Semuanya Dinyatakan kepada Orang Kecil ( 16 Juli 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Kitab Keluaran 3:1-6,9-12 dan Injil Matius 11: 25-27. “Aku bersyukur kepada-Mu Bapa, Tuhan langit dan bumi, karena semuanya itu Engkau sembunyikan bagi orang bijak dan orang pandai, tetapi Engkau nyatakan kepada orang kecil” (Matius 11:25)

Pada bacaan Injil hari ini, Yesus bersyukur dan memuji kemurahan Bapa-Nya yang mengungkapkan segala sesuatunya, disembunyikan bagi orang bijak dan pandai, tetapi tidak disembunyikan bagi orang kecil.Bagaimana orang kecil lebih merasakan kehadiran Allah daripada orang cerdik dan pandai?

Kita melihat di sini ada yang dikategorikan kelompok “orang kecil ” dan kelompok “orang bijak dan pandai”. Kelompok “orang kecil” di sini menunjuk kepada murid- murid Yesus dan jemaat -jemaat yang telah “bertobat dan menjadi seperti anak kecil”. Mereka adalah orang biasa, bukan hanya diukur dari kerendahan kedudukannya, melainkan terutama dari kerendahan hatinya, di mana mereka lebih berpasrah dan jujur pada diri sendiri, merasa tidak mempunyai  apa yang dapat disombongkan, diandalkan ataupun dibanggakan dalam kehidupannya. Mereka lebih bersikap menerima apa adanya, dengan ketulusan, kejujuran, dan kerendahan hati. Mereka mungkin miskin dan menderita, tetapi dengan lembut hati mau menanggapi Yesus dengan mengakui tidak-berdayaan mereka. Seperti seorang anak kecil, mereka mampu menerima ajaran-Nya karena mau memberikan ruang bagi diri mereka sendiri dan kepada Tuhan untuk bekerja dan menyertai mereka dalam kehidupan, serta selalu mensyukuri apa pun karunia Tuhan. Mereka diberi karunia untuk memahami rahasia-rahasia Kerajaan Allah dan siapa Yesus, bukan karena pemikiran sendiri, tetapi  karena diwahyukan oleh Allah kepada mereka melalui Yesus.

Sebaliknya kelompok “orang bijak dan pandai” adalah julukan yg menunjuk kepada orang- orang Farisi dan ahli-ahli Taurat yang mahir dalam urusan Taurat dan tradisi nenek moyang. Dengan kepandaiannya itu mereka menantang, menentang, dan menolak Yesus. Mereka cenderung sombong dan mengandalkan kekuatan mereka sendiri. Mereka merasa mempunyai kemampuan, berbicara banyak teori-teori ataupun hal-hal hebat yang telah mereka capai. Mungkin mereka menjadi terlalu sibuk dengan pekerjaan dan hal-hal lainnya sehingga mereka tidak mempunyai waktu luang untuk introspeksi dan merefleksikan bagaimana relasi mereka dengan Tuhan. Mungkin mereka tidak menyadari dan mengingat peran Tuhan dalam kehidupan mereka dan merasa semua pencapaian yang telah mereka dapatkan itu merupakan hasil usaha mereka sendiri. Mereka mengandalkan kekuatannya sendiri dan menjadi sombong,dan tidak  membiarkan Tuhan berperan dan  bekerja dalam kehidupan mereka.  Mereka menutup diri dan menolak peran Tuhan karena kesombongan mereka sendiri sehingga Bapa menyembunyikan semuanya bagi mereka, yang dianggap orang bijak dan pandai.

Dalam kehidupan kita saat ini, apakah kita menyadari bahwa kita juga seringkali  berlomba- lomba untuk menjadi yang terbaik, terdepan, dan ingin dihormati banyak orang? Akibatnya,  kita cenderung memusatkan hati dan pikiran pada diri kita sendiri sehingga misteri- misteri Tuhan tersembunyi dari kita. Kita terlalu sibuk dan fokus pada pencapaian diri sendiri yang membuat kita lupa dan menjauh dari Tuhan lalu menjadi sombong  dan merasa tidak memerlukan penyertaan Tuhan. Seharusnya kita bersikap rendah hati dan bersyukur karena semua yang kita miliki semata-mata berkat kemurahan Tuhan. Rasa syukur, kerendahan hati, dan sikap bergantung kepada Tuhan seperti anak kecil inilah yang membuat Tuhan berkenan menyatakan diri-Nya kepada kita.

Kita diundang untuk berhenti sejenak dan meluangkan waktu untuk introspeksi diri: Apa yang yang telah kita perbuat , bagaimana kita menjalin relasi  yang erat dengan Tuhan, dan bagaimana kita berusaha menjadi semakin baik dan semakin bersikap seperti anak kecil yang mempercayakan dan menggantungkan hidupnya kepada kebaikan Tuhan. Kerendahan hati adalah tanah yang subur tempat benih rahmat Tuhan dapat berakar dan berbuah melimpah. Mari kita memohon rahmat kerendahan hati ini agar kita selalu membiarkan Tuhan berkarya dalam diri kita.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *