Pajak untuk Kaisar dan Hati untuk Allah ( 17 Agustus 2025 )

Renungan hari ini dari injil Matius 22:15-21. “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.”( Matius 22:21)

Dalam kehidupan ini, sering kali kita dihadapkan pada situasi yang tampaknya tidak memiliki solusi yang baik, di mana setiap pilihan bisa membawa kita ke dalam kesulitan. Ini adalah persis keadaan yang diciptakan oleh orang Farisi dan orang Herodian ketika mereka mendekati Yesus. Meskipun mereka adalah musuh bebuyutan, mereka bersatu dalam satu tujuan: menjebak Yesus dengan pertanyaan yang cerdik dan politis. Pertanyaannya sederhana, “Apakah diperbolehkan membayar pajak kepada Kaisar atau tidak?” Jika Yesus menjawab “Ya,” Ia akan dicap sebagai kolaborator dengan penjajah Romawi, yang akan membuatnya tidak populer di kalangan orang Yahudi. Jika Ia menjawab “Tidak,” Ia akan dicap sebagai pemberontak dan akan ditangkap oleh otoritas Romawi. Di balik pujian palsu mereka tentang kejujuran Yesus, tersembunyi niat jahat untuk menjatuhkan-Nya, sebuah taktik licik yang sering kita temui dalam konflik manusia.

 Yesus tidak terjebak dalam perangkap mereka. Dengan hikmat ilahi-Nya, Ia langsung mengenali niat jahat mereka dan memanggil mereka “orang-orang munafik.” Ia tidak menjawab pertanyaan mereka secara langsung, melainkan membalikkan keadaan dengan meminta mereka menunjukkan mata uang pajak. Ketika mereka membawa dinar, Ia bertanya, “Gambar dan tulisan siapakah ini?” Jawaban mereka : “Gambar dan tulisan Kaisar” adalah kunci untuk menyingkapkan kebenaran yang lebih dalam. Pertanyaan ini memaksa mereka untuk mengakui hubungan mereka dengan otoritas Romawi melalui mata uang yang mereka gunakan setiap hari. Yesus menunjukkan bahwa mereka tidak bisa sepenuhnya melepaskan diri dari sistem duniawi yang mereka benci, karena mereka menggunakan alat-alat dari sistem itu.

Kemudian datanglah pernyataan yang luar biasa, “Berikanlah kepada Kaisar apa yang wajib kamu berikan kepada Kaisar dan kepada Allah apa yang wajib kamu berikan kepada Allah.” Pernyataan ini bukan hanya tentang kewajiban pajak, tetapi sebuah prinsip abadi tentang bagaimana kita harus hidup di dunia ini. Uang koin memiliki gambar dan tulisan Kaisar, sehingga pantas diberikan kembali kepadanya. Logika ini sederhana dan tidak dapat disangkal. Namun, bagian kedua dari pernyataan-Nya jauh lebih mendalam. Jika koin yang memiliki gambar Kaisar harus diberikan kepada Kaisar, lalu apa yang memiliki gambar Allah? Kitab Kejadian 1:27 memberitahu kita bahwa manusia diciptakan menurut gambar dan rupa Allah. Dengan demikian, apa yang wajib kita berikan kepada Allah bukanlah uang atau harta, melainkan diri kita sepenuhnya baik pikiran kita, hati kita, jiwa kita, dan seluruh keberadaan kita.

Renungan hari ini mengajak kita untuk merenungkan keseimbangan antara kewajiban duniawi dan kewajiban rohani. Kita adalah warga negara di dunia ini, dan kita memiliki tanggung jawab untuk mematuhi hukum, membayar pajak, dan berkontribusi pada masyarakat. Namun, pada saat yang sama, kita adalah anak-anak Allah yang memiliki identitas yang jauh lebih tinggi. Kesetiaan kita yang paling utama harus selalu kepada Allah. Tantangannya adalah untuk memastikan bahwa kita tidak begitu sibuk memberikan “apa yang menjadi milik Kaisar” sehingga kita melupakan untuk memberikan “apa yang menjadi milik Allah.” Hidup kita, dengan segala waktu, talenta, dan sumber dayanya, pada hakikatnya adalah milik-Nya. Mari kita pastikan bahwa setiap aspek dari keberadaan kita mencerminkan gambar-Nya dan diberikan kembali kepada-Nya dengan penuh kasih dan ketaatan.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *