HANYA ORANG SAKIT MEMERLUKAN TABIB ( 17 Januari 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan 1 Samuel 9: 1-4.17-19; Markus 2:13-17.Yesus mendengarnya dan berkata kepada mereka, “Bukan orang sehat yang memerlukan tabib, tetapi orang sakit. Aku datang bukan untuk memanggil orang benar, melainkan orang berdosa” (Markus 2: 17).

Pada saat orang menyadari betapa besar dosa yang dilakukannya, ia merasa bahwa Tuhan akan meninggalkannya, karena dosanya itu tidak terampuni. Hidupnya pun semakin terpuruk dan tidak jarang ia dikucilkan dari pergaulan. Penderitaannya semakin bertambah, karena dia malu untuk datang ke gereja, bertelut di hadirat  Tuhan.

Allah sangat mengasihi manusia, karena manusia adalah ciptaan-Nya yang sempurna, yang segambar dengan Dia. Kehidupan manusia pun dirancang dengan sangat baik. Meskipun demikian, karena sifat egoisnya, manusia berpaling dari Allah. Ia melakukan hal-hal sesuai dengan keinginan dan pikirannya sendiri dan bukannya mematuhi apa yang diperintahkan Allah. Inilah awal kejatuhan manusia ke dalam dosa. Demikian selanjutnya, manusia terus berbuat dosa seperti dikatakan oleh Daniel: Kami telah berbuat dosa dan salah, kami telah berlaku fasik dan telah memberontak, kami telah menyimpang dari perintah dan peraturan-Mu” (Daniel 9:5).

Namun, karena begitu besar kasih-Nya kepada manusia, Allah sendiri turun ke dunia sebagai Juruselamat, dalam wujud Yesus Kristus. Tuhan Yesus bukan manusia yang dianggap “Allah”, melainkan Allah sendiri yang berkenan turun ke dunia dalam wujud manusia, yang bisa merasakan penderitaan fisik manusia berdosa. Ia menanggung hukuman dosa, yaitu maut, yang seharusnya diterima oleh manusia berdosa. Sesungguhnya, seperti dikatakan oleh Lukas,  “Anak Manusia datang untuk mencari dan menyelamatkan yang hilang” (Lukas 19:10).

Pada awal pelayanan publiknya, Yesus memilih dua belas murid, yang berasal bukan dari kalangan orang-orang yang “bersih”, melainkan orang-orang yang dianggap orang berdosa oleh lingkungannya. Misalnya, pada waktu Ia memanggil Lewi sebagai murid-Nya, Lewi adalah pemungut cukai, orang yang dianggap orang berdosa, dan pengkhianat bangsa (Markus 2:14).Bagi Yesus orang berdosa adalah orang yang sakit, orang yang hilang. Sebagai seorang Tabib, Yesus mendatangi mereka. Merekalah yang menjadi prioritas untuk dicari dan diselamatkan. Syaratnya, mereka harus menanggapi panggilan-Nya secara positif dengan bertobat dan percaya kepada Injil.

Apakah kita menyadari diri kita sebagai orang sakit yang membutuhkan tabib? Bila kita tidak sungguh-sungguh menyadari diri sebagai orang berdosa, berarti kita tidak menyadari diri kita sebagai orang sakit. Jika demikian, kita merasa tidak membutuhkan tabib, sehingga Yesus pun tidak datang kepada kita. Marilah kita hening sejenak, melihat masa lalu kita, dosa-dosa yang telah kita lakukan, sehingga muncul kesadaran dalam diri kita bahwa kita sedang sakit dan membutuhkan tabib sejati. Sebab, hanya orang sakit menyadari bahwa ia membutuhkan tabib. Kita beruntung memiliki Tabib di atas segala tabib, yang mampu menyembuhkan kita dari segala macam penyakit, terutama penyakit dosa. Mari kita sambut kedatangannya dengan mengakui segala dosa kita, mengakui bahwa kita membutuhkan Tabib Sejati, dan mengungkapkan penerimaan kita dengan tobat dan iman.

Tuhan berikanlah kami kerendahan hati agar mata kami terbuka dan mampu melihat dosa-dosa dan kelemahan kami, sehingga kami tergerak untuk menemui Tabib Sejati untuk memperoleh kesembuhan.

Penulis

satu Respon

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *