Panggilan untuk Hidup Meneladani Kristus (15 Mei 2025)

Renungan dari Bacaan Kis. 13:13-25 dan Yoh. 13:16-20
“Sesungguhnya seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya, ataupun seorang utusan dari pada dia yang mengutusnya.” (Yoh. 13:16)

Dalam Yohanes 13, Yesus melakukan sesuatu yang sangat mengejutkan bagi para murid: Ia membasuh kaki mereka. Ini bukan hanya tindakan pelayanan, tetapi juga pernyataan kasih dan kerendahan hati yang dalam. Pada zaman itu, membasuh kaki adalah tugas seorang hamba, bukan seorang guru atau pemimpin. Namun, Yesus, Tuhan dan Guru mereka, justru merendahkan diri dan melakukan perbuatan tersebut sebagai teladan yang nyata.

Setelah melakukan tindakan itu, Yesus berkata, “Seorang hamba tidaklah lebih tinggi daripada tuannya.” Pernyataan ini sederhana tetapi sarat makna. Sebagai pengikut Kristus, kita dipanggil untuk meneladani cara hidup-Nya, bukan hanya dalam perkataan, tetapi juga dalam sikap hati dan tindakan.

Yesus adalah teladan sempurna dalam kasih, kerendahan hati, ketaatan, dan pengorbanan. Ia tidak datang untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan memberikan nyawa-Nya sebagai tebusan bagi banyak orang (Mat. 20:28). Jika kita mengaku sebagai murid-Nya, hidup kita pun harus mencerminkan sikap Kristus: kerelaan untuk merendahkan hati, setia dalam tugas kecil, dan tidak mencari kemuliaan bagi diri sendiri.

Dalam dunia yang gila hormat dan menghargai kedudukan, hidup meneladani Kristus bukanlah hal yang mudah. Kita lebih sering tergoda untuk mencari posisi, pengaruh, dan pengakuan. Kita lebih ingin dikenal sebagai pemimpin, bukan pelayan. Tetapi, Yesus justru memutarbalikkan nilai dunia: yang terbesar adalah mereka yang melayani (Luk. 22:26).

Hidup meneladani Kristus berarti melepaskan ego, tidak merasa diri lebih penting daripada yang lain. Dalam keluarga, hal ini berarti rela mendahulukan pasangan, orang tua (mertua) maupun anggota keluarga yang lainnya. Di tempat kerja, tidak bersikap semena-mena walau punya kuasa atau kedudukan. Dalam pelayanan, siap melakukan hal-hal sederhana tanpa sorotan maupun pujian.

Yesus tidak hanya memberi kita teladan, tetapi juga memberikan kuasa melalui Roh Kudus agar kita bisa menjalani hidup seperti Dia. Kita tidak bisa meneladani Kristus dengan mengandalkan kekuatan sendiri, tapi oleh kasih karunia dan pembaruan hati setiap hari.

Ketika hidup seperti Kristus, kita tidak hanya menunjukkan kasih dan kebaikan kepada sesama, melainkan juga menyatakan siapa Tuhan itu, karena dunia bisa melihat Kristus melalui hidup kita.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *