Renungan hari ini dari bacaan Kitab Keluaran 3:13-20 dan Injil Matius 11:28-30. “Marilah kepada-Ku, semua yang letih lesu dan berbeban berat, Aku akan memberi kelegaan kepadamu. Pikullah kuk yang Kupasang dan belajarlah pada-Ku, karena Aku lemah lembut dan rendah hati dan jiwamu akan mendapat ketenangan” (Mat. 11:28-29). |
Di zaman dulu, orang membawa barang dengan kereta berkuda, dengan unta, dengan gerobak yang didorong. Orang yang sangat miskin biasanya menggunakan kuk atau gandar untuk memikul barang-barangnya. Saat ini kita dapat melihat, misalnya perbedaan tukang bakso yang menggunakan gerobak sorong dengan tukang bakso yang menggunakan kuk/gandar untuk membawa dagangannya. Menggunakan gandar untuk memikul beban tentu sangat berat, dan bisa membuat tubuh cepat letih dan sakit.
Kuk atau gandar juga melambangkan perbudakan atau ketertundukan. Sebagai orang percaya kita mungkin telah terlepas dari kuk dosa moral. Banyak dari kita mungkin telah hidup benar di mata masyarakat, bukan pezinah, bukan pencuri atau koruptor, bukan pembunuh atau penjudi. Tetapi, banyak dari kita masih hidup memikul kuk perhambaan dunia ini.
Banyak dari kita merasa bahagia bila telah memenuhi standar umum yang dunia ini tetapkan. Misalnya, seorang anak gadis yang umurnya telah melewati 25 tahun akan merasa tidak bahagia bila tidak memiliki pacar. Atau seorang yang telah berumur 30 tahun merasa ada yang kurang bila belum menikah. Kemudian setelah menikah, standar bahagianya adalah punya anak. Setelah punya anak, harus punya rumah, punya mobil, dan seterusnya.
Demikian juga seorang ibu akan merasa sukses bila anak-anaknya berhasil, sudah berumah tangga atau memiliki cucu, sehingga bila anak-anaknya telah dewasa tapi belum menikah, dia akan mendorong mereka menikah. Seolah pernikahan, harta, status sosial yang terhormat adalah standar kebahagiaan yang harus dicapai. Sebaliknya orang akan merasa ada yang kurang, atau tidak bahagia bila tidak memenuhi tuntutan itu.
Akhirnya kita terdorong untuk mengikuti standar dunia ini, dan terbelenggu di dalamnya. Hidup kita diperbudak untuk mencapai tujuan yang menjadi tolak ukur dunia ini. Dunia yang keras, dunia yang kejam, dan sarat dengan keangkuhan yang terus memacu kita untuk berlomba dan bersaing memperoleh dunia ini. Akibatnya, jiwa kita menjadi terbelenggu, lelah dan tidak merasa bahagia.
Yesus bin Sirakh, seorang yang hidup di zaman sebelum Yesus Kristus, memberikan nasihat agar orang Yahudi memikul gandar Kerajaan Allah, dengan mempelajari kebijaksaan Allah yang terkandung dalam Taurat (Sirakh 51:26). Sebagai anak-anak Allah, kita percaya bahwa kita berasal bukan dari dunia ini. Dari sebab itu, standar kesuksesan hidup kita seharusnya bukanlah standar sukses dunia ini, melainkan standar Kerajaan Allah: Kehidupan Anak Allah yang telah diperagakan oleh Yesus Kristus.
Karena itu, Yesus berkata, “Marilah kepada-Ku,” hai kamu yang sudah lelah terus mengejar dunia, hai kamu yang merasa tidak bahagia karena selalu merasa ada yang kurang, ada yang gagal. It’s okay kalau kamu belum menikah, it’s okay kalau kamu tidak punya anak, it’s okay kalau hidupmu masih pas-pasan, kamu akan lelah kalau kamu terus mengejar standar dunia ini. “Pikullah kuk yang kupasang,” artinya Yesus menawarkan kita untuk memikul kuk bersama dengan dia, bukan memikul gandar itu sendirian. “Dan belajarlah pada-Ku,” Yesus telah memberi teladan, memberi contoh, dan Ia mau berjalan bersama kita, membimbing dan menuntun kita, agar kita dapat hidup seperti Dia hidup.
Inilah standar kesuksesan sejati, hidup yang berkenan yang menyenangkan hati Bapa. Hidup sebagai anak-anak Kerajaan Allah. Tentu kita harus bertanggung jawab dengan kehidupan kita di dunia ini, mencari nafkah, bertanggung jawab terhadap kesehatan, keluarga atau pekerjaan. Namun, semua itu bukanlah tujuan utama kita. Hidup kita jangan terpusat di sana, tetapi jadikan Bapa di surga sebagai pusat dan tujuan hidup kita. Bertumbuh secara mental dan karakter ke arah keserupaan dengan Kristus. Yesus yang lemah lembut dan rendah hati dan bertolak belakang dengan spirit dunia ini. Ketika kita melepaskan segala ambisi kita untuk mengejar dunia, jiwa kita akan mendapatkan ketenangan, perhentian yang sejati di dalam dan bersama dengan Kristus penyelamat jiwa kita.
Penulis

