Nyanyian Iman yang Membalikkan Dunia ( 22 Desember 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Luk 1:46-56. “Jiwaku memuliakan Tuhan, dan hatiku bergembira karena Allah, Juruselamatku.” (Luk. 1:46–47)

Perikop Injil Lukas 1:46–56, yang dikenal sebagai Magnificat, merupakan ungkapan iman Maria yang sangat kaya secara teologis dan spiritual. Dalam situasi yang secara manusiawi penuh risiko seorang perempuan muda, sederhana, dan belum bersuami Maria tidak memusatkan perhatian pada ketakutan atau ketidakpastian masa depannya. Sebaliknya, ia mengarahkan seluruh keberadaannya kepada Allah. “Jiwaku memuliakan Tuhan,” menjadi pembuka yang menegaskan bahwa iman sejati selalu berawal dari sikap memuliakan Allah, bukan diri sendiri. Maria mengajarkan bahwa pujian bukanlah reaksi emosional sesaat, melainkan keputusan iman untuk mengakui karya Allah bahkan sebelum segala sesuatu menjadi jelas.

Sukacita Maria bersumber dari pengenalannya akan Allah sebagai Juruselamat. Ia menyebut Allah bukan hanya sebagai Yang Mahakuasa, tetapi juga sebagai Dia yang menyelamatkan. Kesadaran ini menunjukkan kerendahan hati yang mendalam: Maria tidak menempatkan dirinya sebagai pusat rencana keselamatan, melainkan sebagai hamba yang menerima rahmat. Ia menyadari bahwa Allah berkenan memandang kerendahan, bukan kehebatan. Dalam dunia yang sering mengukur nilai manusia dari status, prestasi, dan pengaruh, Magnificat menegaskan bahwa Allah bekerja justru melalui mereka yang kecil dan rendah hati. Dari sinilah lahir kebahagiaan sejati yang tidak bergantung pada pujian manusia, melainkan pada kesetiaan Allah.

Magnificat juga menyingkapkan wajah Allah yang bertindak nyata dalam sejarah. Maria memuji Allah yang “memperlihatkan kuasa-Nya” dan “mencerai-beraikan orang-orang yang congkak hatinya.” Ini bukan sekadar doa pribadi, melainkan pernyataan profetis tentang bagaimana Allah berkarya di tengah dunia. Allah tidak netral terhadap ketidakadilan. Ia menentang kesombongan, keangkuhan, dan penyalahgunaan kuasa. Dengan bahasa yang kuat, Injil Lukas menegaskan bahwa rencana Allah selalu berpihak pada kebenaran dan keadilan. Maria, meski sederhana, menjadi juru bicara kehendak ilahi yang membongkar struktur dunia yang timpang.

Lebih jauh, Magnificat menghadirkan pembalikan nilai yang radikal: yang berkuasa direndahkan, yang rendah ditinggikan; yang lapar dipuaskan, yang kaya disuruh pergi dengan tangan hampa. Ini bukan seruan kebencian terhadap orang kaya atau berkuasa, melainkan kritik terhadap sikap hati yang tertutup terhadap Allah dan sesama. Kekayaan dan kekuasaan menjadi masalah ketika membuat manusia lupa bahwa segala sesuatu berasal dari Allah. Sebaliknya, mereka yang lapar dan rendah digambarkan sebagai orang-orang yang terbuka untuk menerima pemberian Tuhan. Renungan ini mengajak pembaca untuk memeriksa orientasi hidup: apakah kita bergantung pada Allah, atau pada rasa aman semu yang dibangun oleh harta dan posisi?

Akhir Magnificat menegaskan kesetiaan Allah pada janji-Nya. Maria menghubungkan pengalaman pribadinya dengan sejarah keselamatan Israel, dari Abraham hingga keturunannya. Allah yang bekerja dalam dirinya adalah Allah yang sama yang setia menepati janji sepanjang zaman. Iman Maria bukan iman yang terlepas dari komunitas dan sejarah, melainkan iman Gereja yang berakar pada perjanjian Allah. Sikap Maria yang tinggal bersama Elisabet selama tiga bulan juga memperlihatkan bahwa pujian kepada Allah harus berbuah dalam kasih dan pelayanan konkret. Dengan demikian, Magnificat bukan hanya nyanyian, melainkan jalan hidup: memuliakan Allah, mempercayai kesetiaan-Nya, dan mewujudkan iman dalam pelayanan yang setia dan rendah hati.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *