| Renungan hari ini dari bacaan 1 Petrus 5:6b-14; Markus 16:15-20 “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab Ia yang memelihara kamu” (1Ptr. 5:7) |
Dalam beberapa bulan terakhir ini, situasi kehidupan rasanya semakin sulit. Lapangan pekerjaan semakin sulit, harga BBM dan LPG naik diikuti dengan harga kebutuhan pokok. Banyak keluarga hidup dengan perasaan “berjaga-jaga” terhadap masa depan. Di tingkat global, konflik seperti Perang Rusia-Ukraina, Iran melawan Amerika-Israel atau ketegangan antara China dan Taiwan membuat situasi dunia terasa rapuh. Belum lagi perubahan iklim yang semakin panas, dan perkembangan teknologi yang begitu cepat hingga banyak orang tua merasa tertinggal, sementara anak-anak remaja semakin terpapar pengaruh buruk media sosial. Semua ini menciptakan satu suasana yang mengkhawatirkan dan ketidakpastian.
Di Indonesia kita melihat beberapa professional muda yang berintegritas dan mengabdi pada negara justru dipidanakan, sementara korupsi semakin merajalela. Sepertinya percuma untuk hidup jujur, justru orang yang berkompromi dengan dosa hidupnya sejahtera.
Di tengah dunia seperti itu, firman Tuhan dalam surat 1 Petrus sangat relevan. Petrus tidak menulis kepada orang yang hidup dalam kenyamanan, tetapi kepada mereka yang menghadapi tekanan, ketidakpastian, dan penderitaan.
Kita cenderung lebih merasa aman bila bisa mengetahui apa yang terjadi di masa depan, karena kita bisa mengantisipasi apa yang akan terjadi. Kita ingin memegang kendali. Itu sebabnya para dukun peramal selalu laris. Tetapi, percaya kepada Allah bukan dimulai dengan sebuah kepastian, melainkan sebuah keberserahan.
Rasul Petrus berkata, “Serahkanlah segala kekuatiranmu kepada-Nya, sebab ia yang memelihara kamu.” Ayat ini mengajarkan, ketika kita tidak bisa memegang kendali dan menjadi khawatir, kita diminta untuk melemparkan kekhawatiran itu kepada Allah. Menyerahkan kendali itu kepada Allah. Ini adalah sebuah simbol kepercayaan yang dibangun dari relasi yang erat. Kepercayaan bahwa Tuhan tidak hanya berkuasa, tetapi juga peduli dan akan tetap memelihara hidup kita.
Rasul Petrus berkata, “Rendahkanlah dirimu di bawah tangan Tuhan yang kuat…” Ini bukan sekadar ajakan untuk bersikap rendah hati secara moral, tetapi sebuah undangan untuk melepaskan kendali. Kerendahan hati di hadapan Tuhan berarti mengakui bahwa kita tidak memegang kendali penuh atas hidup kita, dan menyerahkan kendali itu pada Allah.
Ada bagian hidup yang tidak bisa kita atur, yang tidak bisa kita percepat, dan yang tidak bisa kita pahami. Justru di situlah iman diuji: apakah kita tetap percaya bahwa tangan Tuhan kuat dan mampu menopang kita, meskipun situasi di depan mata terasa rapuh dan akan hancur berantakan.
Janjinya jelas: “supaya kamu ditinggikan-Nya pada waktunya.” Ia akan bertindak, tetapi bukan waktu kita, melainkan menurut waktu-Nya.
Namun, kehidupan iman bukan hanya soal ketenangan batin. Petrus mengingatkan, “Sadarlah dan berjaga-jagalah!” Ada musuh nyata, yaitu Iblis, yang digambarkan seperti singa yang mengaum, mencari mangsa. Ini gambaran yang keras. Artinya, kehidupan rohani bukan zona netral. Ada pertempuran. Sering kali, serangan itu datang justru ketika kita lengah, lelah, atau sibuk dengan kekuatiran kita sendiri. Iblis ingin melemahkan iman kita, membuat kita khawatir, atau menawarkan jalan pintas kompromi dengan dosa.
Penderitaan itu nyata, tetapi sifatnya sementara. Sementara kemuliaan yang dijanjikan bersifat kekal. Karena itu, ketika segala pencobaan datang menghimpit; jangan panik, tetapi “lawanlah dia dengan iman yang teguh.” Keteguhan untuk tetap berdiri di atas kebenaran, meskipun tekanan datang. Keteguhan untuk percaya dan menantikan waktu Tuhan. Petrus juga mengingatkan bahwa kita tidak sendirian. “Semua saudaramu di seluruh dunia menanggung penderitaan yang sama.” Ada solidaritas rohani yang sering tidak kita sadari. Apa yang kita alami, juga dialami oleh banyak orang percaya lainnya. Ini seharusnya menguatkan, bukan melemahkan.
Sebab, ada sebuah pengharapan yang kokoh: Allah sendiri yang akan bertindak. Ia disebut sebagai “Allah, sumber segala kasih karunia.” Dia bukan hanya memberi kekuatan sementara, tetapi bekerja secara aktif dalam hidup kita: melengkapi, meneguhkan, menguatkan, dan mengokohkan.
Di tengah dunia yang tidak pasti, dan segala persolana yang kita hadapi mari kita tetap rendah hati dan menyerahkan kendali kepada Allah, bertahan dalam penderitaan dengan pengharapan yang pasti di dalam Yesus Kristus.
Tetaplah setia, dan nantikan Allah bertindak pada waktu-Nya.
