| Renungan hari ini dari bacaan : 1Makabe 6:1-13; Lukas 20:27-40. “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab bagi-Nya semua orang hidup” (Luk. 20:38). |
Sebagai manusia tentu saja kita tidak luput dari kesalahan. Tidak jarang kita jatuh dalam dosa, bahkan dosa yang sama. Tentu saja ini hal yang manusiawi. Akan tetapi, yang jadi masalah adalah bagaimana kita menyikapi hal tersebut. Banyak orang yang, setelah jatuh ke dalam dosa, bertobat dan berusaha bangkit untuk memperbaiki hidupnya. Namun, tidak sedikit juga yang tidak mau bertobat, tetap hidup dalam dosa dan menipu diri mereka sendiri.
Hidup di dunia merupakan jalan bagi kita, para pengikut Kristus, untuk memperoleh pengampunan dan belas kasih Allah. Oleh sebab itu, kita seharusnya berbuat yang baik dan benar bagi Tuhan dan sesama, supaya kita diizinkan memasuki Kerajaan-Nya yang abadi. Tentu saja hal ini sama seperti pepatah “apa yang kita tabur, itulah yang akan kita tuai”. Raja Antiokhus IV Epifanes menerima ganjaran yang setimpal dengan kejahatan yang dilakukannya kepada Tuhan dan bangsa Israel. Ia mengalami kekalahan dalam pertempuran dan pulang ke tempat asalnya dengan sedih hati.
Bacaan Kitab 1 Makabe hari ini menggambarkan penyesalan Raja Antiokhus atas dosa-dosanya. Ia berkata demikian, “Aku sudah menjadi insaf bahwa oleh karena semuanya itulah maka aku didatangi malapetaka ini. Sungguh aku jatuh binasa dengan sangat sedih hati di negeri yang asing” (1Mak. 6:13). Raja Antiokhus meninggal dengan kematian yang menyedihkan. Ia diserang rasa sakit yang luar biasa di ususnya dan siksaan batin yang tajam (2Mak. 9:5). “Tubuh orang fasik ini dipenuhi cacing-cacing, dan sementara ia masih hidup dalam siksaan yang mengerikan, dagingnya membusuk, sehingga seluruh pasukan menjadi muak karena bau busuk kebusukannya” (2Mak. 9:9).
Kitab Suci mencatat bahwa Raja Antiokhus mati dengan cara demikian karena kekejaman yang dilakukannya terhadap bangsa terpilih (2Mak. 9:5-6). Misalnya, “perempuan-perempuan yang telah menyunat anak-anak mereka dihukum mati, sesuai dengan ketetapan itu, dengan bayi-bayi digantung di leher mereka” (1Mak. 1:60). Namun, setelah pembunuhan massal yang brutal ini dan setelah mencemari Bait Suci, Raja Antiokhus malah menulis surat yang menggambarkan pemerintahannya sebagai pemerintahan yang lemah lembut, baik hati, dan penuh kasih (1Raj. 6:12; 2Raj. 9:26). Hal ini menunjukkan kapasitas manusia yang luar biasa untuk menipu diri sendiri. Seorang manusia dapat bertindak seperti diktator yang kejam namun tetap menganggap dirinya seorang humanitarian yang hebat. Dosa membutakan kita sehingga kita tidak dapat melihat. Kita dapat menyalibkan Yesus dan para pengikut-Nya dan “mengaku melayani Allah” (Yoh. 16:2). Orang-orang dapat dengan kejam memotong-motong bayi yang tak berdaya di dalam rahim dan mengatakan bahwa mereka mencegah pelecehan anak. Untuk mencegah tindakan menipu diri sendiri, penumpahan darah orang yang tidak bersalah, dan menerima upah dosa yang mematikan, kita harus bertobat dan mengakui dosa-dosa kita sekarang. Kita berusaha memperbaiki diri kita dan tidak berbuat dosa lagi. Karena kita percaya bahwa Allah adalah Bapa yang penuh kasih yang mau mengampuni segala dosa dan kesalahan kita, asal kita bertobat dan kembali ke jalan yang benar. Tepat seperti dikatakan dalam Bacaan Injil Lukas hari ini: “Ia bukanlah Allah orang mati, melainkan Allah orang hidup, sebab bagi-Nya semua orang hidup” (Luk. 20:38). Mari kita sungguh-sungguh bertobat di hadapan Allah dan sesama.

3 Responses
Terimakasih bro Karl yang lewat renungannya mengingatkan kita buat tobat sempurna dan tidak munafik. Mau mengakui dg jujur dosa kita dan menyesalinya. Agar berkenan pada kehendak Tuhan yang menginginkan kita selamat sampai di kehidupan kekal.
AMIN. Sama2,Mbak. Tetap semangat dan setia melayani,Mbak. Matur Nuwun,Berkah Dalem! 🙏😇
okiebet https://www.okokiebet.com