| Renungan hari ini dari bacaan 1Makabe 4:36-37. 52-59; Lukas 19:45-48. “Ada tertulis: Rumah-Ku akan menjadi rumah doa. Namun, kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Luk. 19:46). |
Betapa sesak hati Yudas Makabe dan saudara-saudaranya ketika menyaksikan Tempat Kudus sudah hancur, terlantar, dan mezbah dinajiskan oleh musuh yang menyembah berhala (1Mak. 4:26-27). Mereka tidak berhenti pada meratapi dan menyesali apa yang terjadi, melainkan bekerja keras untuk membersihkan Tempat Kudus yang sudah ditumbuhi rumput dan rimbun seperti hutan. Mereka membangunnya kembali hingga akhirnya bisa menahbiskannya dan mempersembahkan kurban di sana.
Betapa sering tempat yang disebut Tempat Kudus, dinajiskan oleh umat manusia. Pada zaman Makabe, tempat kudus dinajiskan oleh orang asing, oleh musuh, yakni Antiokhus IV Epifanes. Ia mendirikan berhala “Kekejian yang Membinasakan” di atas mezbah kurban bakarann (1Mak. 1:54) dan mempersembahkan hewan haram, babi, dan mendirikan mezbah untuk Zeus di dalam Bait Allah. Pada zaman Yesus, Tempat Kudus di Yerusalem dinajiskan justru oleh pemiliknya sendiri, orang Yahudi. Tidak disebutkan oleh Lukas, apa persis yang mereka lakukan. Namun, dari penulis Injil Yohanes (Yoh. 2:13-22) dan dari kata-kata Yesus kita bisa menebaknya: “Ada tertulis: Rumah-Ku akan menjadi rumah doa. Namun, kamu menjadikannya sarang penyamun.” (Luk. 19:46). Mereka telah mengalih-fungsikan Tempat Kudus dari tempat doa, tempat bertemu dengan Tuhan, dan mempersembahkan kurban, menjadi tempat berdosa dan mengorbankan orang. Tempat untuk menunjukkan belas kasih diubah menjadi tempat untuk melakukan transaksi yang menipu dan merampok milik orang yang mau mempersembahkan kurban kepada Tuhan. Ibadah dijegal dan dikorupsi dan dialihkan bukan untuk memuji dan memulyakan Tuhan melainkan untuk kepentingan pribadi.
Bagaimana di zaman kita dewasa ini? Ternyata Tempat Kudus juga masih sering dinajiskan oleh perbuatan-perbuatan yang tidak terpuji para pelayan liturgi dan aktivis-aktivis Gereja yang merasa dirinya sudah sangat saleh. Beberapa orang sakit hati dan mengeluh karena diperlakukan secara kasar, karena adanya orang-orang yang seperti mau menunjukkan kehebatannya dalam gereja. Tempat kudus dinajiskan oleh kepentingan-kepentingan pribadi yang ingin meraih popularitas dan mendapat pengakuan. Akibatnya, gedung gereja seperti penuh dengan tumpukan sampah keangkuhan dan penyalahgunaan wewenang, dan bahkan korupsi. Orang pun tidak merasa nyaman lagi berdoa di gereja.
Haruskah Kristus datang dengan membawa cambuk untuk mengusir kita yang telah memperlakukan Tempat Kudus menjadi ajang pamer diri atau tempat mencari keuntungan tersembunyi? Yudas Makabe telah melakukan pembersihan Tempat Kudus secara radikal. Ia meruntuhkan mezbah lama, dan membangun mezbah yang baru (1Mak.4:45.47). Ada kalanya dibutuhkan keberanian untuk merombak dan mengganti orang-orang yang telah mencemarkan Tempat Kudus dan menggantinya dengan yang baru. Tidak perlu menunggu sampai Kristus sendiri yang bertindak membersihkan Tempat Kudus-Nya.
Akhirnya, kita tidak boleh lupa akan pesan Paulus bahwa yang disebut Bait Allah sekarang ini bukan saja gedung gereja melainkan tubuh kita sendiri: “Tidak tahukah kamu bahwa kamu sekalian adalah bait Allah dan bahwa Roh Allah tinggal di dalam kamu?”(1Kor. 3:16). Barangkali kita telah banyak mencemarkannya sehingga tumpukan sampah iri hati, dengki, benci, dan dendam perlu segera dibersihkan. Bahkan, mungkin seperti Yudas Makabe, kita tidak cukup hanya sekedar membersihkannya, melainkan menghancurkannya terlebih dahulu, menghancurkan kebiasaan buruk dan pola pikir yang sesat. Hanya sesudah itu, kita bisa membangun bait Allah yang baru, yang tidak terkontaminasi oleh keinginan-keinginan yang keduniawian semata-mata.
