Menjangkau dan Memelihara Jiwa (18 Mei 2025)

Renungan dari bacaan : Kisah Para Rasul 14:21b-27; Yohanes 13: 31 – 33a.34 – 35
“Di sana mereka menguatkan hati murid-murid dan menasehati mereka supaya bertekun dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22)

Debu perjalanan masih melekat di jubah Paulus dan Barnabas, saksi bisu dari ribuan kilometer yang telah mereka tempuh. Hati mereka dipenuhi rasa syukur yang meluap-luap, ungkapan-ungkapan dan ekpresi kegembiraan yang tak terucapkan atas penyertaan Tuhan yang Ajaib. Syukur dan sukacita itu sangat mereka rasakan di tengah perjalanan yang tidak mudah dan penuh dengan tantangan.Setelah memberitakan Injil di Derbe dan Listra, di mana iman bertumbuh di tengah penganiayaan yang hebat, mereka kembali menapaki jalan yang sama, namun kini dengan tujuan yang berbeda.

Bukan lagi hanya menabur benih kebenaran, melainkan juga menguatkan tunas-tunas iman yang baru bertumbuh. Di setiap kota yang mereka lewati, Listra, Ikonium, dan Antiokhia di Pisidia, mereka tidak hanya mengenang tantangan yang dihadapi, tetapi juga melihat buah dari kesetiaan mereka. Murid-murid di sana, yang dulunya mungkin ragu dan takut, kini berdiri teguh dalam iman, berakar kuat dalam Kristus.Paulus dan Barnabas tidak hanya sekadar lewat.

Mereka meluangkan waktu, “Di sana mereka menguatkan hati murid-murid dan menasihati mereka supaya bertekun dalam iman, dan mengatakan bahwa untuk masuk dalam Kerajaan Allah kita harus mengalami banyak sengsara” (Kis. 14:22). Kata-kata Paulus dan Barnabas tersebut, bagaikan air sejuk yang menyegarkan jiwa yang lelah, bagaikan perban yang menyembuhkan luka-luka rohani. Mereka tahu benih iman yang baru tumbuh, memerlukan perawatan yang sungguh-sungguh, agar tidak layu diterpa angin dunia yang penuh dengan penderitaan, kebencian, tekanan, godaan dan pencobaan.

Lebih dari itu, “Di tiap-tiap jemaat rasul-rasul itu menetapkan penatua-penatua bagi jemaat itu dan setelah berdoa dan berpuasa, mereka menyerahkan penatua-penatua itu kepada Tuhan, yang kepada-Nya mereka percaya.” (Kis. 14:23). Tindakan ini bukan sekadar formalitas, melainkan sebuah langkah strategis untuk memastikan keberlangsungan pelayanan dan penggembalaan. Mereka menyadari bahwa pekerjaan penginjilan harus diimbangi dengan penggembalaan yang bertanggung jawab. Para penatua ini akan menjadi gembala-gembala lokal, melanjutkan pekerjaan Paulus dan Barnabas, menjaga kawanan domba Kristus dari serigala-serigala rohani. Dengan doa dan puasa, mereka mempercayakan jemaat-jemaat muda ini kepada kasih karunia Tuhan.Akhirnya, dengan hati yang penuh sukacita dan rasa syukur, mereka kembali ke Antiokhia, tempat di mana mereka pertama kali diutus oleh Roh Kudus.

Di sana, “Setibanya di situ mereka memanggil jemaat berkumpul, lalu mereka menceritakan segala sesuatu yang Allah lakukan dengan perantaraan mereka, dan bahwa Ia telah membuka pintu bangsa-bangsa lain kepada iman” (Kis. 14:27). Mereka berbagi kisah tentang pintu iman yang telah dibukakan bagi bangsa-bangsa lain. Kis. 14:27 memberikan gambaran yang paling komprehensif tentang tujuan dan hasil dari seluruh perjalanan misi tersebut. Paulus dan Barnabas menceritakan kepada jemaat, bagaimana Allah secara aktif terlibat dan bekerja dalam setiap aspek pelayanan mereka. Mereka hanyalah alat di tangan Tuhan, dan segala hasil yang baik dan kekal adalah karena kasih karunia dan kuasa-Nya. Laporan mereka adalah pengakuan bahwa Allah sendiri, adalah penggerak utama dalam misi Injil yang mereka lakukan. Kisah perjalanan mereka menjadi kesaksian yang hidup tentang dua sisi mata uang pelayanan: penginjilan dan penggembalaan. Penginjilan adalah tentang menjangkau yang belum percaya, menabur benih kebenaran di ladang dunia.

Namun, pekerjaan itu tidak berhenti di sana. Penggembalaan adalah tentang merawat benih yang telah tumbuh, menyiraminya dengan Firman Tuhan, melindunginya dari ancaman, dan membimbingnya menuju kedewasaan rohani.Renungan dari kisah ini mengajak kita untuk melihat pelayanan secara holistik. Kita dipanggil bukan hanya untuk memberitakan Injil, tetapi juga untuk terlibat dalam proses pemuridan dan pembinaan. Setiap jiwa yang dimenangkan bagi Kristus adalah tanggung jawab kita bersama untuk dirawat dan dibimbing. Seperti Paulus dan Barnabas, kita harus rela meluangkan waktu, tenaga, dan hati untuk menguatkan iman saudara-saudara seiman kita, memastikan mereka berakar kuat dalam Kristus dan bertumbuh menjadi dewasa dalam iman.Kiranya Roh Kudus memampukan kita untuk memiliki hati seorang gembala yang penuh kasih, yang tidak hanya bersemangat dalam memberitakan Injil kepada yang belum mengenal Kristus, tetapi juga setia dalam merawat dan membimbing mereka yang telah percaya, sehingga Kerajaan Allah semakin nyata di bumi ini. Amin!

Penulis

satu Respon

  1. Terima kasih renungannya. Situasi jaman Paulus dan Barnabas tetap relevan saat ini.
    Paulus dan Barnabas tdk melupakan ‘benih yg sedang tumbuh dan mengalami beban berat karena godaan dan penganiayaan. Mereka mendatangi dng nasihat dan peneguhan.

    Dewasa ini, diperlukan gembala yang peduli pada umat yang menderita, kesepian, tersingkir, dan terbebani dgn berbagai persoalan hidup (miskin cinta, miskin iman dan miskin ekonomi, relasi suami istri, iman anak-anak, putus asa, kehilangan orientasi hidup, dll). Dan kita semua dipanggil untuk menjadi ‘gembala’ sebagai sahabat mereka.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *