| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 58:9b-14; Lukas 5:27-32 “Kemudian Lewi mengadakan suatu perjamuan besar untuk Dia di rumahnya. Ssejumlah besar pemungut cukai dan orang-orang lain turut makan bersama mereka” (Luk 5:29). |
Injil pada hari ini mengisahkan Lewi yang dipanggil Yesus dan dia pun segera meninggalkan segala sesuatu lalu mengikuti-Nya. Lewi adalah seorang pemungut cukai, orang Yahudi yang bekerja pada penjajah Romawi. Pemungut cukai merupakan sebuah profesi yang dipandang hina dan berdosa karena selain mendapatkan komisi dari pajak yang dipungutnya mereka juga sering memungut pajak lebih dari yang seharusnya untuk memperkaya diri. Dalam kehidupan sosialnya Lewi dijauhi oleh saudara dan bangsanya sendiri karena dianggap sebagai pengkhianat bangsa. Hal ini pasti menjadi pergumulan bagi Lewi. Di satu sisi mungkin ia menikmati kenyamanannya sebagai pemungut cukai yang memiliki penghasilan besar. Di sisi lain ia tahu apa yang dia lakukan salah dan ingin meninggalkannya tetapi ia tidak tahu apa yang harus diperbuat.
Pergumulan Lewi terjawab ketika Yesus tiba-tiba memanggilnya “Ikutlah Aku!”. Tanpa berpikir panjang ia bangkit dan meninggalkan segala sesuatu, lalu mengikuti-Nya. Tindakan Lewi yang tiba-tiba ini menunjukkan keputusan yang radikal ketika dia berjumpa dengan Yesus. Ia berani meninggalkan rumah cukainya, profesinya, tempat kenyamanannya selama ini. Ia seakan menemukan harapan baru dengan mengikuti Yesus, sesuatu yang jauh lebih berharga dari apa yang sudah dia miliki. Tidak berhenti sampai di situ, pengalaman berjumpa dan dipanggil Yesus merupakan pengalaman sukacita bagi Lewi sehingga dia mengadakan perjamuan besar untuk Yesus di rumahnya dan mengundang teman-teman sesama pemungut cukai untuk makan bersama-Nya.
Yesus datang bagi kita semua orang berdosa. Ia tidak datang untuk mereka yang merasa “sehat” atau merasa sudah paling benar seperti kaum Farisi. Ia datang untuk mereka yang sadar bahwa mereka sakit dan butuh pemulihan. Setiap dari kita dipanggil Yesus untuk mengenal dan mengikuti-Nya bukan untuk dihakimi tetapi untuk merasakan kasih-Nya sehingga hidup kita diubahkan. Perjumpaan dengan Yesus dan mengenal-Nya merupakan pengalaman kasih Allah di mana kita merasa diterima sebagai pribadi apa adanya yang banyak dosa dan kelemahan sehingga menuntun kita kepada pertobatan. Namun, panggilan Yesus ini memerlukan respons aktif dari kita. Seperti Lewi yang tanpa berpikir panjang menanggapi panggilan Yesus dengan meninggalkan segala sesuatu, kita pun hendaknya berani meninggalkan “rumah cukai” kita, cara hidup kita yang lama (dosa), dan kenyamanan kita hidup dalam keberdosaan.
Pengalaman pertobatan dan diampuni pasti merupakan pengalaman penuh sukacita karena kita merasakan kasih Allah nyata dalam hidup kita. Namun, pengalaman ini hendaknya tidak berhenti sampai pada diri sendiri saja. Karena sukacita, Lewi mengundang teman-temannya, yang adalah sesama pemungut cukai, untuk mengenal dan makan bersama Yesus. Ia tidak menyimpan keselamatannya sendiri. Ia mengundang teman-teman pemungut cukainya agar mereka juga mengenal Sang Tabib.
Kita yang mengalami sukacita karena pertobatan dan pengampunan juga hendaknya membagikannya kepada orang lain. Kita diajak untuk mengundang saudara kita, teman, kerabat, atau siapa pun di sekitar kita yang sedang dalam pergumulan, “sedang sakit”, untuk mengenal Yesus dan dipulihkan. Mereka pun merasakan sukacita yang sama dengan yang kita rasakan lalu siap berjalan bersama Yesus. Dengan demikian, pertobatan kita merupakan pertobatan yang berbuah, memberi dampak dan menjadi berkat bagi orang lain.
Semoga rahmat Tuhan membantu kita. Amin.
