Kebaikan yang Disalah-mengerti ( 15 Juli 2025 )

Renunang hari ini dari bacaan Kitab Keluaran 2:1-15A dan Injil Matius 11:20-24. “Apakah engkau bermaksud membunuh aku, sama seperti engkau telah membunuh orang Mesir” Kel. 2:14).

Di tengah perintah seorang laki-laki yang disebut Firaun untuk membinasakan semua anak laki-laki (Kel. 1:22), kelahiran Musa dan pemeliharaannya ditandai dengan karya tiga wanita tanpa nama. Menghadapi ancaman kematian yang digaungkan oleh seorang laki-laki, tiga wanita menampilkan budaya kehidupan. Ketiga wanita ini disebut tanpa nama: ibu Musa, saudari perempuannya, dan putri Firaun. Mereka berani bertindak melawan arus untuk menjamin keberlangsungan kehidupan, dengan menolak budaya maut dan menawarkan budaya kehidupan.

Kakak Musa berdiri di tempat yang agak jauh untuk menunggui dan mengawasi dari jauh bayi laki-laki yang dibaringkan dalam peti dan  diletakkan di tengah-tengan gelagah di tepi Sungai Nil. Dia mengawasi seperti seorang gembala yang baik mengawasi domba-dombanya. Dia bukan pengawas yang pasif, yang hanya berdiri di tempat yang jauh, melainkan aktif dan berinisiatif. Ketika melihat putri Firaun membuka peti dan melihat bayi Musa, ia menyadari ada bahaya yang mengancam hidup bayi Musa. Namun, begitu melihat raut wajah putri Firaun penuh belaskasihan, ia tidak tinggal diam, melainkan langsung mengambil insisiatif untuk memanfaatkan peluang yang ada.

Ia keluar dari persembunyiannya, menemui putri Firaun dan menawarkan jalan keluar: “Perlukah aku pergi memanggil seorang ibu penyusu dari antara orang Ibrani untuk menyusui bayi itu bagi tuan putri?”(Kel. 2:7). Usulnya yang jitu dan bermutu untuk menebar kehidupan, langsung diterima oleh putri Firaun, yang kemudian berkata kepada ibu Musa, “Bawalah bayi ini dan susuilah dia bagiku” (Kel. 2:9).

Betapa indahnya kerjasama yang sangat harmonis di antara tiga wanita yang sama-sama mempromosikan budaya kehidupan. Mereka tidak takut melawan arus jahat, arus yang anti kehidupan. Putri Firaun bahkan melihat anak yang hanya pantas dibunuh, sebagai anaknya sendiri yang harus dipeliharan, dibesarkan baik secara jasmani maupun intelektual. Buah dari kerjasama itu ialah hidup dan berkembangnya Musa menjadi pembela kehidupan dan anti kekerasan.

Ketika Musa yang sudah dewasa melihat seorang Mesir memukul seorang Ibrani, ia tidak bisa tahan menyaksikan kekerasan dan ketidakadilan. Ia pun membunuh orang Mesir itu. Namun, Musa yang belum berpengalaman, bertindak kurang bijaksana. Ia belum mengetahui dan menyadari bahwa selalu ada kemungkinan perbuatan baik dianggap sebagai perbuatan jahat. Salah pengertian dapat berakibat fatal. Musa yang bermaksud membela dan menyelamatkan orang-orang sebangsanya dari penindasan bangsa penindas, justru dianggap sebagai penindas bangsa. Kebaikannya disalah-mengerti sehingga ia terpaksa meninggalkan Mesir dan melarikan diri ke Midian.

Perbuatan baik, betapa pun mulianya, selalu harus dilakukan dengan penuh kewaspadaan agar jangan disalah-mengerti. Apa yang baik bagi kita belum tentu baik bagi orang lain. Musa mengira perbuatannya membunuh orang Mesir akan dihargai tinggi oleh orang sebangsanya.  Kenyataannya justru sebaliknya. Orang Israel takut akan terjadi pembalasan orang Mesir atas pembunuhan itu. Akibatnya, mereka malah menjauhi Musa.

Betapa sering dalam kehidupan sehari-hari kita berbuat baik bagi sesama. Namun, kita melakukannya secara kurang bijaksana. Kita menolong seseorang, tetapi orang menganggap kita mencari muka dan menyaingi dia. Bahkan beberapa orang menganggap perbuatan itu hanyalah kedok untuk menutupi keinginan jahat. Jika kita mengalami tuduhan seperti itu, ada baiknya kita mengundurkan diri untuk berefleksi, seperti Musa yang lari ke Midian. Dalam refleksi itu, kita berharap mendapat pencerahan dari Tuhan, sehingga kemudian kembali untuk melakukan misi serupa dengan cara yang baru: Bukan hanya sesuai dengan kehendakku, melainkan juga sesuai dengan cara dan kehendak Tuhan.

Penulis


Editor

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *