Renungan hari ini dari bacaan Bilangan 11:4b-15 dan Matius 14:13-21 “Mereka semuanya makan sampai kenyang. Kemudian mereka mengumpulkan potongan-potongan roti yang tersisa, sebanyak dua belas bakul penuh (Mat. 14:20) |
Dalam perjalanan keluar dari tanah Mesir melintasi padang gurun, bangsa Israel banyak bersungut-sungut dan mengeluh soal kesulitan makanan. Keluhan ini membuat TUHAN murka. Hal ini membuat Musa sebagai pemimpin yang membawa bangsa Israel ke tanah terjanji merasa tertekan dan terjepit. Dari pihak Israel dia mendengar keluhan, dari pihak Allah ia mendengar kemarahan. Musa menyampaikan semua beban tanggung jawabnya kepada Tuhan, katanya, “Mengapa Kau perlakukan hamba-Mu ini dengan buruk dan mengapa aku tidak mendapat kasih karunia di mata-Mu, sehingga Engkau membebankan kepadaku tanggung jawab atas seluruh bangsa ini?” (Bil. 11:11). Ia merasa dipaksa memikul tanggung jawab yang seharusnya tidak dipikulnya: “Akukah yang mengandung seluruh bangsa ini atau akukah yang melahirkannya, sehingga Engkau berkata kepadaku: Gendonglah dia seperti seorang pengasuh…” (Bil. 11:12). Bagi Musa, tugas ini terlalu berat sehingga ia ingin TUHAN membunuhnya saja. Musa tertekan, karena ia mengira bahwa dialah yang harus menyelesaikan semua persoalan Israel, padahal ia hanya alat di tangan Tuhan, yang menyelesaikan semuanya.
Yesus menunjukkan bagaimana Tuhan menyelesaikan persoalan manusia dengan menunjukkan belas kasihan. Ke mana pun Ia pergi, Ia selalu memberi perhatian kepada mereka yang sakit, menderita, dan terpinggirkan. Hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan seperti dikatakan dalam Injil hari ini. “Ketika Yesus mendarat, Ia melihat orang banyak yang besar jumlahnya, maka tergeraklah hati-Nya oleh belas kasihan kepada mereka dan Ia menyembuhkan mereka yang sakit” (Mat. 14:14). Yesus mengajak pula para murid-Nya untuk memberi makan para pengikut-Nya. Maka terjadilah mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan untuk dimakan oleh lima ribu orang pengikut Yesus. Mukjizat yang dibuat Yesus sungguh nyata dan mereka semua makan sampai kenyang. Tuhan dapat memelihara hidup manusia.
Seringkali kita bertanya-tanya, apa itu mukjizat? Terkadang kita merasa ragu apakah kesembuhan atau mukjizat yang terjadi itu sungguh kuasa Allah atau kuasa iblis? Mukjizat adalah suatu kejadian yang terjadi di luar kemampuan manusia dan erat kaitannya dengan kuasa adikodrati atau kodrat alam karena kekuatan atau kemampuan yang melampaui makhluk ciptaan. Ini sungguh merupakan kuasa ilahi dari Allah yang melampaui kemampuan alam atau makhluk hidup lainnya. Sehingga mukjizat terjadi karena kehendak Allah sendiri dan bukan kehendak manusia.
Apakah tujuan Alllah membuat mukjizat? Tujuan utamanya adalah untuk menunjukkan kepada seluruh umat bahwa kemuliaan Tuhan itu sungguh nyata. Hal ini ditegaskan dalam Perjanjian Lama dan Perjanjian Baru. Dalam Perjanjian Lama, mukjizat terjadi guna menyatakan penyelenggaraan Tuhan Yang Maha Besar (Kel. 10:2, Ul. 5:25, Kel. 7-10, 1Raj. 18:21-38, 2Raj. 5).
Dalam Perjanjian Baru, kebesaran dan kemuliaan Tuhan disampaikan melalui karya Yesus yang menyembuhkan banyak orang sakit (Mat. 9:8, Luk. 18:43, Mat. 15:31), yang membuat mukjizat penggandaan lima roti dan dua ikan (Mat. 14:13-21), dan yang membangkitkan Lazarus (Yoh. 11). Dasar mukjizat yang dilakukan oleh Yesus adalah belas kasih. Semua itu merupakan bentuk belas kasih-Nya yang menyelamatkan orang berdosa dan kuasa-Nya. Semua itu dilakukan-Nya agar manusia mau berbalik kepada-Nya dan percaya serta memperoleh hidup yang kekal.
Yesus selalu datang dengan membawa harapan, penghiburan, dan kelegaan. Hati-Nya selalu tergerak oleh belas kasihan. Maka Yesus memberi kelegaan kepada setiap orang yang serius mencari Dia. Kita pun perlu memiliki tindakan yang didorong oleh belas kasih dan solidaritas kepada sesama. Hal ini sebagai ungkapan syukur kita pada Tuhan atas mukjizat-Nya yang sungguh nyata dalam hidup kita. Apakah setiap tindakan kita selalu didorong oleh belas kasih dan sikap solider?
Penulis


2 Responses
Percaya pada penyelenggaraan ilahi Tuhan. Tuhan Sang Kasih selalu ada bahkan saat kita merasa pada masa tersulit sekalipun. Musa merasa berbeban berat, bersungut2, hanya mengandalkan dirinya sendiri. Semoga kita selalu percaya dan menyerahkan hidup hanya dengan mengandalkan Tuhan, percaya rencanaNya adalah yang terbaik. Setiap tarikan nafas kita adalah mukjizat juga keluarga, teman2 kita. Pergumulan dan sakit penyakitpun kita bs bersyukur, bs merasakan sebagian kecil penderitaan Yesus dan menjadi kurban yang hidup bagi Tuhan.
AMIN. Puji Tuhan,Luar Biasa,Mbak. Tetap semangat dan setia melayani Tuhan,kiranya jadi berkat selalu,Mbak. Salam Sehat,Berkah Dalem! 🙏😇