| Renungan hari ini dari bacaan Kisah Para Rasul 1:1-11; Matius 28:16-20 “Hai orang-orang Galilea, mengapakah kamu berdiri melihat ke langit? Yesus ini, yang terangkat ke surga meninggalkan kamu, akan datang kembali dengan cara yang sama seperti kamu melihat Dia naik ke surga ” (Kis.1:11) |
Peristiwa kenaikan Yesus ke surga bukanlah akhir dari karya keselamatan-Nya. Justru di tengah peristiwa itu, para murid menerima pengharapan besar: Yesus yang naik ke surga akan datang kembali dalam kemuliaan-Nya. Janji tentang kedatangan kembali Yesus (parousia) menjadi dasar pengharapan iman orang percaya sepanjang zaman.
Namun, ada hal menarik dalam kisah ini. Setelah Yesus terangkat ke surga, para murid hanya berdiri memandang ke langit. Mereka terpaku, bingung, bahkan belum siap berpisah dengan Guru yang mereka kasihi. Dalam keadaan itulah malaikat berkata, “Mengapa kamu berdiri melihat ke langit?” (Kis. 1:11).
Kalimat ini bukan sekadar pertanyaan biasa, melainkan teguran halus agar para murid tidak berhenti pada kekaguman dan penantian pasif. Iman bukan hanya soal memandang ke atas, tetapi juga bergerak ke depan. Murid-murid dipanggil untuk melanjutkan misi Kristus: memberitakan Injil, melayani, dan menjadi saksi-Nya di dunia.
Kisah ini dapat disamakan dengan pengalaman seorang pemuda bernama Gunnar. Suatu hari warga di lingkungannya mengadakan kerja bakti memperbaiki jalan desa yang rusak akibat hujan deras. Semua warga sibuk bekerja: ada yang mengangkut batu, meratakan tanah, dan membersihkan jalan. Di tengah kesibukan itu, Gunnar hanya duduk di pinggir jalan sambil bermain HP. Tubuhnya kuat dan sehat, tetapi hatinya malas untuk terlibat. Dalam pikirannya ia berkata, “Kalau aku bantu, capek. Kalau tidak bantu juga, tidak ada yang marah. Untuk apa repot-repot?”
Sementara jarinya terus menggulir video demi video, Ketua RT datang dan duduk di sampingnya. Ia tidak memarahi Gunnar. Dengan tenang ia berkata, “Di desa ini, kita tidak selalu bekerja untuk mendapatkan upah. Kadang kita ikut kerja bakti karena kita peduli dan peka terhadap kebutuhan lingkungan tempat kita hidup.”
Perkataan sederhana itu menyentuh hati Gunnar. Ia mulai melihat teman-temannya bekerja sambil tertawa bersama. Perlahan ia memasukkan HP ke sakunya, bangkit, lalu ikut bekerja bersama warga lainnya.
Sering kali tanpa sadar kita juga seperti Gunnar, atau bahkan seperti para murid yang hanya berdiri menatap langit. Kita tahu Tuhan hidup, kita percaya Yesus akan datang kembali, tetapi iman itu belum sungguh menggerakkan hidup kita. Kita mudah terjebak dalam “bengong rohani”: banyak mendengar firman, tetapi sedikit bertindak; banyak berharap, tetapi enggan melayani; banyak menunggu Tuhan bekerja, tetapi malas mengambil bagian dalam pekerjaan-Nya.
Di sisi lain, ada pula “bengong duniawi,” yaitu sikap hidup yang hanya memikirkan keuntungan diri sendiri. Hati menjadi pasif, acuh, dan tidak peka terhadap kebutuhan sesama maupun panggilan Tuhan.
Hari ini Tuhan mengingatkan kita bahwa penantian akan kedatangan Kristus bukanlah penantian yang pasif. Kita dipanggil untuk bangkit, bergerak, dan hidup bermisi. Menantikan Tuhan berarti hidup setia, peduli, mau melayani, dan berani menjadi saksi kasih-Nya di tengah dunia.
Jangan hanya menatap langit, tetapi berjalanlah melakukan kehendak Tuhan. Jangan hanya kagum kepada Yesus, tetapi hiduplah sebagai murid-Nya.
Doa:
Ya Tuhan yang Maha Pengasih, ajarlah kami untuk tidak hanya memandang-Mu tanpa tindakan iman yang nyata. Bangkitkan hati kami agar semakin peka, setia, dan berani menjalani misi-Mu di dunia ini. Mampukan kami hidup dengan iman yang aktif sambil menantikan kedatangan-Mu kembali. Amin.
