| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 9:1–20; Yohanes 6:52–59 “Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh. 6:56) |
“Siapa saja yang makan daging-Ku dan minum darah-Ku, ia tinggal di dalam Aku dan Aku di dalam dia.” (Yoh. 6:56)
Sabda Yesus dalam Injil hari ini terdengar keras dan sulit diterima, terutama bagi pendengar pada zaman-Nya. Mereka memahami secara harfiah, seolah-olah Yesus mengajak kepada tindakan yang tidak masuk akal. Namun, Yesus tidak sedang berbicara tentang tindakan fisik semata, melainkan tentang suatu misteri yang jauh lebih dalam: persatuan hidup dengan Dia. Yesus menyatakan diri-Nya sebagai Roti Hidup, sumber kehidupan sejati. “Makan” dan “minum” di sini adalah gambaran akan penerimaan total, iman yang hidup, dan kesediaan untuk membiarkan Kristus menjadi pusat serta penggerak seluruh hidup kita. Persatuan ini bukan dangkal atau simbolis belaka, tetapi relasi yang mengubah arah hidup manusia, dari hidup bagi diri sendiri menjadi hidup bagi Allah.
Undangan ini mencapai puncaknya dalam Ekaristi. Dalam perayaan ini, kita tidak sekadar mengenang Yesus, tetapi sungguh berjumpa dengan-Nya secara nyata. Kita menerima Dia, bukan sebagai simbol, tetapi sebagai kehadiran yang hidup. Namun, sering kali Ekaristi kita jalani sebagai rutinitas: datang, menerima, lalu pulang tanpa perubahan berarti. Padahal, setiap kali kita menyambut Tubuh dan Darah Kristus, kita sedang membuka diri untuk diubah. Kita dipanggil untuk “tinggal di dalam Dia,” artinya membiarkan cara berpikir, cara mencintai, dan cara bertindak kita dibentuk oleh Kristus sendiri.
Kisah pertobatan Saulus dalam Kisah Para Rasul memberikan gambaran konkret tentang apa arti persatuan ini. Saulus adalah seorang yang penuh semangat, tetapi arah hidupnya keliru. Ia mengejar dan menganiaya para pengikut Kristus. Namun, satu perjumpaan dengan Yesus di jalan menuju Damsyik mengubah segalanya. Pertobatannya bukan sekadar berhenti dari tindakan buruk, tetapi sebuah transformasi total. Dari seorang penganiaya menjadi pewarta Injil; dari pribadi yang keras menjadi hamba yang rendah hati. Saulus tidak hanya “percaya” kepada Kristus, tetapi membiarkan Kristus hidup di dalam dirinya. Hidupnya kini digerakkan oleh kehendak Tuhan, bukan lagi oleh ambisi pribadi.
Renungan ini mengajak kita untuk melihat kembali pertobatan kita. Sering kali kita merasa cukup karena sudah tidak melakukan dosa besar. Namun, Tuhan menghendaki lebih dari itu: Ia menghendaki perubahan hati yang nyata, yang tampak dalam cara kita hidup sehari-hari. Dalam keluarga, misalnya, kita mungkin masih dikuasai ego ingin dihargai, ingin dimengerti, tetapi enggan memberi diri. Persatuan dengan Kristus menantang kita untuk keluar dari diri sendiri, untuk menjadi “roti yang terpecah” bagi orang lain: melayani tanpa pamrih, mengasihi tanpa syarat, dan mengampuni dengan tulus.
Ekaristi seharusnya tidak berhenti di altar, tetapi berlanjut dalam kehidupan. Setelah menerima Kristus, kita dipanggil untuk menjadi tanda kehadiran-Nya di dunia. Maka, pertanyaannya menjadi sangat personal: apakah hidup kita berubah setelah menerima Ekaristi? Apakah kita semakin sabar, semakin rendah hati, dan semakin mengasihi? Ataukah kita tetap sama, tanpa pertumbuhan?
Hari ini, Tuhan mengundang kita untuk tidak sekadar “datang dan menerima,” tetapi untuk sungguh “tinggal di dalam Dia.” Persatuan dengan Kristus menuntut keberanian untuk diubah. Jika kita membuka hati, Ia akan membentuk kita menjadi pribadi yang baru, pribadi yang hidupnya menjadi kabar baik bagi sesama. Seperti Saulus yang menjadi Paulus, demikian pula kita dipanggil untuk mengalami transformasi: dari hidup yang berpusat pada diri sendiri menjadi hidup yang memancarkan kasih Kristus bagi dunia dan berkat bagi sesama. Kita diundang untuk “memakan” Yesus dan tinggal di dalam-Nya. Artinya, kita membiarkan diri-Nya mematahkan keegoisan kita. Kita bertobat dengan melayani pasangan atau anak tanpa menuntut penghargaan, menjadi “roti yang terpecah” bagi kebahagiaan keluarga kita.
