| Renungan hari ini dari bacaan Yesaya 11:1-7; Matius 3:1-12.“Bertobatlah, sebab Kerajaan Surga sudah dekat!” (Mat. 3:2). |
Apabila seorang pejabat datang ke sebuah kota, akan ada arak-arakan mobil dan kita mendengar suara sirene (voorijder). Biasanya mata kita akan tetuju kepada mobil atau orang yang berada dalam mobil di belakang voorijder itu, karena di situlah biasanya pejabat itu duduk. Ketika tiba di tujuan, yang disambut bukanlah sang voorijder melainkan sang “tamu” yang keluar dari mobil yang berada dibelakangnya itu. Demikian juga dengan Yohanes Pembaptis yang menjadi “voorijder” saat kedatangan “tamu Agung”, Yesus Kristus, Juru selamat Dunia. Dia bagaikan “Pelopor yang bersedia dilupakan”.
Yohanes Pembaptis adalah anak Zakharia dan Elisabet, sepupu Maria, ibu Yesus. Ia diberi nama “Pembaptis” karena ia membaptis orang-orang sebagai simbol pertobatan mereka. Ia juga membaptis Yesus, namun bukan sebagai simbol pertobatan melainkan mengesahan dan pelantikan Yesus sebagai utusan Tuhan dan Mesias.
Nabi Yesaya menyampaikan nubuat penuh harapan dan penghiburan tentang kedatangan Mesias, Raja Damai, yang digambarkan sebagai “Tunas” dari tunggul Isai (Yes. 11:1-7). Ia menggunakan gambaran tunggul untuk menunjukkan keadaan Israel yang hancur akibat dosa. Namun, dari keadaan yang tampaknya mati, Allah menjanjikan seorang penyelamat yang akan membawa kehidupan baru. Tunas Isai merujuk kepada Yesus Kristus, keturunan Daud, yang akan memulihkan umat-Nya.
Raja Damai keturunan Isai ini akan membawa pemulihan, keadilan, dan kedamaian sejati di bumi. Dia menciptakan kedamaian universal di mana predator dan mangsanya hidup berdampingan. Tunas yang keluar dari tunggul Isai melambangkan Yesus Kristus yang bangkit dari keluarga yang tampak mati dan membawa harapan yang baru. Ketujuh roh pada Yesus, yakni roh hikmat, pengertian, nasihat, keperkasaan, pengetahuan, dan takut akan Tuhan, merupakan dasar pemerintahan-Nya yang adil. Sang Mesias akan memerintah dengan keadilan, tidak berdasarkan penampilan atau pendapat umum, tetapi berdasarkan kebenaran. Gambaran hewan buas dan hewan jinak yang hidup berdampingan menunjukkan pemulihan hubungan yang harmonis di antara seluruh ciptaan di bawah kekuasaan Sang Mesias. Perdamaian ini melambangkan akhir dari semua konflik, kekerasan, dan kerusakan.
Apa makna nubuat Yesaya bagi umat beriman dewasa ini?Nubuat ini memberikan pengharapan bahwa meskipun situasi terlihat suram, namun Tuhan akan selalu memberikan pemulihan dan harapan melalui Kristus. Yesus Kristus berjanji akan membawa perdamaian sejati antara manusia dengan Tuhan dan antar sesama manusia.
Injil hari ini menekankan bahwa Kerajaan Surga sudah dekat. Sebagai jawaban atas berita gembira ini kita diminta untuk bertobat dan menghasilkan buah-buah pertobatan dengan melakukan keadilan dalam keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, serta menjadi pembawa kasih dan kebenaran. Kita perlu mempersiapkan hati agar terbuka menerima Kerajaan Allah dengan mengembangkan hidup dalam persatuan dengan Allah. Misalnya dengan semakin rajin berdoa, membaca dan merenungkan sabda Tuhan, tidak mudah marah atau emosi kepada orang lain serta rajin di dalam kegiatan lingkungan dan menolong sesama yang menderita dan terpinggirkan.
Masa Adven kiranya menjadi kesempatan bagi kita untuk mempersiapkan diri menyambut kedatangan Yesus Kristus, baik secara historis maupun eskatologis dengan sukacita dan harapan. Caranya, bukan hanya dengan bertobat, mengakui dosa dan mengolah batin, melainkan juga berani menjadi saksi Yesus Kristus di dunia, dengan hidup rendah hati, “memperkecil diri” dan memuliakan Kristus.
Paus Paulus VI pernah berkata, “Orang modern lebih mau mendengarkan para saksi iman daripada pengajar, dan kalaupun ia mendengarkan para pengajar, itu disebabkan karena mereka adalah para saksi iman.” (Evangelii Nuntiandi, 41). Jika Natal adalah hari peringatan kasih Allah yang terbesar, sudahkah kita sendiri berbuat sesuatu untuk mempersiapkannya, dengan berbuat kasih kepada sesama yang membutuhkan uluran kasih? Maukah kita sedikit berkorban untuk menyalurkan kasih Tuhan ini? Dengan demikian, pertobatan kita bukanlah pertobatan palsu, melainkan perbuatan yang menunjukkan buah yang nyata dan terlihar secara alami.
“Saya tidak cakap melakukan hal-hal besar, tetapi saya mau melakukan semuanya, hal-hal yang terkecil sekalipun pun, demi kemuliaan Allah yang semakin besar.” (Santo Dominikus Savio)

3 Responses
Pertobatan sejati tidak hanya sekadar rasa menyesal, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku dan karakter, yaitu dengan menunjukkan belas kasih kepada sesama seperti yg dikehendaki Yesus.
Mempersiapkan Natal, dengan berbuat kasih , peduli dan berkorban menyalurkan kasih Tuhan kepada sesama yang membutuhkan uluran kasih.
Tq sis Lucia
Pertobatan sejati tidak hanya sekadar rasa menyesal, tetapi harus menghasilkan perubahan nyata dalam perilaku dan karakter, yaitu dengan menunjukkan belas kasih kepada sesama seperti yg dikehendaki Yesus.
Mempersiapkan Natal, dengan berbuat kasih , peduli dan berkorban menyalurkan kasih Tuhan kepada sesama yang membutuhkan uluran kasih.
Tq sis Lucia
Terimakasih kak Nien atas dukungannya. pertobatan juga memerlukan pengorbanan untuk berubah. Pengorbanan tersebut bisa melalui hal-hal sederhana, seperti berkorban untuk menahan diri dari kesenangan pribadi.