Takutlah akan Allah ( 2 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari bacaan Imamat 25:1.8-17 dan Matius 14:1-12. Janganlah kamu merugikan satu sama lain, tetapi engkau harus takut akan Allahmu, sebab Akulah TUHAN, Allahmu  (Im 25:17)
 

Orang banyak percaya bahwa Yohanes Pembaptis adalah nabi (Mat. 14:5). Namun, Herodes, raja wilayah,  memenggal kepalanya (Mat. 14:10) demi Herodias (Mat. 14:6-9.11). Ketika Herodes mendengar berita tentang Yesus, ia berkata bahwa itu adalah Yohanes yang bangkit dari antara orang mati. Itulah sebabnya kuasa-kuasa itu bekerja di dalam diri Yesus (Mat. 14:2). Pernyataan itu menyiratkan bahwa Herodes setuju bahwa kuasa yang sama bekerja dalam diri Yohanes Pembaptis dan Yesus. Kuasa itu tidak dapat dibendung oleh kematian. Jika demikian, bukankah Herodes selayaknya memperhatikan pesan Yohanes?

Herodes telah berkali-kali ditegur oleh Yohanes, karena melanggar hukum Yahudi. Ia mengambil Herodias untuk dijadikan istri, padahal dia adalah istri Filipus, saudaranya sendiri  (Im. 18:16). Saat itu Herodes juga sudah memiliki permaisuri, yaitu putri dari raja Aretas. Yohanes menyerukan pertobatan, mengajak umat Allah kembali pada perjanjian-Nya. Takut akan Allah berarti melaksanakan perintah-Nya dan mengasihi sesama. Pesan Yohanes, sejalan dengan semangat kekudusan Tahun Yobel yang adalah tahun rahmat Tuhan, pemulihan, pengampunan, perdamaian, dan pembebasan. Tahun itu diperingati setiap tahun kelima puluh setelah lewatnya tujuh kali tujuh tahun sabat. Tahun itu menjadi tahun pembebasan di negeri itu bagi segenap penduduknya dan masing-masing harus pulang kepada tanah miliknya dan kepada kaumnya (Im. 25:10). Umat diajak untuk peduli, bijaksana, dan tidak saling merugikan (Im. 25:14). Teguran Yohanes dapat dilihat sebagai ‘pintu’ peluang untuk memperbaiki kesalahan, mengembalikan apa yang menjadi hak sesama dan berdamai. Tetapi, Herodes dan Herodias tidak bergeming. Mereka memilih untuk mengikuti keinginan diri sendiri dan nafsu duniawi. Dengan membunuh Yohanes, mereka mengira telah berhasil membungkam kebenaran. Namun, konsekuensi tetap harus mereka tanggung, misalnya ketika nanti raja Aretas menyerang Galilea dan Herodes dibuang ke pengasingan. Aib mereka tercatat dan diketahui orang hingga kini, ribuan tahun kemudian.

Perikop ini mengingatkan betapa kuatnya ikatan-ikatan kesenangan duniawi menjerat seseorang dan  menyeretnya untuk melakukan lebih banyak kejahatan lain, demi menutupi aib atau kesalahannya. Dengan berbagai alasan, manusia tergoda untuk tidak setia kepada pasangannya, tidak peduli pada hak dan perasaan pihak yang tersakiti dan dikhianati. Kesuksesan, harta, kemewahan, dan kepuasan duniawi telah membutakan mata hati dan iman. Orang tidak dapat menghindar dari konsekuensi perbuatannya. Ada banyak contoh orang yang marah, lalu berusaha membungkam atau menyakiti pihak yang menunjuk kesalahannya, meskipun dilakukan atas dasar kasih dan tujuan baik. Rasa malu dan marah, mendorong keinginan untuk membalas dengan menyakiti, menghancurkan kredibilitas, bahkan membunuh.  Padahal Tuhan Mahatahu dan adil, pada waktunya akan mengungkap kebenaran dan mengganjar semua tindakan manusia dengan adil. Takut akan Allah, pertama-tama diwujudkan dengan melaksanakan perintah-Nya, lalu rendah hati dalam menerima teguran Tuhan yang disampaikan oleh orang yang dipilih-Nya. Berlaku setia dan menghargai pasangan hanya perwujudan kecil untuk selalu setia kepada ajaran Tuhan. Tanpa kerendahan hati seseorang tidak dapat melihat dan memasuki pintu menuju jalan pertobatan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *