Renungan dari Bacaan: Kis. 4:1-12 dan Yoh. 21:1-14 “Itu Tuhan” (Yoh. 21:7) |
“Gusti mboten nate sare” adalah pepatah Jawa yang artinya Tuhan tidak pernah tidur. Pepatah ini menegaskan bahwa kesetiaan Tuhan terhadap manusia tak pernah berhenti sedetik pun. Tuhan selalu peduli pada hidup manusia dan tak pernah membiarkan manusia sendirian dalam menghadapi kesulitan.
Injil hari ini bicara tentang penampakkan Tuhan Yesus untuk ketiga kalinya kepada murid-murid-Nya sesudah Ia bangkit dari antara orang mati. Yesus menampakkan diri di pantai Danau Tiberias ketika para murid sedang kecewa karena semalaman tidak mendapatkan ikan. Yesus berdiri di pantai, tetapi mereka tidak tahu bahwa itu Yesus. Kemudian, Yesus menyuruh mereka menebarkan jala ke sebelah kanan. Mereka melakukannya, dan mendapatkan banyak ikan. “Simon Petrus naik ke perahu lalu menghela jala itu ke darat, penuh ikan-ikan besar: seratus lima puluh tiga ekor banyaknya, dan sungguh pun sebanyak itu, jala itu tidak koyak” (Yoh. 21:11).
Dari perikop di atas, ada beberapa hal penting yang dapat menjadi bahan refleksi kita.
Pertama, ada beragam tafsiran tentang angka “153”. Ada yang menafsirkan bahwa 153 merupakan bilangan dari kata-kata Ibrani “ ’ani elohim” artinya Akulah Allah. Menurut Santo Agustinus 153 adalah jumlah 17 bilangan asli pertama (yang berarti 1+2+3+….+17). Angka 17 berasal dari 10 ditambah 7. Angka 10 melambangkan sepuluh perintah Allah (Dekalog) dan 7 melambangkan sapta karunia Roh Kudus. Menurut seorang ahli hewan Yunani (lihat “Oppian Halieutica”), dulu terdapat 153 spesies ikan. Dengan demikian angka 153 menunjukkan “totalitas” atau “kebhinnekaan”. Misi Kristiani akan merangkul semua ragam manusia (Mat. 28:18-20), maka Gereja selalu bersifat “katolik”. Jala yang utuh mungkin melambangkan prinsip kesatuan Gereja.
Kedua, Yesus memerintahkan murid-murid-Nya untuk menebarkan jala di “sebelah kanan” perahu. Dalam kisah penghakiman terakhir (Mat. 25:31-33) Yesus akan “menempatkan domba-domba di sebelah kanan-Nya”.).
Ketiga, kata “menjala ikan” diartikan sebagai pewartaan Injil sampai ke ujung dunia sehingga para pewarta Injil disebut sebagai “penjala manusia”. Keempat, Yesus maju ke depan, mengambil roti dan memberikannya kepada mereka …”. Perikop ini memberikan pesan Ekaristis, dan ikan sering menjadi lambang Ekaristi. Dalam bahasa Yunani ikan disebut ἰχθύς (Yun. ichtus) singkatan dari “Ἰησοῦς Χριστός Θεοῦ Yἱός Σωτήρ” (Yun. Iesous Christos Theou Hyios Soter, artinya Yesus Kristus Putra Allah Penyelamat)
Mengapa para murid tidak mengenali Yesus setelah kebangkitan-Nya?
Beberapa sebab kegagalan dalam mengenali kehadiran Tuhan dalam kisah Kebangkitan minggu ini adalah:
menangis, duka, kehilangan, rasa takut berlebihan, keputusasaan, ketidakpercayaan, harapan akan sesuatu yang berbeda, kurangnya kepercayaan terhadap kesaksian orang lain, dan rasa bersalah (karena menyangkal Yesus)
Terjadi perubahan luar biasa dalam kehidupan para murid. Sesaat sebelum dan sesudah penyaliban, kesebelas rasul bersembunyi dalam ketakutan, namun setelah mengalami Yesus yang bangkit, mereka menjadi penginjil-penginjil yang tidak kenal takut memberitakan Injil, tidak peduli betapa kuatnya perlawanan yang ada. Selain itu, mereka juga akhirnya memberikan hidup mereka demi Injil.
Yesus hadir di dalam kehidupan kita sehari-hari, di tempat-tempat dan dalam situasi-situasi yang paling sederhana sekali pun. Yesus hanya meminta kita mengikuti Sabda-Nya. Seperti para murid yang dengan patuh mengikuti kata-kata Yesus untuk menebarkan jala di sebelah kanan perahu, kita pun diajak untuk mendengarkan Sabda Yesus dalam kehidupan kita tanpa banyak mengeluh dan protes. Terkadang, ketaatan kita dalam hal-hal kecil dapat membawa berkat besar yang tidak terduga.
Penampakan Yesus yang ketiga kalinya kepada para murid menekankan bahwa Yesus sungguh-sungguh bangkit dari antara orang mati. Penampakkan ini menunjukkan kasih sayang dan perhatian Yesus kepada para murid, khususnya Petrus, yang diampuni dan diberi tugas menjadi gembala. Ia dan Yohanes ditangkap oleh imam-imam dan orang Saduki karena memberitakan tentang Yesus. Namun, Petrus dan Yohanes tidak takut dan terus memberitakan tentang Yesus, meskipun nyawa mereka diancam (Kis. 4:1-12). Petrus dan murid-murid lainnya menunjukkan kekuatan iman mereka dengan mengikuti perintah Yesus dan tidak takut menghadapi ancaman dan penangkapan.
Kehidupan ini penuh dengan tantangan dan sering sekali membutakan hati dan pikiran kita untuk melihat dan merasakan kasih penyertaan Kristus. Sering sekali bayangan kegagalan ketidakmampuan menguasai hidup sehingga kita tidak punya keberanian untuk mengambil keputusan untuk tetap hidup dengan mengandalkan Tuhan. Dengan iman, kita bisa mengatakan Itu Tuhan
yang hadir dalam setiap peristiwa hidup kita, dalam diri sesama kita, dalam alam semesta, juga saat mengalami salib dan masalah. Para murid tidak takut berbicara tentang Yesus meskipun mendapat ancaman. Mereka percaya kepada Yesus dan tidak takut menghadapi ancaman apa pun karena Yesus adalah satu-satunya sumber keselamatan dan kebenaran. Amin . Berkah Dalem.
Penulis

