Kasih Allah yang Menghancurkan Sekat ( 27 April 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 11:1-18; Yohanes 10: 11-18.
“Aku mengenal domba-domba-Ku dan domba-domba-Ku mengenal Aku” (Yoh. 10:14)

Seorang ibu setiap hari berjualan makanan kecil di tepi jalan. Di antara banyak orang yang datang dan pergi, ada seorang pemuda berpenampilan kusut yang kerap mendekat. Orang-orang biasanya menjauh darinya. Mereka memandangnya dengan curiga, bahkan jijik. Namun, sang ibu tidak melakukan hal yang sama. Ia menyambut pemuda itu, memberinya makanan, meski tahu ia tidak mampu membayar. Hari demi hari, ibu itu tetap melakukannya dengan tulus, tanpa banyak bicara, tanpa menghakimi.

Suatu hari, pemuda itu berkata lirih, “Semua orang menjauh dari saya, tapi Ibu tetap menerima saya.” Sang ibu tersenyum dan menjawab sederhana, “Setiap orang berhak diperlakukan sebagai manusia.”

Jawaban itu singkat, tetapi sangat dalam. Di tengah dunia yang mudah memberi label, ibu itu memilih kasih. Di tengah kebiasaan manusia membangun jarak, ia justru membuka ruang. Kasih sederhana yang ia tunjukkan meruntuhkan sekat-sekat tak kasatmata yang sering kita bangun: sekat prasangka, sekat ketakutan, sekat penghakiman.

Sikap ibu itu menggambarkan hati Allah seperti yang diwartakan Yesus dalam Injil hari ini: “Akulah gembala yang baik. Gembala yang baik menyerahkan nyawanya bagi domba-dombanya” (Yoh. 10:11). Yesus adalah Gembala yang baik bukan hanya karena Ia memimpin, tetapi karena Ia mengenal, menerima, dan mengasihi. Ia mengenal setiap domba secara pribadi. Ia tidak meninggalkan yang lemah. Ia tidak menolak yang tersesat. Ia tidak menjauh dari yang terluka. Kasih-Nya tidak bersyarat dan tidak pilih kasih.

Yesus bahkan berkata, “Aku mempunyai domba-domba lain yang bukan dari kandang ini; domba-domba itu harus Kutuntun juga (Yoh. 10:16). Sabda ini menunjukkan bahwa kasih Allah selalu lebih luas daripada batas-batas yang dibuat manusia. Kasih-Nya melampaui kelompok, status, latar belakang, bahkan dosa masa lalu seseorang. Apa yang dianggap manusia “di luar,” justru tetap dirangkul oleh Allah.

Pengalaman Petrus dalam Kisah Para Rasul menegaskan kebenaran yang sama. Petrus belajar bahwa Allah tidak membatasi kasih-Nya hanya untuk satu golongan. Roh Kudus dicurahkan kepada semua orang, termasuk mereka yang sebelumnya dianggap “bukan bagian.” Allah tidak bekerja menurut tembok buatan manusia. Ia bekerja menurut kasih-Nya yang memulihkan dan menyatukan.

Namun, justru di situlah kita sering gagal. Dalam hidup sehari-hari, kita mudah sekali membangun sekat-sekat baru. Kita cepat menilai, cepat menolak, cepat menjaga jarak. Kita merasa lebih aman dengan prasangka daripada dengan pengertian. Kita lebih mudah memberi label daripada memberi ruang. Kita lupa bahwa setiap orang adalah “domba” yang dicintai Sang Gembala.

Santa Teresa dari Kalkuta pernah berkata, “Jika kamu menghakimi orang lain, kamu tidak punya waktu untuk mencintai mereka.” Kalimat ini menegur hati kita. Barangkali masalah terbesar kita bukan karena kurang tahu cara berbuat baik, tetapi karena terlalu sibuk menilai sehingga lupa mengasihi.

Karena itu, Sabda Tuhan hari ini bukan hanya untuk direnungkan, tetapi untuk dijalani. Kasih harus menjadi tindakan nyata. Cobalah mendekati seseorang yang selama ini Anda hindari. Sapalah orang yang biasanya Anda abaikan. Berhentilah melihat orang lain dari labelnya, dan mulailah melihat mereka dari martabatnya sebagai anak Allah.

Perubahan itu bisa dimulai dari langkah kecil. Dari tertutup menjadi terbuka: berani menyapa mereka yang berbeda. Dari menghakimi menjadi menerima: belajar memberi kesempatan kedua. Dari acuh menjadi peduli: meluangkan waktu untuk mendengar, menemani, dan menolong dengan tulus. Kasih yang besar selalu dimulai dari kesetiaan dalam hal-hal kecil.

Hari ini, Yesus Sang Gembala yang Baik mengundang kita bukan hanya menjadi domba yang mendengar suara-Nya, tetapi juga menjadi saksi kasih-Nya. Kasih yang menerima. Kasih yang menyembuhkan. Kasih yang menghancurkan sekat-sekat.

Sebab ketika sekat-sekat dalam hati kita runtuh, di situlah kasih Allah mulai bekerja mengubah hidup, menyembuhkan luka, dan mempersatukan kembali umat-Nya.

Penulis

satu Respon

  1. Renungan nya sangat menyentuh hati saya. Sungguh membuat trenyuh disaat menerima kasih yang begitu tulus dan diberi pelukan yg menenangkan, bahkan ketika saya sudah berbuat salah sekalipun. Rasanya saya bisa merasakan kehadiran Tuhan sendiri melalui kasih tulus yang menghancurkan sekat. Terima kasih, renungan nya sangat indah dan memberkati. Semoga senantiasa dikuatkan untuk memberkati lebih banyak orang melalui renungan nya, Amin 😇

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *