| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 42: 1-7; Yohanes 12: 1-11. “Biarkanlah dia melakukan hal ini mengingat hari penguburan-Ku; sebab orang miskin selalu ada padamu, tetapi Aku tidak akan selalu ada padamu.” |
Seorang perawat di sebuah rumah sakit bercerita tentang seorang pasien tua yang telah lama dirawat karena sakit berat. Banyak orang datang menjenguk, tetapi kebanyakan hanya sebentar lalu pergi. Suatu hari, anak perempuannya datang membawa sebotol kecil minyak wangi. Ia duduk di samping tempat tidur ayahnya, mengusap tangannya perlahan sambil berkata, “Ayah sudah banyak berkorban untuk kami.” Ia kemudian mengoleskan sedikit minyak wangi itu di tangan ayahnya. Aroma lembut memenuhi ruangan yang sederhana itu. Bagi orang lain mungkin itu tampak sepele, tetapi bagi sang ayah itu adalah ungkapan kasih dan penghormatan yang mendalam. Tindakan sederhana itu menunjukkan bahwa kasih yang tulus selalu menemukan cara untuk menghormati orang yang kita kasihi.
Peristiwa dalam Injil Yohanes menghadirkan gambaran yang mirip namun jauh lebih dalam maknanya. Maria datang kepada Yesus dan meminyaki kaki-Nya dengan minyak narwastu murni yang sangat mahal. Ia bahkan menyeka kaki Yesus dengan rambutnya. Tindakannya merupakan ungkapan kasih, penghormatan, dan penyembahan yang tulus kepada Yesus. Maria tampaknya menyadari bahwa Yesus adalah Pribadi yang istimewa, Dia adalah Sang Mesias utusan Allah.
Dalam bacaan pertama, Yesaya 42:1–7 menubuatkan tentang Hamba Tuhan yang dipilih dan diurapi oleh Allah. Kepada-Nya Allah berkenan, dan melalui Dia hukum serta terang bagi bangsa-bangsa dinyatakan. Nubuat Nabi Yesaya ini menemukan penggenapannya dalam diri Yesus. Ia adalah Hamba Tuhan yang setia, taat atas perintah Bapa, yang datang bukan untuk dimuliakan oleh dunia, tetapi untuk melayani dan menanggung penderitaan demi keselamatan manusia.
Tindakan Maria seolah menjadi pengakuan iman, Yesus layak dihormati dan dimuliakan. Maria tidak memikirkan harga minyak itu ataupun penilaian orang lain. Baginya, Yesus begitu berharga sehingga ia ingin memberikan yang terbaik. Walau Yudas mengkritik saat melihat tindakan itu sebagai pemborosan, karena ia menginginkan itu buat kepentingan pribadinya. Namun, Yesus membela Maria. Ia melihat ketulusan hati Maria dan memahami makna dari tindakannya. Kasih Maria justru menjadi keharuman yang memenuhi seluruh rumah. Kasih yang tulus kepada Yesus tidak akan sia-sia. Maria, mungkin tidak sepenuhnya menyadari, sedang mempersiapkan Yesus untuk jalan penderitaan dan wafat-Nya.
Renungan ini mengajak kita menelisik hati terdalam: apakah kita sungguh menghormati dan mengasihi Yesus dalam hidup sehari-hari? Apakah kita menyembah-Nya dengan tulus? Sering kali kita sibuk dengan hal duniawi, dan melupakan memberi yang terbaik bagi Tuhan. Kasih sejati kepada Kristus tampak dalam hati yang rela memberi, melayani, seperti yang Yesus teladankan, dan menempatkan Dia sebagai yang utama.
Mari kita meluangkan waktu khusus untuk berdoa dan bersyukur kepada Tuhan setiap hari. Doa yang tulus dengan menyisihkan waktu buat Tuhan, bukan sisa waktu. Bersyukur atas napas yang kita masih bisa hirup; atas penyertaan-Nya pada kehidupan baik susah, senang, pun kala kita sakit. Menunjukkan kasih kepada Yesus dengan melayani sesama yang butuh pertolongan dengan tulus, tidak takut repot. Terus berusaha menyenangkan hati Tuhan dengan mengikuti perintah dan teladan hidup-Nya yang membawa kita pada keselamatan. Kiranya hidup kita pun menjadi seperti “minyak wangi” yang semerbak, tanda kasih dan penyembahan kepada Yesus, Hamba Tuhan yang dimuliakan.
