Melayani Orang Dekat ( 9 Juli 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kitab Kejadian 41:55-57; 42:5-7a.17-24a dan Injil Matius 10:1-7
“Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:6).

Kedua belas murid yang dipanggil oleh Yesus disebut rasul (opostolos), artinya orang yang dipanggil dan diutus oleh Yesus (Mat. 10:2). Mereka dipanggil pertama-tama untuk membentuk kelompok dua belas, hidup dalam kebersamaan, dan terutama berada bersama Yesus. Setelah mengalami kebersamaan itu, barulah mereka diutus untuk melakukan tugas misi. Untuk itu mereka dibekali dengan kuasa berupa kemampuan untuk mengusir roh-roh jahat dan menyembuhkan orang-orang dari segala penyakit dan kelemahan (Mat. 10:1).

Yang sangat mengejutkan dalam tugas perutusan ini ialah pesan Yesus yang sepertinya sangat eksklusif: “Janganlah menyimpang ke jalan bangsa lain atau masuk ke dalam kota orang Samaria, Pergilah kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel” (Mat. 10:5-6). Misi mereka dibatasi hanya kepada domba-domba yang hilang dari umat Israel. Mengapa terbatas hanya untuk mereka? Bukankah Kerajaan Surga itu bagi semua orang?

Pesan ini tampaknya menggambarkan perkembangan misi dalam Gereja Purba, khususnya dalam Jemaat Matius. Yesus tidak langsung mengutus para murid ke seluruh dunia. Mula-mula misi mereka hanya di lingkup orang Yahudi, misi intern dalam komunitas. Setelah bait Allah dihancurkan dan jemaat Matius dianiaya serta diusir dari sinagoga (Mat. 10:14), barulah mereka melakukan misi ke luar lingkup Yahudi, misi ke segala bangsa seperti yang diamanatkan Yesus setelah kebangkitan-Nya (Mat. 28:19). Perubahan sasaran misi ini tergambar pula dalam Kisah Para Rasul. Mula-mula para rasul melayani hanya di Yerusalem dan kepada orang Yahudi. Setelah kematian Stefanus (Kis. 7), mereka mulai bergerak ke wilayah Yudea dan Samaria, yang dimotori oleh Filipus (Kis. 8:4-9:31) dan akhirnya ke dunia bukan Yahudi yang dimotori oleh Paulus.

Berkaca dari karya misi Gereja Perdana, perlu juga kita menyadari bahwa misi kita pertama-tama harus dimulai pada orang-orang terdekat, pada komunitas sendiri, tempat di mana kita dikenal dan mengenal. Di lingkungan terdekat kita, juga ada domba yang hilang, mungkin itu saudara, anak, orang tua, atau tetangga kita. Pelayanan perlu dimulai dari rumah, dan justru pelayan ini sering yang paling sulit. Yesus sendiri pernah mengatakan, “Seorang nabi dihormati di mana-mana, kecuali di kampung halamannya dan di rumahnya.” (Mat. 13:57). Tidak jarang seorang pengkhotbah, pengajar atau aktivis Gereja, yang begitu dihargai dan disegani, tatapi dipandang sebelah mata dalam lingkungannya, bahkan dicibir. Tidak sedikit pula yang mengalami hidup rumah tangganya kacau balau. Dalam keadaan yang demikian, seorang pelayan sejati, yang menyadari dirinya dipanggil dan diutus oleh Yesus tidak perlu terburu-buru menyerah dan putus asa. Mereka dituntut untuk sabar, konsisten, dan mungkin seperti para rasul: tidak pertama-tama dengan mengajar, berkhotbah (baru di Mat. 28:19), melainkan dengan menyembuhkan kelemahan dan penyakit mereka, dengan perbuatan dan sentuhan kasih.

Banyak orang dekat kita telah menjadi domba yang hilang dan tersesat, bahkan ingin menyesatkan. Kepada merekalah tugas perutusan kita pertama-tama ditujukan. Bila mereka terus menolak, bahkan mungkin melakukan tindak kekerasan entah dengan kata atau perbuatan seperti yang dilakukan orang-orang Yahudi terhadap para rasul, kita tidak perlu berkecil hati. Medan misi terbuka lebar. Seperti para rasul yang meninggalkan Yerusalem dan mewartakan Kerajaan Surga kepada orang-orang di luar Yerusalem, demikian pula kita diundang bermisi di luar komunitas. Harus diakui bahwa keluarga yang kacau, dan komunitas yang kurang mendukung, merupakan beban tersendiri dalam mewartakan Kerajaan Allah, seperti yang dialami oleh Nabi Hosea. Namun, bila kita tulus dalam malayani, hal seperti itu dapat menjadi kesaksian yang kuat tentang belaskasih Allah.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *