Renungan hari ini dari bacaan Kitab Keluaran 19:1-2, 9-11, 16-20b dan Injil Matius 13:10-17 “Sebab, siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil darinya” (Mat. 13:12). |
Adalah sebuah kebiasaan yang umum bagi para rabi Yahudi untuk mengajar dengan menggunakan perumpamaan sebagai ilustrasi. Para rabi menggunakan perumpamaan dari kehidupan sehari-hari yang kemudian dikaitkan dengan ayat-ayat dalam Kitab Suci, dengan tujuan agar ilustrasi tersebut mempermudah jemaat untuk memahami pesan Kitab Suci.
Namun, ada kalanya seorang rabi memberikan sebuah perumpamaan begitu saja, dan tidak dikaitkan dengan ayat apa pun dalam Kitab Suci. Pada saat itu biasanya rabi tersebut memang sedang memberikan teka-teki kepada para pendengarnya, dan mereka harus menemukan sendiri rahasia hikmat pengajaran yang terkandung dalam perumpamaan itu. Bila tidak juga menemukan artinya, murid-murid seorang rabi biasanya akan bertanya secara pribadi kepada sang rabi apa arti perumpamaan itu.
Dalam kisah ini (Mat. 13:1-9), Yesus hanya memberikan perumpamaan, tanpa mengaitkannya dengan pesan Kitab Suci atau pun menjelaskan arti perumpaan itu. Yesus sedang memberikan teka-teki, namun di sisi lain Yesus juga sedang menyaring siapa orang yang sungguh-sungguh rindu mengerti kebenaran yang sejati. Sebab, hanya mereka yang sungguh-sungguh haus dan rindu akan hikmat dan kebenaran, akan menanyakan pada Yesus arti dari pengajaran yang mereka dengar namun belum mereka pahami.
Jadi, ketika murid-murid-Nya menanyakan, “Mengapa Engkau berkata-kata kepada mereka dalam perumpamaan?” Ia berkata bahwa mereka (orang banyak itu) tidak diberi karunia untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga. Hal ini bukan karena Allah pilih kasih, melainkan karena mereka sendiri tidak memiliki kerinduan untuk mengetahui rahasia Kerajaan Surga itu. Seandainya mereka sungguh-sungguh haus akan kebenaran, tentu mereka akan terus belajar dan mengikut Yesus untuk mendapatkan penyingkapan-penyingkapan rahasia hikmat Kerajaan Allah.
Karena itu, Yesus berkata, “Sebab, siapa yang mempunyai, kepadanya akan diberi, sehingga ia berkelimpahan; tetapi siapa yang tidak mempunyai, apa pun juga yang ada padanya akan diambil darinya” (Mat. 13:12). Kalimat ini sepertinya aneh: orang yang tidak mempunyai justru akan dibuat semakin miskin, sebaliknya orang yang mempunyai justru akan diberi sampai berkelimpahan.
Yesus tidak sedang berbicara tentang kepemilikan materi. Ia berbicara tentang sikap hati terhadap kebenaran rohani. Apa yang dimaksud “mempunyai” dalam ayat ini? Mereka yang “mempunyai” adalah orang-orang yang memiliki kerinduan untuk mendengar, memahami, dan menyikapi kebenaran Firman Tuhan dengan sikap hati yang benar. Ini bukan soal seberapa dalam pengetahuan akan Kitab Suci yang mereka miliki. Entah mereka orang yang memiliki pengetahuan atau sama sekali tidak memiliki pengertian akan Kitab Suci, tetapi yang terpenting adalah mereka yang mempunyai kerendahan hati dan rasa lapar akan kebenaran. Yesus mengatakan bahwa orang-orang seperti ini akan semakin diberi pengertian, pewahyuan, dan kedalaman rohani. Mereka akan “berkelimpahan” dalam hal pengenalan akan Allah. Seperti dalam Mat. 5:6 dikatakan bahwa orang yang haus dan lapar akan kebenaran akan dipuaskan.
Di sisi lain, ada orang-orang “yang tidak mempunyai,” yaitu mereka yang tidak memiliki sikap menghargai kebenaran. Mereka mendengar, tetapi tidak menyimak dengan sungguh-sungguh. Mereka melihat, tetapi tidak memperhatikan. Oleh karena itu, hati mereka keras, telinga mereka berat, dan mata mereka tertutup (Mat. 13:15). Akibatnya, bahkan jika mungkin pernah memiliki sedikit pengertian akan kebenaran, itu pun akan hilang.
Ini adalah sebuah hukum rohani, seseorang yang mengabaikan kebenaran, lama-lama akan kehilangan kepekaan terhadapnya. Sama seperti otot yang tidak digunakan akan melemah, iman yang tidak dilatih juga akan menjadi tumpul. Firman yang tidak ditanggapi lama-lama menjadi suara yang tak terdengar lagi. Bahkan kepekaan hati terhadap teguran Tuhan bisa lenyap, hati menjadi keras dan degil.
Sebaliknya orang yang merespon kebenaran dengan segenap ketulusan hati, akan semakin peka dan mengerti kehendak Allah. Hatinya akan semakin mengasihi Allah, dan tidak ingin menyakiti perasaan-Nya, sehingga hidup orang itu semakin hari semakin selaras dengan kehidupan Anak Allah, dan semakin berkenan dan menyenangkan Bapa di Surga.
Bagaimana dengan keadaan kita saat ini? Apakah kita memiliki hati yang selalu haus akan Allah? Apakah kita memiliki telinga yang senantiasa rindu mendengar suara-Nya? Apakah kita memiliki waktu duduk diam dan berdoa mencari wajah-Nya? Apakah kita memiliki semangat yang berkobar untuk belajar Firman kebenaran? Apakah kita memiliki jiwa yang lembut, mau diajar, dan cepat bertobat?
Ataukah kita hidup dalam kekristenan yang pasif, merasa cukup puas dengan pengertian yang dangkal, dan bahkan acuh saat Roh Kudus menegur dosa dan kesalahan kita?
Kabar baiknya adalah kita bisa memilih untuk “menjadi orang yang mempunyai.” Kita bisa memutuskan untuk membaca Kitab Suci dengan hati terbuka, untuk selalu menggali hikmat dan kebenaran yang terkandung di dalamnya. Kita bisa memutuskan untuk menyediakan waktu untuk berdoa mencari wajah-Nya, dan untuk menanggapi teguran Tuhan dengan ketaatan.
Penulis


2 Responses
Terimakasih buat renungannya. Saya pribadi ingin byk diubahkan kearah yg Tuhan mau. Masih byk cacat saya. Pemahaman saya ttg kebenaran terkdg masih tumpah tindih. Saya pingin saat saya pulang kerumah Bapa,saya sudah berkenan di hadapan Nya 🙏🙏🙏
Banyak yg mengartikan ayat ini, tentang pemenuhan kebutuhan materi, Puji Tuhan saya dibukakan melalui kebenaran ini, biarlah hati dan hidup sayapun trs memiliki rasa lapar dan haus akan kebenaran, sehingga Tuhan bukakan dan mengenyangkan saya dgn kebenaran FirmanNYA,Aminnn 🙏🙏🙏