| Renungan hari ini dari bacaan 1 Yohanes 3: 22-4:6; Matius 4:12-17.23-25.“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat. 4:17). “…Dari situ kita mengenal Roh kebenaran dan roh penyesatan” (1Yoh. 4:6b). |
Sering kali kita jujur berkata, “Saya sudah berdoa dan ikut Misa,” tetapi begitu pulang ke rumah, emosi cepat meledak. Hidup terasa begitu padat dan melelahkan. Pekerjaan menekan, keluarga menuntut perhatian, berita dan media sosial membanjiri pikiran tanpa henti. Kita ingin Tuhan segera menyelesaikan masalah, menenangkan situasi, mengubah orang lain. Kita lupa: Tuhan juga mengundang kita untuk berubah dari dalam. Banyak orang tampak religius di luar, tetapi di dalam hatinya mudah tersulut, penuh kecurigaan, dan sulit mengampuni. Mereka lupa bahwa mereka diundang untuk mengikuti Yesus dalam terang Roh Kebenaran, bukan berjalan dalam gelapnya ego dan kebiasaan lama.
Setelah Yohanes Pembaptis ditangkap, Yesus mulai mewartakan Injil di Galilea, dan berseru: “Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat” (Mat 4:17). Pertobatan bukan sekadar menyesali kesalahan, melainkan berani berbalik arah. Bagi kita, pertobatan itu sangat konkret: berhenti menganggap marah itu wajar, belajar menjaga kata-kata, dan tidak cepat membalas dengan emosi, dan berani meminta maaf ketika kita salah. Kerajaan Surga menjadi “dekat” bukan ketika hidup bebas masalah, melainkan ketika hati kita mulai tunduk pada kebenaran.
Kerajaan Allah tempat tindakan nyata yang mengubah hidup. Yesus mengajar, mewartakan, dan menyembuhkan. Ia hadir bagi mereka yang remuk dan lelah. Saat ini pun banyak “orang sakit”: bukan sakit fisik, tetapi sakit batin. Mereka mengalamikecemasan yang tak terucap, kesepian di tengah keramaian, depresi yang disembunyikan, luka relasi, kecanduan gawai, dan rasa tidak berharga karena terus membandingkan diri dengan orang lain. Banyak orang terlihat baik-baik saja di luar, tetapi rapuh di dalam. Mengikuti Yesus berarti berani datang apa adanya, lalu membiarkan Dia menyentuh bagian-bagian diri yang selama ini kita tutupi rapat-rapat.
Dalam surat pertama Rasul Yohanes dikatakan bahwa doa dan iman tidak bisa dipisahkan dari cara hidup. Iman yang sejati harus berjalan bersama hidup yang berkenan kepada Allah, percaya kepada Yesus Kristus dan saling mengasihi. Kasih berarti menghargai orang lain, berkata jujur, tidak ikut menghakimi, dan tidak senang membicarakan keburukan orang. Justru ketika kita lelah, tersinggung, dan merasa tidak dipahami, di situlah kasih diuji.
Yohanes mengingatkan kita agar berhati-hati dan tidak mudah percaya kepada setiap ajaran, dorongan batin, atau suara yang mengaku berasal dari Tuhan. Di zaman sekarang, banyak suara terdengar meyakinkan dan tampak rohani, tetapi belum tentu berasal dari Allah. Roh Kebenaran tidak membuat kita semakin marah, semakin keras atau membenci, atau merasa diri paling benar. Roh Kebenaran menuntun kita untuk semakin serupa dengan Yesus: rendah hati, jujur, sabar, dan mau mengasihi. Yohanes menegaskan, “…Dari situlah kita mengenal Roh kebenaran dan roh penyesatan” (1Yoh. 4:6b).
Mari memilih satu perubahan sikap yang nyata. Menghentikan kebiasaan menyindir dan bergosip, menahan jari sebelum membagikan berita yang belum pasti, atau mulailah berdamai dengan orang di rumah. Sebelum tidur, tanyakan dengan jujur: “Hari ini, aku mengikuti Yesus atau mengikuti emosiku?” Jika kita berjalan dalam terang Roh Kebenaran, iman kita tidak berhenti di gereja, tetapi menjadi terang yang terasa di rumah, di tempat kerja, dan di ruang digital.

8 Responses
Terima kasih untuk renungannya, mengajak kita untuk bertobat & ingat akan Tuhan. Menyadari kadang kita melakukan kesalahan & emosi yang akhirnya kita sesali. Renungannya sangat bagus, mengingatkan kita untuk selalu memperbaiki diri. Semoga karya dan renungannya senantiasa memberkati & menjadi terang bagi banyak orang. Amin. Berkah Dalem.
Matur nuwun… Berkah Dalem….🙏
Terimakasih untuk renungannya Bu Enny.
Mengajak saya untuk belajar introspeksi diri, apakah saya sudah betul² ikut Terang Roh Kebenaran atau masih berjalan atas kehendakku sendiri.
Semoga kita semua dapat menjadi serupa dengan Kristus, penuh kerendahan hati, jujur, sabar, dan saling mengasihi satu dgn yg lain.
Tuhan Yesus memberkati. Berkah Dalem 🙏
Terimakasih untuk renungannya. Mengingatkan saya utk mau terus mendekatkan diri pada Terang Kristus di tengah keramaian dunia dan aktifitas kita sehari-hari, supaya kita semakin peka akan suaraNya,dpt membedakan antara kehendak Allah atau ego diri sendiri. Semoga kita semua tdk hanya mencari sensasi saja stlh Tuhan mengabulkan permohonan kita namun mau terus mencari dan mendekatkan diri dan terus belajar utk mjd semakin serupa dg Kristus yg adalah Tuhan danJuru Selamat kita.Amin
Roh Kebenaran menuntun kita untuk semakin serupa dengan Yesus: rendah hati, jujur, sabar, dan mau mengasihi.
Terimakasih atas renungannya sis.Enny…
Tuhan memberkati kita ….Amin.
Salve ,tepat sekali apa yang menjadi permenungan yang dibagikan oleh Ibu Rosalia Enny ini, saya menggaris bawahi bahwa menjadi “dekat” bukan ketika hidup bebas masalah, melainkan ketika hati kita mulai tunduk pada kebenaran, dan saya ijin sedikit menambahkan pengalaman pribadi,bahwa dekat dgn Kebenaran yakni Kristus Sang Terang Kehidupan berarti juga harus berani terus berproses,teguh percaya ,menjalani hidup penuh doa, senyuman, ketenangan batin, dan selalu bersyukur kepada Tuhan ditengah begitu banyaknya masalah yang masih belum selesai 🙏 Terimakasih kasih banyak Bu Enny sangat meneguhkan dan memberkati kami.Tuhan Yesus memberkati selalu setiap pelayanannya…✨Berkah dalem..
Terimakasih Ibu Enny untuk Renungan Firman Tuhan ini .
Mengajarkan kita semakin kita harus lebih lagi mengasihi Tuhan lebih dari apapun .
Dan biarlah hidup kita menjadi saksi hidup atas bukti kasih Tuhan yang nyata di kehidupan kita.sehingga bisa menjadi terang bagi sesama. 🙏
phl777 https://www.nphl777.net