Setia Model Apa? ( 21 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Hakim-hakim 11:29-39a dan Matius 22:1-14. “Melihat anaknya itu, Yefta mengoyak pakaiannya sambil berkata, “Aduh, anakku, engkau membuat hatiku hancur luluh, engkau membuat batinku tersiksa! Aku telah mengucapkan nazar kepada TUHAN dan aku tidak dapat menariknya kembali.” (Hak. 11:35)

Membaca awal perikop bacaan-bacaan ini mengingatkan saya tentang janji, kesetiaan, kurban bakaran, dan kondisi orang yang diundang.  Perikop bacaan pertama menggambarkan bagaimana manusia menghadapi musuh-musuhnya (Hak.11:29-39a): berjanji, mendapatkan janji, dan setia menunaikan janji. Rasanya seram membayangkan cara seorang pahlawan perang zaman dulu mengorbankan anak perempuan satu-satunya sebagai kurban bakaran. Berdiri bulu kudukku membayangkan peristiwa itu. Betapa pilunya hati Yefta, sang pahlawan yang harus mengorbankan anak perempuannya yang tak Bernama. Rasa pilunya terasa sampai kini dan getarannya terasa di tulang pembacanya. 

Ketika renungan ini berlanjut, saya membayangkan bagaimana sebagian dari para pejabat publik dan para wakil rakyat di Indonesia dengan mudahnya mengingkari janjinya  dengan melakukan tindak pidana korupsi berjamaah, sistematis, dan terstruktur. Dibandingkan dengan capaian dan reputasi Yefta, para koruptor itu tidak ada-apanya sama sekali, bahkan mengatakan debulah mereka sepertinya masih terlalu bagus. Kondisi yang kurang lebih serupa juga dapat kita temukan pada beberapa profesi lainnya. Kesetiaan pada janji (sumpah jabatan) masih merupakan undangan yang belum ditanggapi sebagai nilai hidup utama bagi sebagian dari mereka.

Injil hari ini menunjukkan dua macam orang yang diundang, yaitu orang yang ada dalam sasaran undangan dan semua orang, termasuk orang-orang jahat dan orang-orang baik. Respons kelompok pertama adalah mengacuhkan. Ketika diundang lagi, mereka tetap tidak mengindahkan: ada yang ke ladang, mengurus usahanya, dan bahkan menangkap hamba-hamba, menyiksa dan membunuhnya. Melihat respons yang demikian, pengundang murka, seperti lazimnya juga kita rasakan. Selanjutnya ia mengirim pasukan untuk membinasakan para pembunuh dan membakar kotanya.

Respons kelompok kedua relatif lebih baik. Mereka hadir, kecuali satu orang yang hadir tanpa berpakaian pesta dan diam saja ketika ditanya. Akibatnya, orang yang bersangkutan dibuang ke dalam kegelapan yang paling dalam, tempat ratap dan kertak gigi.

Perikop injil ini ditutup dengan pesan pokok:  banyak yang dipanggil, tetapi sedikit yang dipilih.

Bulan Juli lalu, ketika ditugaskan mensosialisasikan gender dan pemberdayaan perempuan selama dua hari di kota Batam, saya berjumpa dengan teman lama sejak mahasiswa. Kami berdua kuliah di perguruan negeri yang berbeda. Kami berjumpa di ruang pastoral mahasiswa. Ini pertemuan kedua kami di kota domisilinya. Pertemuan pertama terjadi ketika ada penugasan dari kementerian, ketika anak bungsunya laki-laki masih SD kelas dua. Anaknya dididik di rumah sendiri (home schooling). Teman saya ini kocak, baik hati, aktif, terbuka dan berani menyatakan pendapatnya bila hal itu menyangkut kebenaran dan keadilan.

Dalam satu gurauannya dia membagikan ceritanya, bahwa namanya sudah terdaftar dalam nama yang masuk surga. Kami yang mendengarkan terperangah: kok bisa? Lalu dia menyambungnya, namun masuk surganya belum tentu.

Gurauan ini memang terdengar renyah dan menggugah tawa lebar. Menemukan nama ada dalam daftar panggilan masuk surga merupakan impian hampir semua umat beriman, yang percaya akan adanya surga, kehidupan lain setelah kematian. Kita tahu keyakinan akan kehidupan setelah kematian baru muncul pada masa Deuterokanonika dituliskan. Sebelumnya, dalam Perjanjian Lama, wacana ini tidak muncul. Kalau wafat ya sudah, itu akhir cerita hidup manusia.

Apakah dengan perilaku kita sekarang ini, hari ini, apakah kita masuk kategori orang yang setia? Apakah nama kita tercantum di daftar orang yang masuk surga, masuk lewat pintu atau lewat jendela?

Allah yang maharahim tidak lagi membutuhkan kurban bakaran, melainkan hati yang bertobat dan terungkap dalam perilaku kasih dalam kehidupan sehari-hari. Ayo mari menapaki jalan kebenaran dengan setia dan konsisten agar pantas memasuki Kerajaan Surga.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *