Melangkah dengan “Tas” yang Kosong ( 5 Februari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1Raja-raja 2:1-4.10-12; Markus 6:7-13.Yesus “berpesan kepada mereka supaya jangan membawa apa-apa dalam perjalanan mereka, kecuali tongkat saja, roti pun jangan, kantong perbekalan pun jangan, uang dalam ikat pinggang pun jangan” (Markus 6:8).

Bayangkan pagi ini Anda diminta oleh atasan untuk melakukan perjalanan dinas ke luar pulau, tetapi dengan satu syarat yang sangat aneh: Anda tidak boleh membawa koper, tidak boleh membawa dompet berisi uang tunai atau kartu kredit, bahkan tidak boleh membawa ponsel. Apa yang akan Anda rasakan? Kebanyakan dari kita mungkin akan merasa cemas, takut, atau bahkan marah. Di dunia modern, persiapan adalah segalanya. Kita merasa aman jika memiliki tabungan cadangan, asuransi yang menjamin kesehatan, dan rencana “Plan B” jika rencana utama gagal. Logika manusia mengatakan bahwa bekal yang cukup adalah kunci keberhasilan.

Namun, dalam bacaan Markus 6:7-13, Yesus memberikan instruksi yang sangat bertolak belakang dengan logika dunia. Ia mengutus dua belas murid-Nya untuk pergi memberitakan injil dengan perintah yang sangat ekstrem: jangan membawa apa-apa kecuali tongkat. Roti, bekal, dan uang dalam ikat pinggang pun dilarang. Mengapa Yesus seolah-olah membiarkan mereka berangkat dalam kondisi yang rentan? Apakah Yesus ingin mereka menderita kelaparan? Tentu tidak. Yesus sedang mengajarkan sebuah kurikulum iman yang paling sulit, yaitu ketergantungan total.

Dalam kehidupan nyata saat ini, kita sering terjebak pada pemikiran bahwa kita harus “penuh” dulu sebelum bisa memberi. Kita sering berkata, “Saya baru akan mulai melayani Tuhan kalau posisi saya di kantor sudah aman,” atau “Saya baru mau aktif di kegiatan sosial kalau tabungan masa depan anak-anak sudah cukup.” Kita terus menunggu sampai “tas” kehidupan kita penuh dengan jaminan materi sebelum kita berani melangkah untuk menjadi berkat. Masalahnya, sifat manusia tidak pernah merasa cukup. Jika kita terus menunggu bekal kita penuh, mungkin kita tidak akan pernah melangkah sama sekali.

Mari kita lihat contoh sederhana dalam keseharian. Mungkin Anda merasa tergerak untuk memulai sebuah komunitas kecil di kantor, tempat rekan-rekan kerja bisa saling menguatkan dan mendoakan di tengah tekanan target yang tinggi. Namun, muncul kekhawatiran: Bagaimana kalau saya malah dianggap sok suci? Bagaimana kalau waktu saya untuk bekerja jadi berkurang dan performa saya turun?” Ketakutan ini persis seperti ketakutan para murid saat dilarang membawa bekal. Kita takut kekurangan. Padahal, ketika kita berani melangkah dengan niat tulus untuk berbagi kasih, Tuhan sering kali membuka pintu-pintu penyediaan yang tidak terpikirkan. Mungkin tiba-tiba ada rekan kerja yang menawarkan bantuan, atau justru di tengah kesibukan itu, Tuhan memberikan Anda hikmat sehingga pekerjaan Anda selesai lebih cepat dan lebih baik dari biasanya.

Yesus juga mengutus para murid berdua-dua. Ini adalah pesan penting tentang pentingnya komunitas. Di zaman yang serba individualis ini, banyak orang merasa bisa menanggung beban hidup sendirian. Kita sering malu menunjukkan kerapuhan kita kepada orang lain. Kita ingin terlihat sebagai “superman” atau “superwoman” yang tangguh dan serba punya. Padahal, perikop ini mengingatkan bahwa kita butuh sahabat untuk saling menguatkan. Terkadang, kekuatan sebuah pelayanan bukan terletak pada seberapa hebat materi yang kita miliki, melainkan pada seberapa tulus kita saling mendukung dan mendoakan satu sama lain. Saat kita melayani dalam kesederhanaan dan keterbukaan, orang lain tidak akan memuji “kehebatan” kita, melainkan mereka akan melihat “Kuasa Tuhan” yang bekerja melalui kita.

Satu hal yang tidak kalah penting adalah instruksi Yesus tentang “mengebaskan debu dari kaki”. Di dunia modern yang penuh dengan persaingan dan komentar media sosial, penolakan adalah hal yang sangat mungkin terjadi. Niat baik kita untuk berbagi makanan bisa saja dicurigai. Ajakan kita untuk berbuat jujur di kantor bisa saja dicemooh oleh rekan yang senang mengambil keuntungan pribadi. Yesus berpesan: jangan simpan sakit hatimu. Jangan bawa “debu” kekecewaan itu pulang ke rumah atau ke perjalanan berikutnya. Jika kita terus memikirkan penolakan orang, kita akan kelelahan dan berhenti berbuat baik. Kebaskan saja debunya, lepaskan pengampunan, dan teruslah melangkah ke rumah berikutnya di mana ada orang yang lebih membutuhkan kasih Anda.

Tuhan Yesus mengutus kita hari ini ke “ladang” kita masing-masing, ke meja kantor, ke sekolah anak, ke grup WhatsApp keluarga, hingga ke interaksi dengan tetangga sebelah rumah. Ia mungkin tidak secara harfiah meminta kita membuang dompet atau ponsel kita, tetapi Ia meminta kita untuk tidak mengandalkan semua fasilitas itu lebih daripada mengandalkan Dia. Tuhan ingin kita menyadari bahwa kuasa untuk mengubah hidup orang lain tidak terletak pada seberapa banyak uang yang kita bagikan, melainkan pada kehadiran Tuhan yang menyertai kita.

Mari belajar melangkah meski “tas” kita terasa belum siap. Mari berani membantu meski kita sendiri sedang memiliki beban. Sebab, justru saat tangan kita kosong dari ambisi pribadi, kekuatiran akan masa depan dan kekuatiran akan materi, di situlah tangan kita siap diisi oleh kuasa Tuhan. Tangan yang kosong di hadapan Tuhan adalah tangan yang paling siap untuk dipakai-Nya menyembuhkan hati yang patah dan memulihkan jiwa yang lelah di sekitar kita.

“Tuhan tidak memanggil orang yang sudah mampu, tetapi Ia memampukan orang yang bersedia dipanggil. Keamanan sejati bukan terletak pada apa yang kita bawa di dalam tas, melainkan pada Siapa yang berjalan di samping kita.”

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *