DILAHIRKAN KEMBALI ( 14 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 4:32-37; Yohanes 3:7b-15.
“Jangan heran jika Aku berkata kepadamu bahwa kamu semua harus dilahirkan dari atas” (Yoh. 3:7).

Nikodemus adalah anggota Sanhedrin, Mahkamah Agung bangsa Yahudi (Yoh. 3:1). Ia memegang “jabatan guru Israel” (Yoh. 3:10). Ia memaham hukum dan dihormati banyak orang. Namun, ketika berhadapan dengan Yesus, ia kebingungan. Ia tidak mengerti bahwa orang harus “dilahirkan kembali” (Yoh. 3:4), harus “dilahirkan dari atas” (Yoh. 3:3), dan dapat “dilahirkan dari air dan Roh” (Yoh. 3:5). Dengan kata lain, sekalipun memiliki pengetahuan dan kedudukan rohani, ia belum memahami kebutuhan terdalam manusia akan pembaruan hidup dari Allah. Seorang yang memiliki pengetahuan agama belum tentu sudah mengalami pembaruan hidup.
Yesus menegaskan hal ini kepada Nikodemus sebagaimana dinyatakan dalam bacaan Injil Yohanes hari ini: “Janganlah engkau heran, karena Aku berkata kepadamu: Kamu harus dilahirkan kembali” (Yoh. 3:7). Perubahan sejati tidak cukup hanya dari luar, melalui aturan, pengetahuan, atau usaha moral. Manusia membutuhkan kelahiran baru dari Allah sendiri. Sebab, kedalaman luka dalam diri manusia tidak bisa disembuhkan hanya dengan usaha manusia. Sejarah dunia, yang penuh dengan kekerasan, ketidakadilan, egoism, dan tipu daya, menjadi cermin bahwa hati mausia tidak cukup hanya diperbaiki, melainkan perlu diperbarui secara radikal.
Hingga hari ini, setelah ribuan tahun, kebanyakan dari kita masih seperti Nikodemus. Kita enggan mengakui kenyataan ini. Kita percaya bahwa kita cukup baik, cukup kuat, cukup mampu. Kita takut bahwa jika kita mengakui kelemahan kita yang paling dalam, kita akan jatuh dalam keputusasaan. Karena itu, kita memilih “harapan” yang dangkal, seolah-olah kita bisa menyelamatkan diri sendiri, tidak menyadari bahwa sifat manusia begitu terluka sehingga tidak dapat diperbaiki atau dikendalikan secara memadai. Kita lebih memilih harapan yang tidak berdasar dan tanpa akal daripada kebenaran yang gamblang.
Namun, Injil hari ini membawa kabar yang membebaskan: kita tidak harus memilih antara menjadi naif atau putus asa. Dalam diri Yesus, Allah memberikan jalan yang baru. Melalui wafat dan kebangkitan-Nya, sebagaimana diwartakan oleh Surat Pertama kepada Jemaat di Korintus (1Kor. 15:3–4), kita menerima keselamatan yang nyata. Dalam baptisan, seperti diajarkan dalam Surat kepada Jemaat di Roma (Rm. 6:3–4), kita dipersatukan dengan kematian dan kebangkitan Kristus. Manusia lama kita disalibkan, dan kita dibangkitkan sebagai ciptaan baru (lih. Gal. 5:24; 6:15).
Kelahiran baru ini bukan sekadar konsep, tetapi sebuah hidup yang nyata. Bacaan dari Kisah Para Rasul menggambarkannya dengan indah: umat yang telah dilahirkan kembali hidup dalam kesatuan hati, saling berbagi, dan tidak ada seorang pun yang berkekurangan. Inilah tanda konkret dari hidup baru dalam Roh: bukan hanya perubahan batin, tetapi juga perubahan cara hidup.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Artikel Lainnya

Share this article

Tertarik menulis artikel?