Overthinking atau Berbuah Lebat? ( 31 Maret 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 49:1-6; Yohanes 13:21-33. 33-38.
 
“Sesungguhnya Aku berkata kepadamu: Salah seorang di antara kamu akan menyerahkan Aku” (Yoh. 13:21).

Masa Pekan Suci sedang kita jalani. Kedua perikop hari ini mengantar kita masuk lebih dalam ke dalam makna perjalanan iman sebagai pengikut Kristus di zaman sekarang. Keduanya melanjutkan dan menguatkan pesan hari-hari sebelumnya: tentang panggilan, pergulatan, dan kesetiaan dalam mengikuti Tuhan.

Dalam bacaan pertama (Yesaya 49:1-6), kita mendengar bagian dari Deutero-Yesaya (Yes. 40–55), yang lahir di tengah situasi kehancuran dan pembuangan umat Israel. Di tengah kegelapan itu, justru muncul suara pengharapan. Nabi Yesaya menyadari panggilannya sejak awal (Yes. 49:1.5): ia dibentuk, dipelihara, dan diutus oleh Allah sendiri (Yes. 49:2.5-6).

Namun, panggilan itu bukan tanpa pergulatan. Yesaya dengan jujur mengungkapkan kelelahan batinnya: “Aku telah bersusah-susah dengan percuma” (Yes. 49:4). Di sinilah kita melihat bahwa bahkan seorang nabi pun tidak kebal dari rasa lelah, ragu, dan mungkin overthinking.

Akan tetapi, Allah memperluas cakrawala panggilan itu. Perutusan Yesaya tidak hanya untuk Israel, tetapi sampai ke ujung bumi (Yes. 49:6). Betapa luasnya visi Allah! Panggilan itu melampaui batas geografis, budaya, bahkan zaman.

Kita pun bisa membayangkan para misionaris yang meninggalkan kenyamanan hidup di negaranya untuk pergi ke daerah-daerah terpencil (daerah 3T) di Indonesia, menjadi terang bagi bangsa-bangsa. Hal ini mengingatkanku akan pesan kepada teman-teman yang mengikuti panel diskusi akhir pekan pertengahan bulan Maret 2026 di Batam, tentang merawat dan mengembangkan jejaring yang sudah ada. Mereka diingatkan bahwa Tuhan tidak hanya menciptakan, tetapi juga mengajak kita menjadi rekan sekerja-Nya: merawat dan mengembangkan kehidupan menjadi kabar keselamatan. Jika demikian, masihkah kita mau terjebak dalam overthinking, atau mulai melangkah dan berbuah?

Bacaan Injil (Yohanes 13:21-33. 33-38) membawa kita ke suasana Perjamuan Terakhir. Yohanes menggambarkan dengan jujur dinamika batin para murid: ada kegelisahan, ketakutan, bahkan pengkhianatan. Yesus sendiri “terharu hati-Nya” (Yoh. 13:21). Ini adalah realitas perjalanan iman, perjalanan misi Yesus dan perjalanan Yohanes sendiri: tidak selalu tenang, tidak selalu pasti.

Dalam perjalanan itu, godaan selalu hadir, baik dari dalam diri maupun dari luar. Godaan kekuasaan dan seks tidak ditulis secara jelas, seperti yang dialami oleh banyak oknum pejabat hirarki zaman ini. Godaan-godaan itu senantiasa muncul dalam perjalanan hidup seorang yang mengikuti Kristus dengan beragam bentuk dan skalanya. Selain godaan dari dalam diri yang tidak pupus dengan menuanya usia atau penerimaan sakramen tobat, juga ada lalang dalam diri.

Di zaman media sosial ini, “lalang-lalang” itu semakin mudah bertumbuh. Setiap kali kita membuka gawai, kita sebenarnya sedang membuka ruang bagi apa yang kita konsumsi: apakah itu menumbuhkan iman, atau justru menggerogotinya dengan memberi angin dan sinar untuk lalang?

Karena itu, kita diundang untuk menjadi bijak. Kita perlu menyiapkan “tanah hati” kita, memelihara benih yang telah Tuhan tanam di dalam hati kita, dan menggunakan sarana yang kita miliki, termasuk gawai, secara bertanggung jawab. Teknologi bukan musuh, tetapi alat. Ia bisa menjadi ladang yang subur untuk menghasilkan buah.

Contoh sederhana ada di sekitar kita: cara kita berkomunikasi dalam grup WhatsApp, isi pesan yang kita bagikan, sikap kita dalam menanggapi orang lain. Semua itu bisa menjadi wujud kemuridan kita. Dari situlah kabar keselamatan dapat menjangkau “ujung dunia”, minimal sampai pada relasi-relasi yang dapat kita jangkau setiap hari.

Akhirnya, pertanyaannya kembali kepada kita: apakah kita mau terus tenggelam dalam overthinking, atau mulai berbuah lebat dalam perutusan?


Tuhan, ajarilah aku menggunakan gawai dengan bijak. Jadikanlah setiap sarana dalam hidupku sebagai alat untuk menyebarkan kabar gembira keselamatan-Mu. Mampukan aku untuk tidak terjebak dalam kekhawatiran yang melemahkan, tetapi berani berbuah dalam kasih dan perutusan. Demi Kristus, Tuhan dan Penyelamat kami. Amin.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *