| Renungan hari ini dari bacaan Yohanes 3:1-8 & Kisah Para Rasul 4:23-31. |
Kelahiran seorang anak adalah peristiwa yang penuh keajaiban sekaligus ketegangan. Saat bayi keluar dari rahim ibunya, ia meninggalkan dunia yang sempit, gelap, dan aman menuju dunia yang luas, terang, namun penuh tantangan. Ada tangisan pertama yang menandakan paru-parunya mulai bekerja menghirup oksigen dunia ini. Namun, kelahiran fisik hanyalah awal. Seorang anak harus bertumbuh agar tidak hanya sekadar “ada”, tetapi “hidup” dengan penuh arti.
Dalam Injil hari ini, Nikodemus—seorang penguasa Yahudi yang terhormat—datang menemui Yesus di kegelapan malam. Ia mencari kebenaran, dan Yesus memberinya jawaban yang mengejutkan: “Aku berkata kepadamu, sesungguhnya jika seorang tidak dilahirkan kembali, ia tidak dapat melihat Kerajaan Allah.” Tentu saja, kita tidak menafsirkan ini secara biologis seperti bayangan Nikodemus yang bingung. Yesus menjelaskan bahwa kelahiran yang dimaksud adalah “lahir dari air dan Roh”.
Apa arti sesungguhnya dari kelahiran kembali ini? Yesus ingin kita mengerti bahwa untuk memahami tanda-tanda Kerajaan Surga, logika duniawi saja tidak cukup. Bagi orang dunia, kemuliaan diukur dari mujizat yang megah, kekuasaan, atau hal-hal yang tampak hebat. Yesus menyebut hal-hal ini sebagai “hal-hal duniawi”—sesuatu yang masih bisa ditangkap oleh indra manusia. Namun, ada “berita surgawi” yang jauh lebih mulia dan sulit dipahami: bahwa kemuliaan Allah justru dinyatakan secara paling sempurna saat Anak Manusia ditinggikan di atas kayu salib, seperti ular tembaga yang ditinggikan Musa di padang gurun.
Siapakah yang mampu melihat kemuliaan di balik penderitaan salib? Hanya mereka yang telah dilahirkan dari atas, dari Roh Kudus. Tanpa kelahiran baru, salib hanyalah lambang kekalahan dan kehinaan. Namun bagi mereka yang hidup dalam Roh, salib adalah tanda kasih Allah yang paling bacaan dahsyat dan pintu menuju keselamatan. Inilah metanoia atau pertobatan hati yang sejati: kesediaan untuk meninggalkan kegelapan egoisme dan kenyamanan status duniawi—seperti yang coba dilakukan Nikodemus—untuk berbalik kepada terang Kristus.
Dalam Gereja Katolik, kelahiran baru ini diwujudkan secara sakramental melalui Baptis. Air melambangkan pembersihan dosa, dan Roh melambangkan pemberian hidup ilahi yang baru. Namun, kelahiran kembali bukan sekadar peristiwa masa lalu saat kita bayi. Ia adalah keterbukaan terus-menerus terhadap “Angin” Roh Kudus yang bertiup bebas.
Contoh nyata dari “hidup baru” ini terlihat dalam ke dua ( Kisah Para Rasul 4:23-31.) Jemaat perdana tidak meminta perlindungan dari ancaman penguasa atau kekuatan politik. Sebaliknya, mereka berdoa meminta keberanian (parrhesia). Ketika mereka dipenuhi Roh Kudus, gedung tempat mereka berkumpul goyang. Mereka tidak lagi menjadi “bayi rohani” yang menangis ketakutan dalam “rahim” persembunyian, melainkan keluar dengan keberanian untuk mewartakan firman Allah.
Sebagaimana ditegaskan dalam Katekismus Gereja Katolik (KGK) No. 1215: “Pembaptisan disebut ‘kelahiran kembali melalui air di dalam Roh’, karena ia melambangkan dan melaksanakan kelahiran dari air dan Roh itu, yang tanpanya ‘seorang pun tidak dapat masuk ke dalam Kerajaan Allah’.”
“Satu-satunya syarat agar Roh Kudus dapat bekerja dalam diri kita adalah kerendahan hati untuk mengakui bahwa kita membutuhkan-Nya.”
— Santo Agustinus
Yang harus kita renungkan, Saat menghadapi penderitaan atau kegagalan (salib pribadi), apakah saya mampu melihatnya dengan mata iman sebagai cara Tuhan memurnikan saya, ataukah saya justru menjauh dan kecewa?
Mari kita mohon agar Roh Kudus memperbarui rahmat Baptis kita. Biarkan Roh itu “mengguncang” kemapanan kita, membakar keraguan kita, dan memberikan kita paru-paru rohani yang kuat untuk menghirup udara surgawi. Semoga kita tidak lagi hidup dalam ketakutan daging, melainkan dalam keberanian Roh sebagai saksi-saksi Kristus yang sejati. Amin.
