Sikap Jujur dan Berserah Membuang Kekhawatiran ( 31 Januari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 2Sam.12:1-7a.10-17; Markus 4:35-41.
“Mengapa kamu ketakutan? Belmkah kamu percaya?” (Mrk. 4:40)

Kedua bacaan hari ini memperlihatkan satu kebenaran iman yang mendalam: Tuhan Maha Tahu dan selalu hadir dalam hidup kita, baik saat kita jatuh dalam dosa maupun saat kita dilanda ketakutan.

Dalam bacaan pertama (2Sam. 12:1–17), Raja Daud ditegur oleh Nabi Natan. Dosa Daud tidak tersembunyi di hadapan Tuhan. Meskipun ia adalah raja besar dan terhormat, Tuhan melihat segala perbuatannya, bahkan yang dilakukan secara diam-diam. Melalui perumpamaan Nabi Natan, Daud akhirnya disadarkan dan berkata dengan sederhana namun jujur, “Aku telah berdosa kepada Tuhan” (2Sam.12:13).

Pengakuan ini mengajarkan kita bahwa kejujuran di hadapan Tuhan adalah langkah pertama pertobatan sejati. Selama manusia menyangkal kesalahannya, pintu rahmat sulit terbuka. Namun, ketika seseorang rendah hati mengakui dosanya, rahmat Allah mulai bekerja.

Tuhan memang adil, tetapi Ia juga Maha Pengasih. Daud tetap menanggung konsekuensi dosanya, namun Tuhan tidak menolaknya. Ini menunjukkan ajaran iman bahwa Tuhan selalu siap mengampuni orang yang bertobat dengan sungguh, bukan karena kita layak, melainkan karena kasih-Nya yang tak terbatas.

Belas kasih Allah selalu lebih besar daripada dosa manusia. Karena itu, kita tidak perlu takut datang kepada Tuhan dalam Sakramen Tobat; justru di sanalah kita mengalami pemulihan.

Dalam Injil Markus (Mrk. 4:35–41), para murid dilanda badai hebat di danau. Mereka panik, sementara Yesus tampak tidur. Gambaran ini sangat manusiawi: sering kali dalam masalah hidup, kita merasa Tuhan diam dan jauh. Namun, Yesus tetap berada di dalam perahu. Ketika Ia bangun dan meredakan badai, Ia menegur murid-murid-Nya, “Mengapa kamu takut? Mengapa kamu tidak percaya?” Teguran ini menegaskan bahwa percaya kepada Tuhan berarti beriman, dan beriman berarti berserah sepenuhnya kepada Allah dan membuang kekhawatiran.

Iman tidak menjanjikan hidup tanpa badai, tetapi iman memberi keyakinan bahwa Tuhan berkuasa atas badai itu. Saat kita percaya penuh kepada-Nya, ketakutan perlahan digantikan oleh damai. Seperti Daud yang berserah dan para murid yang belajar percaya, kita pun dipanggil untuk hidup dalam iman yang jujur, bertobat, dan penuh kepercayaan.

Semoga firman Tuhan hari ini meneguhkan kita untuk jujur mengakui kesalahan, percaya pada pengampunan Tuhan, dan membuang segala kekhawatiran dalam iman. Amin.

Penulis
Bible Learning Loving The Truth

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *