Bacaan : Keluaran 12:1-8, 11-14; Yohanes 13:1-15 “Sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu (Yoh. 13:15). |

Yesus tahu bahwa saat-Nya sudah tiba (Yoh. 13:1). Malam itu adalah saat-saat terakhir Ia memandang wajah-wajah yang sangat Ia kasihi. Wajah-wajah yang selama 3.5 tahun selalu bersama-Nya dalam suka dan duka, siang maupun malam. Makan malam Paskah ini adalah makan malam terakhir-Nya bersama mereka. Namun, murid-murid-Nya tidak menyadari bahwa Ia akan segera pergi meninggalkan mereka.
Seperti pada umumnya orang yang akan pergi jauh atau meninggal dunia, Ia pun memberikan pesan terakhir-Nya kepada mereka. Sebuah wasiat yang Ia sampaikan bukan hanya melalui kata-kata, tetapi juga melalui sebuah tindakan ekstrim, agar pesan itu terpatri dalam ingatan mereka.
Malam itu, ketika mereka tiba di tempat yang telah ditentukan, mereka tidak membasuh kaki mereka sesuai dengan adat yang berlaku. Tidak ada pelayan yang menyambut mereka di pintu masuk untuk membasuh kaki mereka, setelah mereka melepaskan kasut. Tali-temali pada kasut mereka tidak cukup melindungi kaki mereka dari debu, kotoran keledai, kuda dan unta yang lalu-lalang di jalanan kota Yerusalem. Namun, mereka berpikir, “Ah, guru juga tidak terlalu peduli dengan adat istiadat yang berlaku.” Sebab, masih segar dalam ingatan mereka ketika Yesus membela mereka dari orang Farisi yang mengecam mereka karena makan dengan tidak mencuci tangan terlebih dahulu.
Hidangan telah tersedia di meja, dan mereka pun masuk ke ruangan lalu segera duduk mengelilingi meja. Sementara semua murid-Nya duduk, siap untuk bersantap, Yesus mengambil inisiatif dan menjadi pelayan bagi mereka. Yesus bangun dan berdiri. Ia menanggalkan jubah-Nya dan mengambil air yang telah tersedia di sana untuk membasuh kaki mereka satu persatu.
Ia seorang guru, sedangkan mereka murid-murid-Nya. Secara status sosial Yesus lebih tinggi dari mereka semua, tetapi Ia menanggalkan jubah-Nya, melepaskan status sosial itu dan menjadi pelayan bagi mereka. Membasuh 12 pasang kaki yang kotor dan bau. Tidak ada satu pun dari 12 orang murid itu yang berinisiatif untuk membersihkan kaki mereka sendiri, apalagi untuk membasuh kaki teman-temannya. Tidak ada kepedulian, kerendahan hati atau kerelaan untuk melayani satu sama lain. Namun, Yesus bangun dan membasuh kaki mereka satu persatu.
Mereka semua terkejut, dan merasa tidak enak hati, namun tidak mampu berkata-kata. Sampai akhirnya Petrus memecah keheningan, “Tuhan, Engkau hendak membasuh kakiku?” Petrus tahu, tidak lazim bagi seorang guru melayani murid-murid-Nya, karena seharusnya muridlah yang melayani gurunya. Yesus pun menjawabnya, “Kamu menyebut Aku Guru dan Tuhan, dan katamu itu tepat, sebab memang Akulah Guru dan Tuhan. Jadi jikalau Aku membasuh kakimu, Aku yang adalah Tuhan dan Gurumu, maka kamu pun wajib saling membasuh kakimu; sebab Aku telah memberikan suatu teladan kepada kamu, supaya kamu juga berbuat sama seperti yang telah Kuperbuat kepadamu” (Yoh.13:13-15)
Tiga kali Yesus berkata, “Aku Tuhan dan Gurumu,” dan tujuan-Nya melakukan itu adalah memberi suatu teladan, suatu contoh, suatu model untuk ditiru, supaya mereka mengikuti apa yang Ia perbuat malam itu. Yesus seolah berkata, “Aku ingin, kamu mengasihi seperti Aku mengasihimu, Aku rindu melihat kamu melayani dan merendahkan diri satu dengan yang lain.” Bukan sekadar asal meniru dan melakukan ritual pembasuhan kaki. Bukan. Bukan itu esensinya. Melainkan saling mengasihi, merendahkan diri, mengutamakan orang lain, dan melayani sesama dengan rela hati.
Yesus mengasihi mereka, membersihkan kotoran mereka. Yesus melakukan pelayanan yang tidak seorang pun ingin melakukannya, pelayanan yang dihindari oleh mereka semua. Tidak ada yang mau merendahkan diri untuk membasuh kaki sesamanya. Apa yang Yesus perbuat malam itu seperti sebuah simbol dari apa yang akan Ia buat keesokan harinya di kayu salib. Yesus membersihkan kaki mereka dengan air, dan keesokan harinya Ia membersihkan dosa mereka dengan darah-Nya.
Malam itu Ia memberikan contoh kerendahan hati, Ia tidak mempertahankan statusnya sebagai Guru dan Tuhan yang layak untuk dilayani, tetapi melepaskan jubah-Nya, statusnya, posisinya dan mengambil tempat sebagai hamba. Dia tidak menuntut mereka menghormati-Nya, tapi meminta mereka meneladani kasih dan pengorbanan-Nya. Demi keselamatan kita, Yesus rela menanggung dosa dan menutupi kesalahan kita, karena kasih-Nya kepada kita. Ia pun ingin kita meneladani-Nya.
Mari kita renungkan apakah kita lebih suka meneladani Tuhan Yesus yang rela tidak mencari hormat, mengambil tempat pelayanan yang paling hina, ataukah kita justru lebih suka mencari penghargaan dan berburu tempat terhormat. Adakah kita lebih suka memilih-milih pelayanan, mencari spotlight supaya orang tahu apa yang kita lakukan? Renungkanlah yang Yesus sudah lakukan. Apakah selama ini pelayanan kita tidak diperhitungkan, tidak dihargai atau bahkan dianggap remeh oleh orang lain? Setialah, sebab Allah melihat dan memperhitungkannya. Apakah kita lebih suka menutupi kesalahan orang lain, atau justru membuka aib orang lain, atau bahkan mencari-cari kesalahan orang lain? Jika kita mengasihi Dia, bersyukur menjadi umat tebusan-Nya dan menghormati pengorbanan-Nya, mari kita meneladani hidup-Nya.
Penulis


satu Respon
Sangat terberkati ka Anne 🙏😇♥️