Renungan hari ini dari bacaan Hakim-hakim 6:11-24a dan Matius 19:23-30. Malaikat TUHAN menampakkan diri kepadanya dan berfirman kepadanya, demikian: “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani.” (Hak 6:12) |
Tujuh tahun lamanya orang Israel ditindas oleh suku-suku dari timur, Midian dan Amalek, sehingga harus bersembunyi dalam gua-gua di pegunungan. Dalam sengsara dan kemelaratan, mereka berseru kepada TUHAN. Seorang nabi mengingatkan bahwa inilah akibat mereka menyembah ilah orang Amori dan tidak mendengarkan firman TUHAN, Allah Israel (Hak. 6:10). Suatu hari datanglah Malaikat TUHAN dan duduk di bawah pohon tarbantin di Ofra, milik Yoas, orang Abiezer. Ia sekeluarga menyembah Ba’al (Hak. 6:25). Gideon anaknya, sedang mengirik gandum di tempat pemerasan anggur yang tersembunyi.
Malaikat itu menyapa Gideon, “TUHAN menyertai engkau, ya pahlawan yang gagah berani” (Hak. 6:12). Namun, seolah tidak terkesan, ia malah menjawab dengan keluhan dan jeritan hati bangsanya, katanya “Ah, Tuanku, jika TUHAN menyertai kami, mengapa semuanya ini menimpa kami?” Ia berani mempertanyakan, di mana TUHAN yang diceritakan nenek moyang telah menuntun mereka keluar dari Mesir. Menurutnya Tuhan telah tidak peduli dan membuang orang Israel ke dalam cengkeraman orang Midian. Maka TUHAN berpaling kepadanya dan berfirman, “Pergilah dengan kekuatanmu ini dan selamatkanlah orang Israel dari cengkeraman orang Midian. Bukankah Aku yang mengutus engkau!” (Hak. 6:14). Rupanya Tuhan menilai sikap kritis, kepekaan sosial, dan keberanian Gideon dalam menyatakan pendapat, akan menjadi sumber kekuatannya. Namun, pertama-tama, iman kepercayaannya kepada TUHAN harus tumbuh dan diperkuat.
Gideon menjawab, “Maaf, Tuhan, dengan apakah akan kuselamatkan orang Israel? Lihatlah, kaumku yang terkecil di antara suku Manasye dan aku ini yang termuda dalam rumah ayahku.” Alasan logis dari keraguan Gideon dapat dimengerti, maka Tuhan membesarkan hatinya, “Tetapi, Aku akan menyertai engkau, sehingga engkau akan mengalahkan orang Midian,seperti satu orang saja.” (Hak. 6:16).
Gideon ingin percaya, tapi hatinya masih bimbang. Inilah saat genting dari keputusan yang amat penting. Lalu dipikirkannya cara untuk memastikan apakah ini benar-benar kehendak Tuhan bagi dirinya, katanya, “Jikalau aku mendapat kemurahan hati-Mu, berilah kepadaku tanda bahwa Engkau sendirilah yang berfirman kepadaku” (Hak. 6:17). Gideon mengolah seekor anak kambing dan roti tidak beragi, lalu dibawa dan disuguhkan. Malaikat Allah itu berfirman, “Ambillah daging dan roti tidak beragi itu, letakkanlah di atas batu ini dan curahkan kuahnya.” Gideon berbuat demikian. Lalu Malaikat TUHAN mengulurkan ujung tongkat di tangan-Nya dan menyentuh daging dan roti itu. Maka muncullah api dari batu itu dan melahap daging dan roti itu. Lalu Dia menghilang.
Gideon akhirnya sadar bahwa itu Malaikat TUHAN, Allah Israel, katanya, “Celakalah aku, ya Tuhan ALLAH! Sebab aku telah melihat Malaikat TUHAN dengan berhadapan muka.” TUHAN menenangkan dia: “Sejahteralah engkau! Jangan takut, engkau tidak akan mati” (Hak. 6:22-23). Kemudian Gideon mendirikan mezbah bagi TUHAN dan menamainya: TUHAN itu sumber damai sejahtera (Hak. 6:24a).
Setelah melalui proses discerment, Gideon memutuskan untuk percaya dan menjawab panggilan TUHAN. Gideon menghancurkan mezbah Ba’al dan tiang-tiang berhala yang ada di rumah ayahnya (Hak. 6:25). Dia berani menghadapi kemarahan keluarga dan kaumnya, demi TUHAN Allah Israel. Sekarang pun, Tuhan bersabar mendampingi orang-orang pilihan-Nya yang masih berproses, masih dalam tahap pergumulan dan keraguan. Tuhan mengenal potensi setiap orang. Seseorang yang tidak disangka-sangka, mungkin saja terpilih jadi alat-Nya. Mengikut Yesus memang tidak mudah, itulah pintu sempit menuju kehidupan kekal. Namun, kata-Nya, “Setiap orang yang karena nama-Ku meninggalkan rumah, saudara laki-laki atau saudara perempuan atau ayah atau ibu, atau anak-anak atau ladangnya, akan menerima kembali seratus kali lipat dan akan memperoleh hidup yang kekal” (Mat. 19:29).
Yesus mengingatkan bahwa setelah berdesakan melalui pintu yang sempit itu, perjuangan belum selesai. Orang masih perlu berjuang, bertahan di ‘jalan kehidupan’. Banyak orang akan ‘tertinggal’ di tengah jalan. Yang lebih dulu masuk, mungkin menjadi yang terakhir (Mat. 19:30). Hanya sedikit yang berhasil (Mat. 7:14b). Meski terlihat tidak mungkin, bagi Allah dan bersama Dia, segala sesuatu menjadi mungkin (Mat. 19:26).
Penulis

