Renungan hari ini dari bacaan Rut 1:1.3-6.14b-16.22 dan Matius 22:3440.“Sebab, ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku’” (Rut 1:16). |
Saat ini keadaan negara kita sedang tidak baik-baik saja. Kehidupan semakin susah. Hidup semakin sulit. Setiap hari banyak orang kehilangan pekerjaan dan penghasilan akibat PHK dan bangkrutnya suatu perusahaan. Banyak orang kesulitan memperoleh makanan, pakaian, tempat tinggal, pekerjaan, dan pendidikan yang layak.
Hal ini membuat banyak orang bertindak nekad. Mereka rela melakukan apa pun, bahkan sekalipun bertentangan dengan hukum seperti mencuri dan merampok, asalkan mereka bisa makan dan anak-anak mereka tidak kelaparan. Akibatnya muncul banyak tindakan main hakim sendiri dalam masyarakat. Bahkan di kalangan para elit politik dan pemimpin masyarakat tumbuh segala bentuk praktik KKN (Korupsi Kolusi Nepotisme) dengan sangat subur dan di-backing oleh oknum aparat keamanan. Hal ini menggambarkan betapa banyak orang menjadi tidak taat hukum dan tidak setia kepada nilai-nilai moral dan kebaikan karena terpaksa.
Kita perlu belajar dari kisah Naomi dan Rut dalam Bacaan I dari Kitab Rut hari ini. Pada masa itu kelaparan melanda tanah Israel sehingga keluarga Naomi pindah ke tanah Moab agar dapat bertahan hidup (Rut 1:1). Naomi kehilangan Elimelekh, suaminya (Rut. 1:3) dan kedua putranya juga meninggal (Rut 1:5). Naomi sangat putus asa sehingga ia berpikir untuk mengganti namanya menjadi ‘Mara’ yang artinya ‘pahit’ (Rut 1:20).
Akan tetapi Rut memilih untuk tetap bertahan dan setia mengikuti Naomi ke mana pun ia pergi. “Tetapi kata Rut, ‘Janganlah desak aku meninggalkan engkau dan pulang dengan tidak mengikuti engkau; sebab ke mana engkau pergi, ke situ jugalah aku pergi, dan di mana engkau bermalam, di situ jugalah aku bermalam: bangsamulah bangsaku dan Allahmulah Allahku’” (Rut 1:16). Ayat ini menunjukkan betapa tinggi dan berharganyanya kesetiaan dan kebersamaan Naomi dan Rut. Naomi tinggal bersama Rut di Bethlehem.
Ketika satu demi satu hal buruk menimpa kita dan orang-orang di sekitar kita, apa yang harus kita lakukan? Kita perlu meneladani sikap Rut dan berkomitmen untuk setia kepada Tuhan dan kepada setiap orang yang telah Dia tempatkan dalam hidup kita (Rut 1:16-17). Bahkan dalam kesetiaan kita, kita mungkin melihat tragedi-tragedi yang terjadi untuk sementara waktu. Namun, kasih yang dipraktikkan dengan setia pada akhirnya lebih kuat dari maut (Kid. 8:6). Pada akhirnya hamba-hamba yang baik dan setia berbagi sukacita dengan Guru mereka, Yesus (Mat. 25:21), yang adalah Saksi yang setia, yang sulung, yang bangkit dari antara orang mati dan yang berkuasa atas raja-raja di bumi (Why. 1:5).
Tuhan mengubah dukacita kita menjadi sukacita (Mzm. 30:12) dan mengerjakan segala sesuatu untuk kebaikan kita (Rm. 8:28) dengan memberi kita kasih karunia untuk setia. Maka kita harus mencintai Tuhan dan sesama dengan tulus. Hal ini ditegaskan oleh Yesus dalam Bacaan Injil Matius hari ini. “Kasihilah Tuhan, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap akal budimu. Kasihilah sesamamu manusia seperti dirimu sendiri” (Mat. 22:37.39). Mencintai dengan tulus adalah mencintai dengan segala kemampuan yang kita miliki, yaitu seluruh hidup kita. Itulah cinta yang Yesus ajarkan pada kita. Apakah kita sudah mencintai Tuhan dan sesama dengan seluruh kekuatan yang kita miliki?
Penulis


2 Responses
Mencintai dengan setia pada Tuhan dan sesama dengan setulus hati kita. Kasih yang tanpa syarat, tanpa balasan, kasih yang walaupun…. apalagi setia pada pergumulan hidup yang terkadang kita merasa sangat berat kita merasa ngga bs menanggungnya. Janji Tuhan adalah ya dan amin. Dia sll ada menolong dan mendewasakan kita, naik kelas dalam proses kehidupan…
AMIN. Puji Tuhan,Luar Biasa,Mbak. Komentar yang sungguh sangat memberkati dan menguatkan kiya semua yang baca. Tetap semangat dan setia melayani Tuhan,Mbak. Salam Sehat,Berkah Dalem! 🙏😇