Sumber Kehidupan (21 Mei 2025)

Renungan dari Bacaan: Kis. 15: 1 – 6 dan Yoh. 15: 1 – 8
“Akulah pokok anggur dan kamulah cabang-cabangnya. Siapa yang tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia, ia berbuah banyak” (Yoh. 15:5).

Apakah mudah mengakui keberhasilan sebagai buah pokok anggur Allah? Lebih mudah mengakui itu adalah prestasi diri sendiri. Ada lagi yang mengakui keberhasilan itu karena pengaruh keluarga. Seorang suami yang berhasil saja, tidak mudah menyatakan bahwa keberhasilannya adalah berkat dukungan istrinya. Zaman ini, orang akan mengatakan keberhasilannya karena pilihan teknologinya yang lebih tepat.

Kalau membaca buku-buku yang dijual di toko-toko buku (kecuali toko buku Rohani), keberhasilan merupakan hasil ketepatan mengambil keputusan mengelola sumber yang dimiliki. Pierre Bourdieu (lahir 1 Agustus 1930 di Denguin, dan meninggal karena kanker paru-paru pada 23 Januari 2002 di Paris), seorang filsuf, antropolog, dan sosiolog Perancis yang banyak mempengaruhi sosiologi modern, mengenalkan kepada kita beragam modal, yaitu modal uang, modal sosial, selain beberapa konsep lainnya seperti habitus, dan dominasi.  Bagi beberapa orang, modal sosial ini penting untuk menggapai keberhasilan. Relasi, backing, koneksi, yang pada zaman perjuangan reformasi menggunakan istilah kolusi dan nepotisme, digunakan untuk menaiki jenjang sosial. Berada di struktur sosial tertinggi dianggap sebagai keberhasilan dan pencapaian penting dalam hidup. Modal sosial dianggap sebagai sumber kehidupan.

Yohanes 15: 1 – 8 mengingatkan kita bahwa semua sumber kehidupan kita, termasuk keberhasilan, ialah Allah. Bahkan Yohanes menegaskan bahwa keunggulan kita terletak bukan hanya sebagai ranting yang berbuah lebat. Ia juga menegaskan bahwa hidup kita yang kering dan tidak berbuah pun akan dirawat dengan dibersihkan, agar berbuah lebih lebat.

Pertanyaan bagi kita semua adalah apakah hidup kita sungguh sudah berbuah lebat? Seberapa lebat buah kasih yang kita hasilkan selama hidup ini? Apakah pengalaman dibersihkan dalam kehidupan sehari-hari (bdk. Yoh 15:2)? Seberapa lekatkah aku pada sumber kehidupan? Apakah sumber kehidupan ini sudah kutempatkan di tempat yang sepantasnya? Apakah sudah menjadi agenda penting hidupku merapat ke sumber kehidupan?

Atau… apakah kita mengalami situasi hidup seperti terpotong, kering, berkumpul dengan para tokoh legendaris, sosialita, namun hidup terasa gersang dan malah serasa dicampakkan ke dalam api lalu dibakar (bdk. Yoh 15:6); seperti orang yang kesepian di tengah keramaian?

Yohanes di masa tuanya memberi pesan agar kita mendengarkan Sabda Allah (bdk. Yoh. 15:3) dan tinggal bersama Yesus (bdk. Yoh. 15:4-7). Bahkan diberi keistimewaan boleh minta apa saja dan dijamin pasti diberi.

Kalau orang zaman ini bilang too good to be true. Zaman krisis ini (termasuk krisis ekonomi), orang-orang yang punya tabungan akan mantap (makan Tabungan). Beberapa teman mengatakan bahwa di beberapa denominasi gereja menjadi lebih penuh dan persembahan bukannya ikut mengalami kontraksi karena krisis, melainkan meningkat. Apakah ini merupakan tanda pengikut-pengikut Yesus sedang merapatkan barisan kepada pokok anggur kehidupannya? Apakah ini tanda perwujudan buah (bdk. Yoh. 15:8)?

Di dunia ini, memang tidak mudah menemukan Allah sebagai pohon anggur kehidupan kita. Lebih banyak hal menarik dan lebih menarik daripada Allah yang tampilannya abstrak bagi banyak orang.

Salah satu sharing semalam yang menarik adalah ketika seorang teman menceritakan bagaimana Allah menyentuh dan menegurnya. Dia menerima gaji ke-4-nya berarti gaji sebagai pegawai tetap yang cuma naik 12,5%, tidak sesuai dengan harapannya. Namun, menyaksikan seorang anak tukang parkir illegal melonjak kegirangan karena mendapatkan tambahan uang parkir yang hanya 0,6% dari tambahan gajinya  itu, sungguh menyentuhnya. Ini pengalaman yang mendekatkannya dengan Allah. Saya yakin teman-teman punya pengalaman berhubungan dengan sumber kehidupan, entah melalui pengalaman sebagai dahan kering, atau ranting yang berbuah lebat.

Memang mewartakan Kerajaan Allah di zaman teknologi ini sungguh memerlukan kreatifitas, agar sungguh berbuah lebat. Pembacaan ulang perikop Yoh. 15:1-8 ini menggemakan kembali ajaran Yesus 2000 tahun lampau tentang pentingnya tetap berada di pohon anggur-Nya.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *