah tidak berkata, kamu sudah kudus karena Aku kudus. Ia juga tidak berkata, kelak engkau akan menjadi kudus dengan sendirinya. Panggilan ini bersifat perintah. Bentuk kata kerja dalam ayat ini menunjukkan panggilan aktif, “haruslah kamu menjadi kudus.”

Banyak orang merasa takut ketika mendengar kata “kudus.” Mereka melihat kelemahan, kegagalan, atau dosa dalam diri mereka, lalu berpikir: Saya tidak mungkin kudus. Namun, Tuhan tidak menuntut kesempurnaan instan. Ia memanggil kita ke dalam proses pembentukan.

Kita sedang dibentuk. Kita sedang diarahkan. Kita sedang dipanggil untuk bertumbuh. Karena itu, diperlukan usaha sungguh-sungguh dari kita untuk merespons panggilan itu, agar kekudusan itu menjadi nyata dalam hidup kita. Kekudusan menuntut disiplin dalam ketaatan, pengendalian diri, kesediaan meninggalkan kenikmatan dosa, dan keberanian melawan arus.

Kata “kudus”, dalam bahasa Ibrani qadosh, selain memiliki arti “suci,” “murni,” juga berarti “dipisahkan dari yang lain,” atau “didedikasikan (bagi Allah)”, dikhususkan bagi Allah.

Allah Israel, Allah yang Esa, Allah yang berbeda dengan ilah bangsa-bangsa lain, maka bangsa Israel pun harus menjadi berbeda dari bangsa-bangsa di sekitarnya. Kekudusan bukan sekadar menjadi orang baik. Banyak bangsa lain di sekeliling Israel memiliki hukum yang baik, sistem keadilan yang tertib, dan nilai moral yang tinggi. Namun, yang Allah kehendaki ialah umat-Nya menjadi kudus, dan ini bukan sekadar memenuhi standar kebenaran umum.

Allah tidak hanya menginginkan umat yang bermoral baik. Ia menginginkan umat yang dikhususkan menjadi milik-Nya. Ketika TUHAN berkata, “Kuduslah kamu,” Ia tidak berkata, “Jadilah lebih baik dari bangsa lain.” Ia berkata, “Jadilah milik-Ku, jadilah seperti Aku.”

Allah menghendaki setiap umat milik-Nya menjadi yang berbeda dari bangsa-bangsa di sekitarnya, dari kebiasaan budaya manusia di zamannya. Oleh karena itu, keputusan yang kita ambil, cara kita bekerja, cara hidup, semuanya berada di bawah otoritas Allah. Kekudusan berarti hidup dengan kesadaran bahwa “hidupku bukan milikku sendiri, tetapi milik Allah.” Tidak ada wilayah hidup yang netral, cara kita berpikir, sikap hati dan perasaan, relasi kita dengan sesama, sikap kita terhadap uang dan kekuasaan, semuanya harus diperkarakan dengan Allah.

Di zaman Musa, mereka dilarang meniru praktik bangsa-bangsa kafir di sekitarnya. Hari ini bentuknya berbeda, tetapi prinsipnya tetap sama. Pola zaman ini sering berkata: “Tidak apa melihat video porno, yang penting aku tidak merugikan orang lain.” Padahal, standar benar/salah seharusnya berakar pada karakter Allah. “Tidak apa mengorbankan sedikit integritas demi mendapat kesempatan emas yang tidak datang dua kali”. Padahal, kekudusan berarti tetap berpegang pada kebenaran meskipun harus merugi. “Aku bernilai karena aku punya,” padahal nilai kita bukanlah dari uang, barang yang kita pakai atau status sosial.

Era media sosial juga membentuk pola hidup yang reaktif, cepat menghakimi, sembarangan dalam berkomentar dan menikmati mempermalukan orang lain secara publik. Padahal kekudusan berarti mengendalikan respons, bukan membiarkan emosi kolektif menguasai diri.

Kekudusan itu dimulai hari ini, melalui setiap keputusan kecil untuk menyenangkan hati Allah. Oleh karena itu, sebelum kita beristirahat malam ini, mari kita naikkan doa ini ke hadapan Allah: Bapa, apakah ada perkataan dan perbuatanku yang menyakiti hati-Mu dan sesama di hari ini?

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *