| Renungan hari ini dari bacaan Yoel 2:12-18; Matius 6:1-6.16-18. “Berbaliklah kepada-Ku dengan segenap hatimu, dengan berpuasa, dengan menangis, dan meratap. Koyakkanlah hatimu dan jangan pakaianmu, berbaliklah kepada Tuhan, Allahmu, sebab Ia pengasih dan penyayang, panjang sabar dan berlimpah kasih setia” (Yoel 2:12-13). |
Pada hari ini kita memulai masa prapaskah dengan merayakan Hari Rabu Abu, di mana kita menandai diri dengan abu sebagai lambang kerapuhan dan pertobatan di hadapan Tuhan. Masa prapaskah merupakan masa pertobatan. Namun, perlu diingat bahwa masa pertobatan itu bukan hanya di masa prapaskah, tetapi berlangsung sepanjang masa, sepanjang hidup kita. Pertobatan yang diharapkan adalah pertobatan yang sungguh-sungguh lahir dari hati kita, bukan hanya pada pikiran dan mulut. Pertobatan harus benar-benar ditunjukkan dengan perbuatan dan cara kita menjalin relasi dengan Tuhan dan sesama. Kita perlu untuk memperbaharui diri karena kita semua orang berdosa, yang pernah melawan Tuhan dan sesama dengan sadar dan sengaja. Betapa diri kita ini hina di hadirat Tuhan karena dosa dan salah yang kita lakukan setiap hari.
Hari ini kita memulai masa Prapaskah dengan merayakan Rabu Abu. Abu yang ditorehkan di dahi menjadi tanda kerapuhan kita sebagai manusia dan sekaligus lambang pertobatan di hadapan Tuhan. Prapaskah adalah masa pertobatan. Namun, pertobatan sejati tidak berhenti pada empat puluh hari ini saja. Pertobatan adalah panggilan sepanjang hidup, sebuah sikap batin yang terus-menerus diperbarui dari hari ke hari.
Pertobatan yang dikehendaki Tuhan bukanlah pertobatan lahiriah semata, bukan sekadar di bibir atau dalam pikiran. Pertobatan harus lahir dari hati dan nyata dalam perbuatan, dalam cara kita membangun relasi dengan Tuhan dan sesama. Kita semua adalah pendosa. Kita pernah melawan Tuhan dan sesama, entah dengan sadar atau karena kelalaian. Dosa-dosa harian kita menyadarkan betapa rapuh dan hinanya diri ini di hadapan Allah. Karena itu, kita sungguh membutuhkan pembaruan diri.
Nabi Yoel menyerukan dengan tegas: berbaliklah kepada Tuhan dengan segenap hati. Seruan ini disertai ajakan untuk berpuasa, menangis, dan meratap. Puasa menjadi tanda kesungguhan; menangis dan meratap menjadi ungkapan pedih dan penyesalan atas dosa. Namun, yang terutama bukanlah tindakan lahiriah itu, melainkan hati yang koyak, hati yang remuk, rendah, dan terbuka di hadapan Allah. Tuhan tidak menghendaki sekadar tanda-tanda luar, tetapi perubahan batin yang nyata. Pertanyaannya bagi kita: maukah kita sungguh berbalik kepada-Nya? Bukan dengan setengah hati, melainkan dengan keputusan yang tegas dan penuh.
Dasar pengharapan kita jelas: Tuhan itu pengasih, penyayang, panjang sabar, dan berlimpah kasih setia. Ia tidak lelah menunggu. Ia tidak menutup telinga terhadap doa dan ratap tangis umat-Nya. Ia tidak ingin kehilangan kita, melainkan rindu agar kita kembali. Karena itu, janganlah kita menyepelekan ajakan pertobatan ini. Mintalah hati yang peka untuk mendengar suara-Nya dan keberanian untuk menanggapinya dengan sungguh.
Dalam Injil Matius, Yesus menegaskan tiga jalan konkret untuk menghidupi pertobatan: puasa, sedekah, dan doa. Ketiganya menyentuh seluruh dimensi hidup kita. Puasa menata relasi dengan diri sendiri: kita belajar mengendalikan keegoisan dan kecenderungan badaniah yang tidak sejalan dengan iman. Sedekah menata relasi dengan sesama: kita dipanggil untuk berbagi secara tulus, terutama kepada mereka yang berkekurangan, tanpa mencari pujian atau balasan. Dunia kita yang sarat pencitraan sangat membutuhkan ketulusan yang murni. Doa menata relasi dengan Tuhan: dalam keheningan doa, kita berjumpa dengan-Nya, membuka hati, dan membiarkan Roh-Nya berkarya dalam diri kita.
Yesus juga mengingatkan agar semua praktik iman itu tidak dijadikan tontonan. Kebaikan yang dipamerkan kehilangan kemurniannya. Bapa di surga melihat yang tersembunyi; Ia mengenal hati kita dan Ia sendiri yang akan membalas dengan murah hati.
Maka, di awal Prapaskah ini, marilah kita sungguh mengoyakkan hati, bukan sekadar menjalankan rutinitas rohani. Biarlah abu di dahi mengingatkan bahwa kita rapuh, tetapi juga dicintai. Dengan doa, puasa, dan sedekah yang tulus, kita melangkah dalam pertobatan yang nyata, pertobatan yang lahir dari hati dan berbuah dalam kasih.
