| Renungan hari ini dari bacaan Maleakhi 3:1-4; Lukas 2:22-40 “Lalu Ketika tiba waktu penahiran mereka menurut hukum Musa, mereka membawa Dia ke Yerusalem untuk menyerahkan-Nya kepada Tuhan” (Luk. 2:22) |
Nabi Maleakhi mewartakan kedatangan Tuhan ke Bait-Nya sebagai peristiwa yang menggentarkan. Sebab, Ia datang seperti “api pemurni logam dan sabun penatu” (Mal. 3:2c), artinya Ia akan melakukan proses proses pemurnian dan pembersihan yang menyakitkan tetapi perlu. Kehadiran Allah akan menguji, membersihkan, dan memurnikan, terutama kehidupan religius yang sudah mapan tetapi kehilangan ketulusan karena telah menjadi rutinitas yang kosong. Pemurnian utama diarahkan kepada para imam dan persembahan mereka, yang tampak benar secara lahiriah tetapi kehilangan keadilan dan kebenaran.
Nubuat Nabi Maleakhi mulai digenapi dalam Injil Lukas 2:22-40. Tuhan datang ke Bait-Nya, tetapi bukan dengan kehadiran yang menggetarkan, bukan pula dengan kemuliaan, melainkan dalam rupa bayi kecil yang digendong oleh Maria. Kedua orang tuanya, Maria dan Yusuf, membawa Yesus ke Bait Allah sebenarnya dalam rangka melakukan dua kewajiban mereka sebagai orang Yahudi yang taat pada hukum Musa. Pertama, mereka hendak malakukan penahiran Maria karena telah melahirkan; kedua mereka mau menyerahkan Yesus, anak sulung mereka, kepada Tuhan. Mereka tampaknya belum tahu bahwa yang mereka persembahkan itu adalah Mesias sendiri. Bagi mereka yang penting adalah mengakui bahwa anak mereka adalah milik Allah, bukan milik mereka sendiri. Dari sebab itu, sebagai ucapan Syukur dan bentuk pengakuan itu, mereka dengan rendah hati menyerahkan-Nya kepada Tuhan.
Mereka belum tahu, tetapi Simeon, seorang yang benar dan saleh, melihat di dalam terang Roh Kudus, bahwa Anak itu adalah keselamatan yang datang dari Tuhan. Dia melihat bahwa Anak itu adalah terang yang menjadi penyataan Tuhan bagi bangsa-bangsa. Melalui Dia orang akan mengenal Allah dan kehendak-Nya.
Ketika Maria menyerahkan Anak itu kepada Tuhan, ia diminta bukan hanya mempersembahkan anak itu secara ritual untuk sekedar memenuhi Hukum Taurat, melainkan untuk melakukan makna upacara itu. Dengan menyerahkan anak itu, ia menerima kehendak Tuhan yang akan terjadi pada Anak itu, meskipun konsekuensinya, “Suatu pedang juga akan menembus jiwamu sendiri” (Luk. 2:35). Ibadah itu bukan upacara basa-basi bagi Maria, melainkan sesuatu yang membawa tuntutan etis: siap menerima rencana dan kehendak Allah terjadi pada dirinya, meskipun hal itu mendatangkan kehilangan dan penderitaan.
Maria dimurnikan dalam melakukan upacara di Bait Allah. Selanjutnya, Yesus, orang yang ia persembahkan ini, akan memurnikan ibadah di Bait Allah. Ia bukan hanya menyucikan Bait Allah, melainkan juga menjadi Bait Allah itu sendiri. Bahkan, sebagaimana dikatakan oleh penulis Surat Ibrani, Ia, “sebagai persembahan yang tidak bercacat, akan menyucikan hati nurani kita dari perbuatan-perbuatan yang sia-sia, supaya kita dapat beribadah kepada Allah yang hidup” (Ibr. 9:14).
Betapa sering kita berkata, “Hidup ini milik Tuhan, anak hanyalah titipan Tuhan. Saya mempesembahkan dia sepenuhnya kepada Tuhan, pada kehendak-Nya. Namun, pada kenyataannya, cara hidup kita, sikap kita, justru mencerminkan bahwa kita merasa hidup ini milik kita. Kita ingin mengendalikan segalanya, mempertahankan sekuat tenaga apa yang kita miliki tanpa keberanian dan keikhlasan sedikit pun untuk melepaskannya. Biarlah Kristus kini datang ke Bait Allah, yakni diri kita masing-masing, sebagai api yang menguji dan memurnikan ibadah kita. Dengan demikian kita tidak lagi hanya memikirkan apa yang harus kumiliki dan kuptertahankan melainkan apa yang bisa dan berani kupersembahkan untuk memurnikan imanku. Mungkin hal ini seperti pedang yang menembus jiwa kita dan untuk sementara kita hanya bisa diam seperti Maria, karena belum mengerti.
