Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 61:9-11 dan Lukas 2:41-51. “Sebab, seperti bumi mengeluarkan tumbuh-tumbuhan dan seperti kebun menumbuhkan benih yang ditaburkan, demikianlah Tuhan ALLAH akan menumbuhan kebenaran dan puji-pujian di depan semua bangsa” (Yes. 6:11) |
Yesus Kristus adalah pribadi yang sangat istimewa. Ia adalah Anak Allah yang dipenuhi kuasa Ilahi, tetapi juga sungguh-sungguh manusia, dengan segala permasalahan dan keterbatasan. Lahir dan dibesarkan dalam asuhan orang tua Yahudi yang taat beribadat, tiap tahun pergi ke Yerusalem untuk merayakan Paskah. Rupanya di sana ada kegiatan anak, yang terpisah dari orang dewasa. Di usia ke-12, Yesus telah membuat semua orang di Bait Allah keheranan, saat menyaksikan kecerdasan-Nya bertanya-jawab. Mungkin saat itu, Yesus semakin menyadari jati-diri dan misi hidup-Nya. Mungkin hati Yesus diliputi oleh perasaan seorang anak yang merasa nyaman ketika berada di dalam rumah Bapa-Nya (bdk. Luk. 2:49).
Secara manusiawi, rasa nyaman membuat seseorang betah berlama-lama untuk tinggal. Mungkin saat itu, orang tua Yesus melihat-Nya sebagai remaja muda yang lupa waktu karena terlalu asik dengan kegiatan-Nya, sehingga Ia tertinggal dari rombongan kerabat yang telah berjalan pulang, satu hari perjalanan jauhnya. Baru setelah tiga hari lamanya cemas mencari-cari, akhirnya Yesus ditemukan dalam Bait Allah, sedang duduk di tengah-tengah para guru agama. Tetapi, ketika Ibu-Nya mempertanyakan hal itu, jawaban Yesus seolah kurang berempati, kata-Nya: “Mengapa kamu mencari Aku? Tidakkah kamu tahu bahwa Aku harus berada di dalam rumah Bapa-Ku?” (Luk. 2:49).
Orang tua Yesus tidak mengerti apa yang dikatakan-Nya kepada mereka (Luk. 2:50), ibu-Nya menyimpan semua hal itu di dalam hatinya (Luk. 2:51b). Tetapi, Yesus pulang bersama mereka ke Nazaret dan tetap hidup dalam asuhan mereka (Luk. 2:51a). Yesus makin dewasa dan bertambah hikmat-Nya, dan makin dikasihi oleh Allah dan manusia (Luk. 2:52). Seakan terpenuhi nubuat nabi: “Keturunanmu akan terkenal di antara bangsa-bangsa, dan anak cucumu di tengah-tengah suku-suku bangsa, sehingga semua orang yang melihat mereka akan mengakui bahwa mereka adalah keturunan yang diberkati TUHAN” (Yes. 61:9).
Kisah ini mengajak saya untuk merenungkan apakah sudah menjalin komunikasi yang baik dengan orang tua. Saya termasuk tipe orang yang tidak nyaman berbagi permasalahan. Saya juga sadar, akibatnya kadang saya disalah-mengerti. Sementara orang tua merasa senang jika hubungan dengan anaknya baik dan harmonis. Mereka cemas jika dalam waktu lama tidak dapat mengetahui kabar perihal anaknya. Padahal sarana komunikasi sekarang ini amat memudahkan untuk terjadinya interaksi. Setiap orang beriman juga dipanggil untuk aktif dalam kegiatan menggereja dan peduli kepada sesama. Tetapi, gereja pertama yang juga perlu diperhatikan, adalah orang tua dan keluarga. Tenggelam dalam berbagai macam kegiatan memang melelahkan fisik dan pikiran. Agar tidak terjadi salah paham, maka komunikasi yang baik tetap perlu diupayakan. Sebab, sikap memikirkan orang lain adalah wujud kedewasaan iman dan berhikmat. Dengan demikian, semua pihak dapat mengalami sukacita yang penuh.
Penulis

