| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 11: 19-26; Yohanes 10: 22 -30 “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku dan Aku mengenal mereka dan mereka mengikut Aku,” (Yoh. 10:27) |
Dalam Injil Yohanes hari ini, dikisahkan Yesus sedang berjalan di Serambi Salomo ketika orang-orang Yahudi mempertanyakan identitas-Nya sebagai Mesias “Berapa lama lagi Engkau membiarkan kami hidup dalam kebimbangan? Jikalau Engkau Mesias, katakanlah terus terang kepada kami” (Yoh. 10:22-24). Masalah utamanya bukanlah kurangnya bukti atau mukjizat, karena Yesus telah menunjukkan siapa diri-Nya melalui berbagai tindakan dan perkataan. Namun, mereka tetap tidak percaya karena hati mereka belum terbuka. Yesus menegaskan bahwa ketidak percayaan mereka muncul karena mereka tidak termasuk dalam golongan domba-domba-Nya. “Aku telah mengatakannya kepada kamu, tetapi kamu tidak percaya. Pekerjaan-pekerjaan yang Kulakukan dalam nama Bapa-Ku, itulah yang memberikan kesaksian tentang Aku, tetapi kamu tidak percaya, karena kamu tidak termasuk domba-domba-Ku” (ay. 25-26).
Dalam jawaban-Nya, Yesus memberi gambaran yang sangat sederhana: hubungan antara gembala dan domba. Ia berkata “Domba-domba-Ku mendengarkan suara-Ku; Aku mengenal mereka dan mereka mengikuti Aku (ay 27).” Ini menunjukkan bahwa iman bukan sekadar tahu tentang Tuhan, tetapi soal relasi yang hidup. Domba mengenali suara gembalanya karena mereka dekat dan terbiasa bersama. Begitu juga kita kalau kita mau meluangkan waktu bersama Tuhan, kita akan semakin peka terhadap suara-Nya. Artinya, orang yang percaya kepada Yesus adalah mereka yang peka mendengar dan mau hidup sesuai dengan kehendak-Nya. Relasi pribadi dengan Tuhan menjadi kuncinya.
Dalam kehidupan sehari-hari, suara Tuhan sering hadir secara lembut lewat hati nurani, firman yang kita baca, nasihat orang lain, atau peristiwa yang kita alami. Namun, sering kali kita gagal mendengar karena terganggu oleh kesibukan, kekhawatiran, dan keinginan pribadi yang membuat kita lebih memilih mengikuti suara hati sendiri daripada suara Tuhan.
Mengikuti Yesus mungkin tidak selalu mudah karena jalan-Nya sering kali berbeda dengan keinginan pribadi kita. Namun, ada janji luar biasa bagi mereka yang setia: hidup yang kekal dan jaminan bahwa tidak ada satu pun yang dapat merebut kita dari tangan-Nya (ay. 28). Dalam situasi tersulit sekalipun, seperti saat sakit atau dalam ketidakpastian, kita tetap aman dalam genggaman Tuhan yang setia.
Sudahkah kita benar-benar membuka hati untuk mendengar suara Tuhan hari ini? Apakah kita masih berjalan menurut cara kita sendiri, atau sudah siap melangkah mengikuti tuntunan Sang Gembala meskipun jalannya tampak sulit?
