| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 62:11-12; Lukas 2:15-20. “Tetapi Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.”(Lukas 2:19) |
Setiap orang suka kejutan, kalau bukan bikin kejutan, ya dapat kejutan. Kejutan membuat hati berdebar dan gembira. Bagaimana dengan natal tahun ini, apa kejutannya? Bagi kita yang sudah berumur, mungkin Natal tidak lagi memberi kejutan. Lagu-lagunya sudah biasa kita dengar, lagu-lagunya diulang-ulang terus, demikian juga hiasan-hiasannya. Pohon cemara, kandang natal, patung natal, lampu-lampunya, ya kurang lebih sama. Beda sekali natal bagi anak kecil: penuh kejutan, karena banyak hal baru yang bisa dilihat, belum lagi kejutan kado natal dari orang tua.
Namun, Allah sangat kreatiff. , kita mudah lupa bahwa peristiwa Natal pada dasarnya adalah kejutan besar dari Allah. Dalam Lukas 2:15–20, kita diajak melihat bagaimana Allah bekerja bukan melalui hal-hal yang spektakuler, melainkan lewat sesuatu yang sama sekali tidak diduga.
Setelah para malaikat kembali ke surga, para gembala berkata satu sama lain: “Marilah kita pergi sekarang ke Betlehem untuk melihat apa yang terjadi di sana, seperti yang diberitahukan Tuhan kepada kita.” Mereka tidak diberi rencana lengkap, tidak dijanjikan penjelasan panjang, hanya sebuah tanda yang aneh: seorang bayi, dibungkus lampin, terbaring di palungan. Namun justru dalam keterbatasan informasi itulah iman mereka bergerak. Mereka segera pergi.
Di sinilah kejutan pertama Natal: Allah tidak menunggu manusia menjadi siap sepenuhnya untuk percaya. Ia mengundang kita melangkah, meski belum memahami segalanya. Para gembala percaya bukan karena bukti yang meyakinkan, melainkan karena sabda yang menyentuh hati mereka.
Ketika tiba di Betlehem, mereka tidak menemukan istana, penjagaan tentara, atau tanda kebesaran ilahi. Yang mereka temukan hanyalah Maria, Yusuf, dan seorang bayi kecil. Allah yang Mahakuasa memilih hadir dalam rupa yang paling rapuh. Keselamatan tidak datang dengan suara gemuruh, tetapi dalam tangisan bayi. Inilah kejutan terbesar Natal: Allah tidak menyelamatkan dunia dengan kekuatan yang menakutkan, melainkan dengan kerendahan yang menyentuh.
Para gembala kemudian menceritakan apa yang telah mereka dengar dan lihat. Orang-orang heran, tetapi Lukas mencatat sesuatu yang sangat penting: “Maria menyimpan segala perkara itu di dalam hatinya dan merenungkannya.” Natal bukan hanya peristiwa yang diceritakan, tetapi juga misteri yang direnungkan. Allah yang mengejutkan manusia juga mengundang manusia untuk diam, menyimpan, dan merenung.
Yang menarik, setelah semua itu, para gembala pulang. Mereka kembali ke kehidupan yang sama: pekerjaan yang sama, status sosial yang sama. Tidak ada perubahan luar biasa yang langsung terlihat. Namun ada satu hal yang berubah secara mendasar: “Mereka pulang sambil memuliakan dan memuji Allah.” Natal tidak menghapus realitas hidup yang keras, tetapi memberi cara baru untuk menjalaninya.
Di tengah dunia masa kini yang penuh perencanaan, prediksi, dan kendali, Natal mengingatkan kita bahwa Allah tetap bekerja lewat kejutan. Ia hadir di tempat yang tidak kita perhitungkan, melalui orang-orang yang sering kita anggap biasa, dan dengan cara yang melampaui logika kita. Keselamatan sering kali datang bukan ketika semua sudah rapi, melainkan justru ketika hidup tampak sederhana, rapuh, bahkan berantakan.
Natal mengajak kita bertanya: apakah kita masih bersedia dikejutkan oleh Allah? Atau kita hanya mau Allah yang bekerja sesuai harapan dan skema kita sendiri? Para gembala mengajarkan kepada kita keberanian untuk melangkah, kerendahan hati untuk menerima, dan kesetiaan untuk kembali menjalani hidup dengan hati yang telah disentuh oleh Allah.
Semoga Natal ini menjadi momen di mana kita kembali belajar bahwa Allah tidak berhenti membuat kejutan, dan bahwa di balik kesederhanaan hidup sehari-hari, Ia sedang menghadirkan keselamatan-Nya diam-diam, tetapi sungguh nyata.
