Sebuah Peta Untuk Sampai Kepada Bapa ( 3 Mei 2026 )

Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 6:1-7; Yohanes 14:1-12
“Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku” (Yoh. 14:6).

Di makan malam sebelum Paskah, Yesus tahu bahwa Ia akan segera ditangkap dan
disalibkan. Karena itu, Ia memberikan pesan-pesan untuk menguatkan mereka. Ia berkata bahwa Ia akan pergi, tetapi mereka dapat mengikuti-Nya pergi ke sana juga, karena mereka tahu jalan ke sana.

Pesan-pesan ini membuat murid-murid menjadi bingung dan gelisah. Mereka akan ditinggalkan, tentu mereka merasa takut. Mereka juga tidak tahu ke mana Yesus pergi dan bagaimana mencari Dia, tetapi Yesus berkata mereka tahu. Ini seperti sebuah teka-teki.

Yesus kemudian menghibur dan menguatkan mereka. Ia juga memberikan penjelasan lebih lanjut agar mereka tidak menjadi bingung. “Akulah jalan dan kebenaran dan hidup. Tidak ada seorang pun yang datang kepada Bapa, kalau tidak melalui Aku.”

Ada dua penekanan penting di sini: Yesus adalah jalan, dan Bapa adalah tujuan. Banyak orang berhenti pada kekaguman kepada Yesus, tetapi tidak benar-benar berjalan bersama-Nya menuju Bapa. Padahal, iman Kristen bukan hanya tentang mengenal siapa Yesus, tetapi tentang mengikuti Dia sampai tiba di tujuan yang Ia tunjukkan. Mengikuti contoh kehidupan yang telah Ia peragakan: dari Nazaret hingga ke Golgota.

Pertama, Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan. Jalan bukan sekadar suatu peta yang dilihat, tetapi peta itu harus diikuti, dilalui, dijalani. Jalan berbicara tentang sebuah sarana untuk mencapai tujuan tertentu. Ada proses yang harus dilewati di sana. Perlu ada ketaatan mengikuti rute pada peta. Memegang peta membuat kita tahu arah untuk sampai ke tujuan, tapi hanya memegang peta tanpa menjalaninya tidak membuat kita sampai ke tujuan.

Ketika Yesus berkata bahwa Ia adalah jalan, Ia mengundang kita untuk menjalani hidup seperti yang Ia jalani. Mengikuti cara-Nya mengasihi, cara-Nya taat kepada Bapa, cara-Nya merespons penderitaan, bahkan cara-Nya menyangkal diri.

Seringkali kita ingin sampai tujuan dengan cara instan. Kita ingin damai, ingin jaminan keselamatan, ingin hidup kekal tetapi tidak benar-benar berjalan mengikuti jejak Yesus setiap hari. Kita ingin hasil, tetapi menghindari proses. Padahal, yang namanya perjalanan itu tidak ada yang instan. Ini bukan seperti “pintu ke mana saja milik Doraemon” atau “cincin portal Doctor Strange” itu hanya ada di film-film fantasi.

Perjalanan iman adalah proses kehidupan yang nyata. Jalan itu melibatkan keputusan harian: mengampuni ketika disakiti, tetap jujur ketika ada kesempatan untuk curang, tetap setia ketika keadaan tidak mudah. Jika kita mengikuti petunjuk peta itu dengan benar, kita akan sampai ke tujuan: rumah Bapa yang kekal.

Kedua, Yesus berkata bahwa Ia adalah kebenaran. Kebenaran di sini bukan hanya sesuatu yang harus diketahui, tetapi sesuatu yang harus dihidupi. Banyak orang tahu ajaran yang benar, bisa menjelaskannya dengan baik, tetapi hidupnya tidak mencerminkan kebenaran itu. Pengetahuan tanpa praktik tidak membawa perubahan, hanya menghasilkan pendebat-pendebat agamawi yang pandai mengkritik, merasa diri paling benar, tapi kelakuannya melukai orang lain. Ketika kita hanya mengetahui kebenaran, kita bisa menjadi sombong. Tetapi, ketika kita menghidupi kebenaran, kita menjadi serupa dengan Kristus yang lemah lembut dan rendah hati.

Yesus tidak berkata, “Aku menunjukkan kebenaran,” tetapi “Akulah kebenaran.” Yesus mengundang kita untuk mengenal kebenaran diri-Nya Sang Kebenaran. Artinya, kebenaran itu bersifat personal dan harus diwujudkan dalam relasi dengan Dia. Kebenaran bukan hanya sesuatu yang kita pahami, tetapi sesuatu yang kita hidupi. Kebenaran menjadi nyata ketika kita menghidupinya; ketika perkataan kita selaras dengan tindakan, ketika hati kita selaras dengan kehendak Allah.

Menghidupi kebenaran berarti membiarkan firman Tuhan membentuk cara berpikir, berbicara, dan mengambil Keputusan. Jadi bukan sekadar tahu mana yang benar, tetapi memilih yang benar, meskipun itu sulit.

Ketiga, Yesus berkata bahwa Ia adalah hidup. Ini berbicara tentang sumber kehidupan itu sendiri. Tanpa Dia, kita mungkin hidup secara fisik, tetapi kehilangan makna hidup sejati. Yesus berbicara tentang sumber kekuatan dalam perjalanan ini. Kita tidak berjalan dengan kekuatan sendiri. Kita tidak dipanggil untuk sekadar berusaha lebih keras, tetapi untuk hidup di dalam Dia. Dari sanalah kita menerima kekuatan untuk tetap berjalan, bahkan ketika kita lelah.

Semua ini mengarah pada satu tujuan: sampai kepada Bapa. Bapa adalah tujuan akhir dari perjalanan iman kita. Bukan sekadar hidup yang lebih baik, bukan sekadar berkat jasmani, bukan juga sekadar pengalaman rohani, tetapi relasi yang utuh dengan Bapa. Dan Bapa tidak mungkin berelasi dengan orang-orang yang karakternya tidak selaras dengan Dia, yang tidak serupa dengan Yesus.

Jadi, iman bukanlah sebuah pengetahuan bahwa Yesus adalah Tuhan dan juruselamat, bukan sekadar peta yang disimpan, tetapi perjalanan yang dijalani. Yesus sudah menjadi jalannya, dan Bapa adalah tujuannya. Sekarang, bagian kita adalah melangkah setiap hari, berjuang untuk setia, sampai kita benar-benar tiba di rumah Bapa yang baka.

Penulis

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *